Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

(Gak) Mudik Lebaran 2013 #2 : Jalan-jalan ke Ancol

Posted by BunDit on September 12, 2013

Karena sebelum lebaran, Dita di rumah mulu, maka beberapa hari menjelang hari H lebaran, Ayah punya rencana mengajak kami jalan-jalan ke Ancol pas hari H. Awalnya Ayah berkeinginan untuk nginap semalam di hotel dalam kawasan Ancol. Bunda semangat. Langsung deh kepikir menginap di Mercure Hotel. Mei 2012, Bunda bersama teman-teman kos pernah nginap semalam di sana waktu acara Farewell Party tante Lusi yang akan menikah dan diboyong suaminya ke Amrik. Hotelnya lumayan bagus, ada kolam renang di belakang hotel yang langsung berbatasan dengan pantai. Bunda juga sempat membaca review Mercure Hotel Ancol dari blog Bunda Rully, jadi makin pengin nginep ber-3 ke sana.

Mulailah Bunda menelpon Mercure Hotel Ancol, dan ternyata tgl 8-9 Agustus 2013, semua kamar fully booked. Bahkan baru ada kamar kosong sampe tgl 13 Agustus. Ck ck ck, sepertinya yang gak mudik dan ditinggal ART nya pulkam memilih menginap di hotel hehehe. Kalau bukan Mercure, Bunda memilih gak jadi nginep deh. Soalnya hotel di dalam kawasan Ancol selain Mercure adalah Putri Duyung Cottage, yang menurut temen, suasana cottage nya agak-agak suram, jadi serem deh. Mohon maaf jika info ini tidak benar🙂. Tapi buat memuaskan rasa penasaran, Bunda mencoba telpon ke Putri Duyung Cottage, masih ada kamar di tgl 8, tapi harganya sudah mahal. Trus googling lagi, nemu hotel Aston yang deket Ancol tapi di luar kawasan Ancol. Bunda telpon dan tanya rate nya. Pokoknya cari semua info baru dilaporin ke ayah. Eh ternyata Ayah gak mau kalau di luar kawasan Ancol. Akhirnya diputuskan kapan-kapan lagi aja nginep di Mercure😀

Jadinya kami ke Ancol H+1 lebaran alias tgl 9 Agustus 2013. Dan karena berdasarkan update berita kalau H+1 jalanan di Jakarta cukup lengang, kami memutuskan melewati jalan non tol. Sambil menikmati nikmatnya suasana jalanan Jakarta yang sepi, kami menuju ke Ancol lewat Jl Raya Bekasi-Kawasan Industri PulGad-Pemuda-Pramuka-Salemba-Gunung Sahari, mentok sampai Ancol deh. Dan memang saat itu jalanan di Jakarta bagaikan surga bagi pengendara mobil, blasss kagak ade macet-macetnye😀.

Di sepanjang jalan Gunung Sahari, terlihat di depan kami, banyak mobil bak terbuka yang dijejali anak-anak dan orangtua yang ingin menikmati liburan lebaran. Dari bawaan yang dipegangnya seperti pelampung dll bisa ditebak mereka menuju ke Ancol. Meski harus berbagi tempat duduk lesehan dengan rombongannya di mobil dan menahan terik matahari yang cukup menyengat, wajah mereka terlihat ceria menebar kebahagiaan demi bisa bersenang-senang di Ancol.

Dan sudah kami duga, menjelang kawasan Ancol, jalanan mulai padat dengan mobil-mobil yang mengarah ke tujuan yang sama. Namun saat memasuki pintu gerbang Ancol, antrian mobil untuk membeli tiket tidak begitu padat. Kemungkinan karena saat itu jarum pendek di jam belum juga menunjuk ke angka 10. Setelah petugas memeriksa dan menghitung jumlah kepala yang berada dalam mobil, kamipun segera membayar tiket dan meluncur memasuki kawasan Ancol.

Sekedar informasi, harga tiket masuk 17.500 IDR/orang, mobil 20.000. Jadi buat masuk ke kawasan Ancol, kami merogoh dompet (17.500 x 3) + 20.000 = 72.500 IDR🙂

Karena dari jauh-jauh hari Dita pengin melukis di Ancol ini, Ayah langsung mengarahkan mobil ke Pasar Seni Ancol. Jam 10 pagi memang pengunjung masih sepi. Kios-kios lukisan di sana pun juga sebagian ada yang belum buka. Jadi kami hanya berjalan berkeliling di sana. Bunda sempat tanya dengan petugas di sana mengenai workshop melukis di sana. Ternyata berdasar info petugas, workshop melukis baru diselenggarakan jika ada pameran. Dita sempat kecewa karena tidak bisa melukis. Jadi di Pasar Seni kami hanya melihat-lihat koleksi lukisan dan berfoto2.

Pasar-Seni-Ancol-web

Dari rumah kami memang sudah merencanakan tujuan-tujuan kami ke Ancol. Dita sudah kami tanya apakah pengin berenang, katanya tidak. Makanya Bunda tidak membawaka baju renang yang artinya tujuan ke Atlantis dan pantai, kami coret. Kalau Dufan, untuk anak 5 tahun menurut Bunda tidak banyak yang bisa dimainkan, paling ke Dunia Boneka dan Kincir Raksasa hehe. Jadi kami hanya merencanakan 3 tempat yaitu Pasar Seni, naik Gondola (yang ini Bunda belum pernah jadi pengin hehehe) trus yang terakhir ke Gelanggang Samudera. Kalau waktunya masih, mampir ke Sea World. Walaupun Dita sudah pernah juga ke Sea World awal 2010 bareng sepupunya, dik Titha.

Akhirnya dari Pasar Seni, kami meluncur mencari parkiran mobil yang dekat dengan tujuan kami selanjutnya. Kebetulan lokasi Gondola dan Gelanggang Samudera sangat berdekatan, jadi mobil kami parkir di antaranya. Alhamdulillah, kami dapat spot parkir yang strategis. Karena memang sedang liburan, jadi parkiran di kawasan Ancol cukup padat. Jadi bisa dikatakan cukup beruntung kami dapat space parkir di pinggir jalan yang cukup lega, tepat di seberang  parkiran motor. Untuk memarkir mobil ini kami mempertimbangkan 3 hal : pertama : masuk parkirnya gampang, kedua : cari space  yang tidak memungkinkan mobil lain parkir di dekat mobil kami, sehingga giliran kami akan keluar parkir duluan jadi gak bisa dan terakhir tempatnya teduh (yang ini jadi bonus kalau dapet). Yang paling penting yang no 2 sih. Bayangin aja, kalau kita mau pulang trus ada mobil yang menghalangi mobil kita keluar dan sudah tidak ada space jika di dorong, bisa-bisa mati berdiri kita menunggu pemilik mobil datang *lebay😀. Soalnya kami pernah punya pengalaman kurang menyenangkan seperti itu waktu parkir di Mega Mall Bekasi, mana waktu itu Dita sudah capek jadi cranky eh pemilik mobil yang menghalangi mobil kami gak datang2. Tapi kalau di Mall masih mending, no plat mobil bisa diumumkan lewat informasi dan kemungkinan masih terdengar pemiliknya untuk segera memindahkan mobil, lha kalau di Ancol di saat high season seperti kemarin?😀

Tanpa buang waktu, kami segera menuju loket Gondola. Awalnya Dita gak mau naik karena takut. Tapi Bunda bujuk, bahwa naik Gondola itu seru, harus dicoba. Setelah sekilas meilhat Gondola yang bersliweran ada yang bergambar Angry Birds, akhirnya Dita mau hehe. Tiket Gondola 40.000 IDR/orang dan bagi karyawan Astra Group mendapat discount 50% dengan menunjukkan kartu identitas. Bundapun menunjukkan kartu Koperasi Astra dan dapat harga separonya jadi lumayanlah kami bertiga cuma bayar 60 ribu🙂

Antrian naik Gondola lumayan panjang, tapi bergerak maju nya juga cepat. Kami baru tahu bahwa tidak semua body Gondola bergambar Angry Birds. Setelah sekitar 15 menit antri, sampailah giliran kami. Tapi ternyata Gondola buat kami tidak ada gambar Angry Birds nya. Karena Dita keukeh maunya naik Gondola Angry Birds, akhirnya kami persilakan orang di belakang kami naik duluan. Setelah di sela sekitar 3 rombongan, akhirnya yang ditunggu-tunggu yaitu Gondola berhiaskan gambar Angry Birds pun nongol, warnanya biru pula, warna favorit Dita. Kami langsung naik, berbagi tempat dengan sepasang suami istri dan Gondola kami pun bertolak dari Stasiun C🙂

Gondola-1-web

Awalnya Dita tampak tegang berada di dalam Gondola, tapi lama-lama berani melongokkan kepala dan menebarkan pandangan keluar. Wuiiih… seneng juga melihat Ancol dari ketinggian 21 meter.  Tampak laut, apartemen (hmm namanya apartemen apa ya?), Hotel Mercure sampai pemandangan orang berenang di Pantai Ancol yang sudah kayak cendol😀

gondola-2-web

gondola-3-web

Setelah sekitar 30 menit, kami pun dikembalikan lagi ke Stasiun C untuk menyudahi keasyikan naik Gondola. Keinginan Bunda naik Gondola terwujud sudah🙂

Karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 11.30 dan hari itu hari Jum’at jadi Ayah harus bergegas untuk melaksanakan sholat Jum’at. Selagi Ayah sholat, Bunda dan Dita nongkrong di gerai CFC karena Dita pengin makan ayam goreng. Sebenarnya Bunda dari pagi-pagi sudah menyiapkan bekal makan siang. Maklum, Bunda kan habis sakit thypus, jadi sebisa mungkin tidak makan di luar dulu, jadi Bunda bikin oseng tempe+kacang panjang, sayur sop dan telur ceplok. Karena Dita mau makan pakai lauk ayam goreng, akhirnya Bunda suapin pakai lauk ayam dan sayur sop. Bunda sendiri makan nasi bekal dari rumah. Pas Ayah balik, Ayah juga langsung makan siang dulu.

Selesai makan, menjelang jam 1 siang kami langsung menuju ke kawasan Gelanggang Samudera yang sekarang berubah nama menjadi Ocean Dream Samudra (ODS). Sebenarnya tahun 2010, kami pernah ke ODS bersama ke-2 opungnya Dita. Waktu itu Dita masih 2 tahun, jadi masih belum ingat benar kalau pernah lihat atraksi lumba-lumba segala. Makanya kami pun  berencana mengulangnya ke sana.

Antrian tiket masuk ODS tidak begitu padat. Tahun 2010 harga tiket 80.000 IDR/orang, th 2013 naik menjadi 110.000 IDR/orang. Tapi info dari teman Bunda, harga 110.000 IDR itu harga sementara karena atraksi Sponge Bob 4D nya masih uji coba. Harga tiket masuk seharusnya kalau gak salah 135.000 IDR (CMIIW). Pantas waktu di loket, tulisan 110.000 itu tertulis diatas tempelan kertas untuk merivisi yang ada di papan.

Setelah mendapat tiket masuk dan melihat jadwal pertunjukan, yang pertama kali kami tuju adalah atraksi Singa Laut.  Buat anak-anak seusia Dita, tingkah laku singa laut yang pintar sangat menghibur. Dita sampai tertawa-tawa senang.

Singa-Laut-Ancol-web

Dari sana, kami menuju ke tempat atraksi lumba-lumba. Saat ke sana, jam pertunjukan masih lama jadi kami bisa leluasa memilih tempat duduk yang strategis. Sambil menunggu, Bunda mengamati interior kolamnya dan menyadari bahwa interiornya sudah banyak berubah dari th 2010 lalu. Dulu dibelakang kolam ada space cukup luas untuk pelatih dan lumba-lumba beratraksi, sekarang space itu sudah gak ada dan berganti dengan layar lebar dibelakang kolam. Jadi interiornya berasa diperkecil. Sepertinya konsep antraksi lumba-lumba sudah sangat berubah. Penasaran juga melihatnya.

Setelah hampir setengah jam menunggu dan Dita mulai ngantuk, akhirnya atraksi lumba-lumba pun dimulia. Sekarang ada seorang wanita yang menjadi MC dan hilir mudik di depan bangku penonton paling depan. MC  mengantarkan atraksi lumba-lumba dengan pembukaan berupa film dokumenter tentang lumba-lumba di layar lebar. Film yang menceritakan perjalanan 3 orang anak yang bercita-cita menjadi pelatih lumba-lumba. Film ini juga menunjukan ke penonton bentuk peran dan tanggung jawab Ancol Taman Impian ikut menjaga kelestarian alam dan lingkungan dengan menjadikan Ocean Dream Samudera sebagai lembaga yang berfungsi konservasi dalam mengembangbiakkan lumba-lumba. Ya.. untuk anak sekecil Dita pemutaran film seperti ini sangat membosankan😀

Untung tak lama kemudian, muncullah lumba-lumba beneran yang dinantikan anak-anak. Lumba-lumba memulai atraksi dengan menyapa penonton dengan lambaian ekornya, kemudian menunjukkan kepintarannya berhitung serta melompat tinggi sehingga moncongnya menyentuh bola. Di sela-sela atraksi itu, MC pun tak henti-hentinya menyisipkan uraian ilmiah tentang lumba-lumba karena sekarang konsep yang diusung adalah Edutainment (Education dan Entertainment).

lumba-lumba-Ancol-web

Dibanding tahun 2010, Ayah Bunda merasa, atraksi lumba-lumba yang sekarang banyak yang direduksi. Dulu atraksi lumba-lumbanya begitu beragam, ada lumba-lumba yang melompat di tengah lingkaran kobaran api segala. Ayah bercerita, setelah banyak aksi protes mengenai “exploitasi binatang”, maka sekarang atraksi yang melibatkan binatang tidak ditampilkan seleluasa dulu.

Setelah menikmati atraksi lumba-lumba yang cuma sekejap itu, kami menuju ke tempat atraksi aneka satwa. Karena kami masuk ke sana mendekati jam pertunjukan, jadi penonton sudah penuh, alhamdulillah masih mendapat tempat duduk. Eh baru saja atraksi dimulai dengan menghadirkan lisang, Dita minta pipis. AKhirnya kami keluar buat pipis. Dita tampak sudah capek dan ngantuk, makanya setelah beli es krim kami kembali sebentar ke atraksi aneka satwa. Lewat pintu samping, kami sempat menyaksikan atraksi kuda nil sebentar. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, lagian waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah 4 sore. Kami memang berharap tidak pulang terlalu sore, karena kebayang kalau keluar Ancol bersamaan pasti macet.

Di halaman ODS, Dita minta dibelikan kaos bergambar lumba-lumba. Yaa…sebagai kenang-kenangan kalau kami pernah ke ODS. Selanjutnya kami langsung menuju parkir dan pulang. Sepanjang jalan di area Ancol berjejalan mobil-mobil yang parkir di tepi jalan  sehingga untuk keluarpun kami harus sabar  karena jalanan jadi menyempit. Untungnya belum banyak mobil yang keluar di jam segitu sehingga mendekati mulut gerbang keluar Ancol bisa dikatakan suasana masih sepi. Kami pulang ke rumah mengambil rute yang sama dengan saat berangkat, dan lagi-lagi jalanan cukup bersahabat. Di mobil Dita langsung meringkuk di kursi belakang, tidur. Alhamdulillah sekitar jam 5 sore kami sudah sampai di rumah dengan selamat🙂

Dita terbangun dari tidurnya. Wajahnya masih lelah tapi kelihatan senang telah mendapat banyak pengalaman selama berlibur ke Ancol. Nantinya apa yang dilihat Dita diceritakan tak henti-henti kepada Rizky, anak tetangga, teman mainnya di rumah🙂

One Response to “(Gak) Mudik Lebaran 2013 #2 : Jalan-jalan ke Ancol”

  1. […] (Gak) Mudik Lebaran 2013 #2 : Jalan-jalan ke Ancol […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: