Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Belajar Nyetir Mobil (1)

Posted by BunDit on February 5, 2017

Tulisan ini hanya untuk mendokumentasikan proses belajar nyetir mobil. Tidak bermaksud sok apalagi pamer. Lagian apa sih yang dipamerin. mobilnya juga mobil sejuta umat kok :D. Kalau mobilnya Ferrari, baru deh saya niat pamer hihi.

———————————————————————————————

bunda-nyetir-1

Menyetir mobil bagi sebagian orang adalah hal yang biasa. Apalagi bagi yang sedari kecil terbiasa dengan benda bernama mobil karena orang tuanya telah memilikinya. Dan itu tidak berlaku bagi saya. Dari saya dalam kandungan sampai bekerja pun orang tua saya tidak mampu membeli mobil. Saya yang saat itu bekerja dan berpenghasilanpun tidak terbersit keinginan untuk membeli mobil. Alasannya ya karena belum bisa menyetir dan saat itu masih gadis serta tinggal di kos-kosan yang memiliki lahan parkir mobil yang terbatas. Lagian karena masih sendirian saya merasa naik angkutan umum atau naik taksi lebih praktis.

Setelah menikah dan memiliki anak baru deh merasa perlu memiliki mobil. Kalau pergi2 jauh bisa dengan leluasa membawa printilan2 keperluan anak. Anak juga nyaman saat tertidur di perjalanan. Waktu pertama kali punya mobil pun, suami juga belum bisa nyetir, jadi harus kursus dulu hahaha. Begitulah fenomena golongan menengah yang berasal dari keluarga golongan bawah, saat dewasa mampu membeli mobil namun belum bisa nyetir hehe. Banyak teman kantor yang sedari SMP sudah bisa menyetir karena orangtuanya memiliki mobil.

Sekitar 6 tahun lalu saya dan suami mulai belajar nyetir lewat kursus menyetir dekat rumah. Waktu itu 6x pertemuan @1 jam. Saya baru tahu ternyata mobil yang digunakan di kursus menyetir itu dimodifikasi, di sisi pemumpang samping driver yang ditempati instrukturnya, dipasangi juga pedal rem dan kopling. Mungkin untuk antisipasi jika si driver yang sedang belajar nyelonong dari track hehe. Kopling dan rem tambahan itu pula yang sering membuat saya curiga saat setiran saya terasa enak dan lancar. Jangan-jangan ada campur tangan eh campur kaki nya sang instruktur 😀 .

Dulu saat saya belajar nyetir, kadang mobil mengarah ke lokasi cabang kursus yang lain untuk menjemput beberapa orang yang kursus untuk bergantian mobil dengan saya. Rata-rata yang saya temui di kursus mobil adalah mahasiswa/mahasiswi dan bapak ibu setengah baya. Saya rasa bapak ibu itu juga baru punya mobil sehingga perlu kursus, kayak kami.

Berbekal kursus setir mobil selama 6 jam itu suami tiap pagi2 keliling Kota Harapan Indah untuk memperlancar menyetir. Tapi tidak dengan saya, ilmu yang didapat dari kursus menyetir teronggok begitu saja. Setiap kali menyaksikan bagaimana ruwetnya rute jalan dari rumah ke kantor yang dijejali angkot dan sepeda motor yang selap selip dengan lincahnya di antara mobil2 pribadi, nyali saya langsung ciut. Berbagai ketakutan menyesaki diri saya. Bagaimana kalau ntar nyenggol mobil lain atau motor. Bagaimana nanti kalau macet pas jalan nanjak, Bagaimana nanti kalau ini…kalau itu. Jadi bertahun-tahun saya didera ketakutan atas kejadian yang belum terjadi. Saya sadar, itu hanya ketakutan pikiran. Tapi tetap saja nyali saya tidak juga muncul.

Practice makes perfect. Dan saat suami sudah berani nyetir sampai jogja, saya masih jalan ditempat. Saat suami tidak ada dirumah dan harus keluar rumah cukup jauh bersama Dita. saya hanya bisa tersenyum kecut saat melihat mobil terparkir manis di car port dan saya tidak berani menyetirnya. Untuk sesaat timbul semangat untuk mengumpulkan nyali menyetir. Tapi semangatnya selalu hangat-hangat tahi ayam. Besok-besoknya lagi berkutat lagi dengan zona nyaman, nebeng-naik angkot-naik taksi :D. Sindiran dari teman2 kantor pun tak membuat saya bisa segera move on.

Namun selama saya suka nebeng temen kantor atau bepergian naik mobil sama suami, saya suka merhatiin si driver menyetir. Jadi tahu… oh begitu caranya kalau uyel2an dengan sepeda motor yang gak mau ngalah, oh begitu caranya kalau lewatin jalan sempit, oh begitu caranya saat macet di tanjakan, oh begitu  caranya parkir mobil mundur atau parallel dll. Setidaknya saya tau secara teoritis.

Akhir 2013, saya harus pulang ke Jogja untuk menghadiri pernikahan teman kantor. Karena suami tidak bisa mengantar, saya bersama Dita mudik duluan naik KA. Sesampai tujuan di stasiun Yogyakarta, dijemput ibu dengan mobil mungilnya. Nah, saat perjalanan dari stasiun menuju ARITA disetirin ibu itu hati saya porak poranda dan luluh lantak (bahasanya lebay banget hehehe). Saat itu ibu saya sudah berumur 65 tahun dan menyetiri anaknya yang sudah sangat dewasa ini. Ya Allah, saya merasa menjadi anak durhaka saat itu, Harusnya saya yang dibelakang setir dan ibu saya bersantai di sebelah saya.

Mobilitas ibu memang cukup tinggi karena harus sering belanja kebutuhan ARITA. Biasanya ibu belanja ke toko Ramai di Malioboro. Jarak ARITA yang lokasinya di dekat pantai Parangtritis ke kota Yogyakarta sekitar 30an km. Dulu saat saya pulkam, saya sering mengantar ibu untuk kulakan ke kota Jogja menggunakan motor. Jika tidak ada anak2nya di rumah, ya terpakasa ibu sendiri yang naik motor ke kota. Jarak 30km itu lumayan jauh jika ditempuh dengan motor. Saya saja suka merasa pantat menjadi panas melekat terus di jok motor. Belum lagi jika jogja sedang terik-teriknya atau hujan deras, tidak nyaman menggunakan motor dalam jarak jauh. Makanya karena ibu merasa fisik sudah semakin tidak kuat naik motor untuk jarak jauh, sehingga ibu merasa perlu untuk bisa menyetir mobil.

Ibu belajar menyetir sejak usis 60 tahun. Saat itu ibu membeli mobil bekas kemudian kursus. Setelah memperoleh SIM A, setiap hari ibu memperlancar menyetir. Saat itu walau saya tidak di Jogja, setiap kali ibu cerita mau membawa mobil kemana gitu, saya yang justru khawatir, takut ibu saya kenapa2 di jalan. Kata ibu mobil pertama itu sudah babak bundas, lecet sana sini dan penyok sana sini karena ibu belum mahir. Biasanya nyerempet tembok saat parkir. Namun lama kelamaan ibu sudah makin lancar nyetirnya sehingga dengan suka cita menjemput anak-anaknya.

Melihat semangat ibu saya yang diusia senjanya masih berusaha keras bisa menyetir mobil, saya malu. MALU SEKALI. Apalagi saat merasakan ibu saya menyetiri saya, muka saya serasa ditampar bolak balik. Maka sejak saat itu saya bertekad bulat harus bisa nyetir. HARUS.

Atas dorongan suami juga, sejak pertengahan 2015, saya mulai belajar lagi nyetir mobil. Awalnya pengin kursus lagi. Tapi suami bilang tidak usah kursus, dia yang mau ngajarin. Akhirnya tiap sabtu dan minggu pagi, menuju Kota Harapan Indah. Kadang sabtu tidak bisa ya di hari minggu atau sebaliknya. Kadang sabtu minggu off. Karena Kota Harapan Indah masih dalam tahap pembangunan, di sana masih banyak lahan yang kosong. Yang belajar mobil disana pun sangat banyak. Kadang sabtu atau minggu pagi pengin nyantai sejenak di rumah pun tidak diamini oleh Ayahnya Dita, kata suami kalau niat belajar nyetir mobil harus rutin, lagian nanti keburu KHI melarang belajar mobil di lahannya.

belajar-nyetir-2

Mulailah belajar maju berhenti maju berhenti di tanah yang datar, begituuuu terus berhari-hari supaya  dapet feeling koplingnya. Oh iya saya belajarnya pakai mobil manual. Kata suami harus bisa manual dulu. Setelah agak lancar baru belajar maju-berhenti-maju-berhenti di tanjakan, ini yang paling susah. Mesin mati mulu. Dita ketawa ngakak2 kalau injekan kopling Bundanya tidak pas sehingga mesin mati2 mulu hehehe. Suami juga cukup galak ngajarinnya, jadi kadang kita ribut sendiri. Saya manyun. Dita cuma senyam senyum.

Selama latihan nyetir di KHI, beberapa kali membaca berita ada mobil yang nyemplung di kali. Pernah paginya saya belajar, sorenya ada berita mobil nyemplung di area saya latihan nyetir. Kadang ini bikin nyali mendadak ciut. Tapi latihan harus tetap berjalan demi bisa menyetiri ibu tercinta di Jogja.

bunda-nyetir-5

Dan latihan nyetir mobil tak terasa hampir 5 bulan.

…to be continued… Belajar Nyetir Mobil (2)

Advertisements

4 Responses to “Belajar Nyetir Mobil (1)”

  1. […] Belajar Nyetir Mobil (1) […]

  2. keren BunDhit, selamat ngeblog lagi ya

    Amin. Thanks bun 🙂

  3. Simply want to say your article is as astonishing. The clarity in your submit is simply spectacular and i can assume you are knowledgeable on this subject. Fine along with your permission let me to clutch your feed to stay up to date with drawing close post. Thank you one million and please carry on the enjoyable work.|

  4. Keke Naima said

    Hebat semangat ibunya. Usia 60 tahun masih semangat belajar nyetir 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: