Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Saya, Anak Saya, Masa Lalu, dan Masa Kini – by Mutti Ella

Posted by BunDit on October 19, 2012

Karena jarang nge-face book, Bunda suka ketinggalan info/berita dari FB, termasuk membaca Notes dari dik Ella, budhenya muttinya Dita, kakak ipar Bunda yang usianya lebih muda dari Bunda- eh harusnya soal umur gak usah disinggung kali ye😀. Salah satu owner Bestariku – Pusat Edukasi Anak dan Keluarga- yang seorang psikolog anak dan sering tampil sebagai pembicara seminar Parenting ini memang tulisannya ringan, renyah tapi bernas. Selalu meninggalkan “tamparan” khususnya pada para orangtua seusai membacanya hehehe. Sayang Bunda sendiri malah belum pernah ikut seminarnya (T-E-R-L-A-L-U), padahal topiknya bagus-bagus lho. Oneday, Bunda ikut deh🙂
Dan beberapa hari lalu, Bunda berkesempatan untuk baca-baca Notes FB Bundanya Kak Thifa ini. Ada satu dari banyak Notes nya yang cukup menggelitik. Sudah ditulis setahun lalu di Notes FB dan di re-write di blognya dik Ella, tapi isinya masih sangat up to date. Bunda kesentil juga dengan tulisan ini. Makanya Bunda coba share di blog ini, siapa tahu banyak yang kesentil, ketohok atau bahkan ketampar:mrgreen: . Tanpa basa-basi lagi, silakan menikmati🙂

______

Saya, Anak Saya, Masa Lalu, dan Masa Kini
by Alzena Masykouri on Thursday, August 11, 2011 at 7:30am ·
* * *

Pagi ini, buka efbe dan ngeliat status sepupu : When I was a kid, I didn’t have a laptop, #iPod, #Blackberry, #PS3 or #iPad. I played outside with friends, bruised my knees, made up adventurous fantasies and played hide and seek. I ate what my mom made and #KFC was a treat. I would think twice before I said “no” to my parents. Life wasn’t hard, it was great and I survived. Kids these days are spoiled (not all of them..but very rare🙂 ).

Terjemahan bebasnya kurang lebih begini, “waktu aye masi kecil, aye kagak punya laptop, ipod, blackberry, ps3 ato ipad. Aye maen ma temen-temen aye, jatoh dan benjut, ngayal mpe puas, dan maen petak umpet. Aye makan masakan emak, dan jajan itu jadi bagian yang istimewa. Aye mikir-mikir tuh kalo mo bilang ‘enggak’ ke emak. Jaman ntu kagak susye idup, menyenangkan malah, dan aye baek-baek aje sekarang. Keknya anak sekarang deh yang manja (kagak semua, tapi jarang yang enggak manja).

Dan saya menuliskan komen saya di status sepupu saya : True!! but, maybe, We, as a parent, are the spoiled one🙂 kate betawinye, kagak mo susyeh,, daripada anak cerewet, diempanin tablet ma maenan elektronik biar anteng.

Sinis ya?

Ok, anak saya, si eneng Thifa, di usianya yang dua bulan lagi 8 tahun (Gosh, time flies. -yang bilang, Thifa suru punya adek lagi dan sejenisnya, silakan duduk diem-diem di pojok!), punya blackberry, punya 7″ laptop, punya Nintendo DSi, suka pinjem iconia punya kakeknya, suka maenin i-phone dan i-pod om-nya. Gadget itu semua mulai dimiliki dan diakses oleh si eneng sejak dia berusia 5 tahunan dan dalam pengawasan ketat. Oh ya, saya termasuk ibu yang kejam dalam penggunaan teknologi. Thifa baru menggunakan komputer usia 4 tahun dan tidak lebih dari 15 menit dalam satu hari. Meskipun dia mulai bikin panik neneknya di usia 1 tahun karena menyalakan CPU seorang diri. Selanjutnya, dia adalah mentor neneknya setiap sang nenek ganti gadget. Nintendo DSi saya belikan karena ketika itu kami berencana untuk melakukan perjalanan 18 jam dengan mobil. Hmm,, saya memerlukan sesuatu untuk membungkam ocehan Thifa. Nintendo DSi ini juga terpakai sebagai sarana sosialisasi Thifa dengan sepupu-sepupunya. Setelah sekian lama teronggok, si N-DSi baru terpakai lagi ketika perjalanan pulang Beijing-Jakarta yang hampir 10 jam perjalanan di pesawat. Game-nya? Sejak pertama beli sampai sekarang, ya itu-itu aja. Blackberry? Thifa dapat sebagai hadiah ulang tahun dari om-nya. Jangan bayangkan seri terbaru, bb ini keluaran pertama, dan Thifa adalah tangan ke-empat (ck, gak lagi second hand). Alasan si Om, agar Thifa tidak menjajah bb milik kakek-neneknya untuk berkomunikasi dengan si Om yang ada di Beijing, juga om dan tante lainnya yang berada di penjuru dunia. Nasib bb-nya? Sekarang sedang di-grounded, sampai Thifa bisa memahami bahwa sms tidak sama dengan chat. Ya, Thifa juga menggunakan bb untuk sms-an dengan temannya. Gemesnya, dia sms hanya satu kata. Tidaaaak!! Habislah pulsa dalam sekejap. Laptop digunakan Thifa hanya bila ia perlu untuk mengerjakan sesuatu, dan jika PC dipakai oleh saya. Malah, kayaknya banyakan saya yang bawa-bawa laptop itu kemana-mana.

Thifa dan teman-teman seangkatannya terlahir sebagai warga digital. Mereka lahir dengan diabadikan kamera digital. Dibesarkan berteman dengan gadget. Tanpa diajari, mereka secara alamiah bisa menggunakannya. Sekarang, siapa yang manja? Kalo menurut saya, orangtua mereka, ya, saya yang manja. Dengan adanya gadget, saya merasa lebih aman anak saya berada di dalam rumah. Well, banyak hal tak terkira terjadi di luar sana. Main sama teman, nanti pulang bawa ‘oleh-oleh’ kata-kata ajaib, atau luka, atau, penculik? virus? Huaaa… Pergi bersama di hari libur, gadget jangan ketinggalan, karena nanti kalau anak bosan dan mulai rewel, saya sulit untuk meredakan rengekannya. Gadget adalah pengasuh yang paling baik. Anak susah gak mau makan? Ok, mau makan apa, sebut saja. Apa pun yang diminta akan disediakan, yang penting makan. Bukan makan yang penting. Yang penting tidak susah. Yang penting tidak repot. Saya sudah sibuk, banyak pekerjaan, banyak urusan. Kalau anak menentang saya, anggap saja itu menunjukkan bahwa anak saya kritis dan liberal, apa pun caranya.

Begitu?

Bukan. Harusnya tidak begitu. Kita, Saya dan Anda, adalah orangtua anak-anak kita. Semua perilaku kita haruslah menunjukkan bahwa kita adalah orangtua yang patut menjadi teladan anak kita. Kita, saya dan anda, punya kewajiban untuk mengenalkan mereka pada dunia selain dunia elektronik. Kita harus mengenalkan mereka pada norma, agar tetap bisa menjadi diri sendiri tanpa meninggalkan tuntunan. Karena kita adalah orangtuanya.

Susah?

Sapa suruh jadi orangtua?

🙂

___

 

10 Responses to “Saya, Anak Saya, Masa Lalu, dan Masa Kini – by Mutti Ella”

  1. muttin-nya Ditta said

    horeeee… naek tayang *keplok-keplok*
    update : Sekarang, di usia hampir 9 th, SiEneng sudah punya tab sendiri (hadiah menang kuis foto), netbooknya sdh dihibahkan ke OmCil (sepupu Bundanya), blackberry masih tetap di grounded, dan NDSi-nya tetep gak ganti-ganti game😀 Oh ya, kemajuan di bidang digital adalah mulai punya blog sendiri, tugas sekolah sudah melibatkan PC & internet, dengan selalu dalam pengawasan orangtua.
    Sekian😀

    Hehehehe tulisan ini tak schedule naik tayang pas lunch ke KG hehehehe. Iya, aku udah liat blog nya Thifa, udah canggih nih, kecil2 ngeblog pake bhs Inggris hehe

  2. vera said

    waahhh..anak jaman skrg emang pd kenal gadget dr piyik ya, bun, bahkan tanpa kita ajarin aja eeeh mereka udah tau sndr. Ya gak bisa dihalang2i juga sih, paling diawasi dan dibatasi biar gak bablas

    Bener mam, biar anak2 gak candu dengan gadget nya. Saa sih lebih seneng Dita main sama temen2 nya, sepedaan panas2 di luar gitu hehehehe

  3. hmmm…tertampar juga bun…sedikit..soalnya emaknya kinan dan kinan nggak punya banyak gadget hehehe…hmm generasi Z sih yah orang2 bilang….bener kata mbak vera dari piyik indil dah kenal gadget..dari dalam kandungan dah diperdengarkan suara suara musik klasik, atau kah itu lantunan al qur an dari lewat headphone yagn ditempelkan ke gadget juga kan…hmm harus pinter dan dalam pengawasan supaya nggak nyandu dan mencegah dampak negatifnya..

    Sama, saya dan ayahnya Dita juga bukan gadget freak, jadi yaaa…Dita gak banyak main gadget. Paling2 games yang kami beli waktu mau mudik kemarin🙂

  4. Lidya said

    emang FBnya bundanya Dita apa? aku malah gak tau🙂

    FB saya Bundanya Dita mam🙂

  5. Sama kayak Mama Kinan bilang, aku tertamparnya dikit doang. Bagian yang pengen kekepin anak di rumah, takut dibawa kabur penculik, takut bergawul dengan anak-anak yang kosa katanya bikin ” WOW”. hahaha…
    kalo soal gadget gak tertampar sih, soalnya jangankan Athia, wong emaknya aja gak punya gadget seri terbaru. Laptop aja punya kantor, makanya jarang dibawa pulang ke rumah.
    yang penting kita tau apa tujuan ngasih gadget ke anak, dan awasi penggunaannya. Seabis ikut seminar parenting sama Bu Elly, justru bersyukur jadi emak irit. Gak pusing remedi nya dibanding kalo udah ketagihan gadget. Hihihi

    Saya juga termasuk emak super irit, gak punya gadget macam2 hehehe. Memang ya sekarang ini para orangtua, parno nya makin gede, ya karena teknologi makin pesat berkembang. Anak jaman digital lah, anak kita ini-)

  6. kasian sama anak jaman sekarang deh bun,….Aku batesin gadget bun

    Iya, sama bu🙂

  7. setuju sama ibu dzaky.. kasian ya anak sekarang, mau beraktifitas outdoor ngga bisa se nyaman kaya waktu kita kecil dulu..

    dulu tuh aku senengnya malah main outdoor, sampe kulit item ga karuan😀

    sayangnya anak sekarang seperti sudah terbiasa dengan gadget, umur 1 tahun aja udh bisa macem😦

    namanya juga anak digital mam hehehe

  8. *Speechless*

    Emang bener yaa..yang namanya gadget itu berpengaruh banget pada perkembangan anak.

    Bersyukur kemarin ikutan seminarnya Bu Elly Risman dan untung juga aku gak latah ngikutin atau gonta ganti gadget keluaran terbaru, cukup nokia E71 yang jadul itu, hahaha…*emakirit*

    Bener, jd emak yg gak gadget freak itu ada untungnya hehehe *menghibur diri😀

  9. jaman skrg anak2 gak bs lepas dr teknologi ya.. solusinya ya harus di beri pengawasan

  10. Orin said

    Wow…menarik nih Bun, jadi ingin baca tulisan2 lainnya jg🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: