Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Put Your Foot on Other’s Shoes

Posted by BunDit on August 2, 2012

Seperti Bunda ceritakan di sini, beberapa bulan terakhir ini Bunda punya hobi baru, menekuni lautan Lini Masa twitter orang-orang yang Bunda follow. Lumayan buat membunuh waktu saat tidak lagi berdekatan dengan Dita atau Dita lagi tidur. Gak usah Bunda jelasin manfaat lain bertwitter ria selain alasan membunuh waktu itu. Yang jelas cukup menghibur dan menambah wawasan serta pengetahuan🙂

Di sini Bunda tidak akan mengulas detil manfaat twitter ya. Hanya saja dari twitter Bunda jadi lebih ngeh dengan kosa kata “galau” yang belakangan ini cukup ngetop. Kita bicara soal galau😀

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

ga·laua,ber·ga·laua sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·ann sifat (keadaan hal) galau

Namun di socmed, galau lebih mudah diartikan sebagai sedih, gelisah, bingung, bimbang terhadap sesuatu hal. Yang jelas galau itu membuat pikiran tidak tenang atau malah bikin tersinggung.

Nah, ngomong-ngomong soal galau ini, di twitter banyak sekali isi tweet yang suka bikin galau orang lain. Kadang isi nya menyinggung perasaan orang lain. Tweet yang Bunda baca sih , Bunda yakin mereka tidak bermaksud menyinggung, justru ingin menyemangati, tapi selalu ada yang merasa galau.

Salah satu contohnya nih, beberapa motivator yang Bunda follow, suka nge-tweet soal jodoh. Mereka mengajak menyegerakan menikah. Menyerukan memantaskan diri supaya jodoh segera mendekat. Yang paling sering mereka menggambarkan betapa indahnya mempunyai pasangan yang sudah halal. Kadang tanpa disadari ada kalimat yang mengesankan para single yang belum menemukan jodohnya adalah orang-orang pemilih. Ternyata tweet2 seperti ini mendapat “protes” dari beberapa single, kebanyakan perempuan. Ada yang menganggap tweet yang mengumbar kemesraan pasangan halal terlalu lebay. Mereka bilang kehidupan pernikahan pastilah isinya tidak cuma indah, tapi juga ada masalah. Ada yang merasa tweet tersebut jauh dari empati dan omong kosong. Saking galaunya ada yang bilang kalau menikah belum tentu lebih bahagia daripada single. Malah ada yang bersuara lantang “jangan cuma bisa bilang segera menikah dong, mbok carikan kami jodoh”. Nah…🙂

Bunda sendiri bisa merasakan apa yang dirasakan para single itu. Dulu rasanya empeeeeet banget kalau ada orang yang mengajukan pertanyaan “Kapan nikah?”. Terus ada juga yang nanya “Sudahlah jangan pilih-pilih. Ingat umur lho…”. Sempet membatin “Iiiiiih…rese banget sih sama urusan orang lain” hehehehe esmosi ceritanya😛. Orang memang cuma bisanya ngomong tanpa tahu isi hati kita. Siapa juga yang gak pengin menikah. Tapi kalau belum ada seseorang yang sreg gimana?. Kenapa pilih-pilih? Ya cari pasangan hidup harus pilih-pilih dong, kan buat menemani seumur hidup, gak bisa seenaknya bisa ganti kalau kita bosen, kayak ganti sepatu😀. Hihihi nadanya emosi tingkat dewa deh waktu itu, padahal mereka nanya begitu bisa jadi justru karena perhatian :mrgreen:

Setelah Bunda menikah, jadinya Bunda gak mau tuh tanya-tanya temen yang belum menikah dengan pertanyaan yang ujungnya bikin galau “Kapan menikah?”. Jangankan mengajukan pertanyaan ini ke temen yang belum memiliki pacar, yang sudah punya pacarpun ada yang bete ditanya seperti itu, karena pacarnya ada yang menghindar kalau disinggung soal menikah. Intinya karena Bunda pernah di posisi yang galau itu, jadi ya berusaha gak menyinggung perasaan temen dengan pertanyaan klise itu, walaupun sebenarnya maksud kita “just asking”.

Mungkin saja yang suka ngetweet soal jodoh itu, dulunya mudah banget membangun relationship dengan lawan jenisnya dan jalannya lempeng menuju pernikahan. Faktanya, banyak lho wanita di luar sana yang belum juga menemukan jodohnya. Dan menurut pengamatan Bunda, jodoh itu tidak serta merta berbanding lurus dengan fisik, kecerdasan dan kemampuan menjalin relasi. Artinya kalau wanita cantik/pintar pasti jodohnya cepet datang atau orangnya ramah dan baik, pasti banyak laki-laki yang mau.

Coba tengok deh di sekeliling kita, kadang kita sendiri dibuat heran dan bertanya, kok bisa ya..si anu menikah sama si ano. Si anu kan wajahnya gak cantik2 amat, si ano kan ganteng dan kaya raya pasti bisa mendapatkan yang jauh lebih cantik dari si anu. Naaah…bener kan tidak ada korelasi jodoh dengan apapun. Jodoh itu misteri. Seperti kalimat yang sering diucap, jodoh itu ditangan Tuhan.

Yaa…jodoh di tangan Tuhan. Tapi Bunda setuju dengan istilah “memantaskan diri”. Kita tetap perlu ikhtiar agar Tuhan mendekatkan jodoh kita. Artinya kalau kita punya kriteria A, B, C untuk pasangan hidup kita, kita juga harus mengaca apakah diri kita sudah pantas untuk mendapatkannya. Kita memang pengin jodoh yang ideal, tapi apakah kita juga ideal di mata orang lain?. Seperti pernah Bunda tulis di Karma dalam Pernikahan, Kalau si A mempertanyakan kenapa istrinya tidak secantik istri temannya, misalnya. Jawabnya, wanita yang cantik bisa jadi tidak akan memilih A jadi suaminya🙂 . Begitu juga jika si B mempertanyakan kenapa suaminya tidak sekaya suami temannya. Jawabnya, jika suaminya kaya bisa jadi suaminya itu akan memilih wanita yang lebih muda/cantik dari B hahaha😀. Itulah jodoh🙂

Kembali ke tweet yang bikin galau di atas, kenapa sih kita gak berusaha selalu “Put Our Foot on Other’s Shoes”. Sebelum kita bicara, menulis, bertindak, pikirkan dan bayangkan dulu, bagaimana kalau kita di posisi yang kita bicarakan, kita tulis atau  kita kerjain.  –Hehehe sok ngajarin ya, ini juga pengingat untuk Bunda juga kok-. Tidak hanya masalah jodoh. Dari masalah keturunan sampai masalah yang sebenarnya gak perlu kita debatkan seperti ASIX-Sufor, melahirkan Normal-Caesar, FTM-WM-WAHM, akan selalu bisa memicu si galau. Tidak perlu men-judge orang lain kalau kita gak tahu duduk perkaranya. Kenapa sih milih ngelahirin caesar, kan gak bisa ngerasain jadi wanita sejati?. Kenapa sih anaknya dikasih sufor, ntar anaknya jadi anak sapi lho? Kenapa sih mengejar karir di kantor, kan kasihan sehari-hari anaknya diasuh pembantu? Itu semua pertanyaan ngajak perang😀

Gambar diambil dari internet

Nah, kalau kita bisa empati dan berusaha “Put Our Foot on Other’s Shoes”, dunia ini akan damai. Tidak ada tuh “bacok-bacokan” di dunia nyata maupun dunia maya. Atau justru hidup ini, utamanya di ranah socmed (social media) berasa flat, membosankan dan kurang seru kalau terlalu damai? hehehe😀

Tambahan nih :

Dalam kesempatan ini Bunda ikut mendoakan, bagi yang belum menikah, segera dipertemukan dengan jodohnya. Yang belum memiliki keturunan, segera bisa menimang buah hati yang sehat. Yang pengin nambah anak, semoga segera hamil lagi, eh ini mah doa untuk Bunda sendiri ding😀. Amiiiin🙂

11 Responses to “Put Your Foot on Other’s Shoes”

  1. betulllllllll….bunda..hehehe..
    kalo flat kan jadinya nggak ada galau galau lagi…mengikuti trend yang berkembang….seperti socmed kan trend bun…hari gini nggak punya account di twitter hehhe bikin galau…*kayak gitu gitu..walah kok jadi kemana mana..pada dasarnya ngetwit sama juga keasyikannya dengan ngeblog atau blogging juga nggak bun?? sama juga kan baca baca opini2 dan segala macam keluh kesah, pengalaman dan sharing banyak hal dan topik??
    hehehe malah jadi nanya…sip apapun itu yang lagi trend yang pasti tetap harus jaga etika yah bun..jangan sampai kita menyakiti atau mendholimi orang lain…judulnya postingan bunda dita pas…”empati” kepada orang lain..

    Bener mam🙂

  2. salam kenal bundit..
    postingan atas saya banget tuh😉. pada titik ini, rasanya udah kewalahan sama kapan-nikah-question😀. #curcoldetected

    Salam kenal juga. Hehehehe empet juga ditanyain begitu terus y mbak? Kalau dulu saya berusaha cuek aja, tapi tetap punya keyakinan, bahwa suatu saat pasti menikah. Katanya suka dengan “better late than never” hehehe j/k mbak. Sesuai tambahan posting saya di atas, smoga yang masih single segera menemukan tambatan hatinya dan menikah. Amin🙂

  3. wqah bijak kali BunDit..setuju ama postingannya

    Hehehe gak lah, saya tidak sebijak yang ibu kira. Kadang juga masih galau hehehe😀

  4. Evi said

    Kadang saya juga agak sebel dng tweet yg sok tahu, nyuruh2 orang menikah itu Bunda Dita. Tapi kadang saya ikut mendukung juga. Maksudnya mungkin biar masyarakat Indonesia lebih baik. Orang menikah kan cenderung lebih bertanggung jawab, lebih berempati. Begitu sih cara saya melihatnya🙂

    Sebenarnya tweet2 mengajak menikah maksudnya baik, cuma memang cara penyampaian nya dianggap kurang empati. Ya yang single pun mestinya gak usah nerusin baca tweet begitu, leave it aja, ntar makin galau deh hehe. kecuali bisa memandang tweet spt itu dr sudut pandang lain sehingga tidak membuat galau🙂

    Hmmm soal orang menikah lebih bertanggung jawab dan lebih berempati rasanya tidak selalu begitu. Tapi memang kebanyakan spt itu. Saya punya temen cewek seumuran yang belum menikah pun, empatinya sangat besar. Mungkin tergantung orangnya juga y mbak🙂

  5. Dija said

    dija sendiri bingung galau itu apaan sih….

    tante sendiri juga barusan tahu nih Dija😀

  6. vera said

    mudah2an gak ada yg lg galau pas baca postingan ini jd tercerahkan😀

    Amiiiin hehehe

  7. “kapan menikah”, “udah isi belom” => sy selalu menghindari 2 pertanyaan itu.. Kasian yg di tanya2.. Apalagi kemudian ada salah satu sahabat sy yg akhirnya menutup diri krn selalu di tanya “udah isi blm?”. Pdhl dr jaman kuliah, dia gak bs jauh2 dr yg namanya hp atau telp.. Skrg malah menjauh dr pergaulan.. kasian sy liatnya…

    Saya dulu juga suka menolak kalau ada acara kumpul2 dengan temen kuliah. Bete ditanya mulu “kapan nikah?”. Ngumpul bukannya happy tapi malah stress. Makanya saya enjoy banget dengan temen kos dulu, karena banyak yang senasib hahaha. Sy belakangan menyadari bahwa ternyata menjauh itu bukan jalan yang terbaik, krn kita jadi makin tertutup. Tapi memang tidak mudah bersikap terbuka dan bergaul apa adanya dalam kondisi spt itu. Semoga temennya segera di beri amanah untuk memiliki buah hati ya bun. Amiin🙂

  8. Lidya said

    aku lupa password twitternya bun🙂 pakabar bun?

    Alhamdulillah baik mam. Bikin akun twitter yang baru aja mam😀

  9. Setuju bunda sama tulisannya kalo jodoh itu misteri, anugrah dari Tuhan, gak ada korelasinya dengan apapun dan kita perlu tenggang rasa, sebisa mungkin belajar menempatkan diri dengan keadaan orang lain. B d way twittenya bunda yang mana ya, mau follow nih hahahaha…😀

  10. hemm bener bgt bun… jodoh itu ga bs diliat dr segi manapun, mutlak milik Allah. kek aku aja, ga pernah nyangka bakal nikahnya sm ayah shishil, yg kakak kelas sendiri hehehe…

  11. Orin said

    BunDit udh tau galau kan, kalo geje itu singkatan dari ‘ga jelas’, msh sepupuan deh sm si galau *halah* hihihihi

    Skrg aku nih yg lg suka sensi kalo ditanya soal keturunan, kadang beneran smp nangis deh kalo ‘dituduh’ KB atw pgn jd wanita karier so ga mau punya anak, doh, jahat bgt kadang orang2 ya

    *hedeh malah curcol*😛

    Kadang orang2 emang menuduh yang bukan2 ke kita ya mbak. Dibuat nyantai aja, walau saya tahu susah deh buat nyantai. Insya Allah, Allah segera memberikan amanah buah hati yang sehat tidak lama lagi kepada mbak Orin dan suami. Amiin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: