Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Hati-hati & Bijak Menonton TV

Posted by BunDit on July 19, 2012

Melihat begitu maraknya program televisi jaman sekarang, Bunda jadi teringat lagi jaman kecil dulu. Bunda sudah duduk di kelas 1 atau 2 SD, Bapak baru bisa beli televisi. Sebuah televisi hitam putih dengan box berkaki 4. Sebelum punya televisi, Bunda dan mas Agus ya numpang nonton di tetangga. Jaman dik Tantri lahir sih sudah punya tv.

Acaranya pun bikin happy dan mendidik. Rasanya saat itu tidak ada unsur kekerasan sekecilpun dalam setiap tontonan. Coba kita ingat satu-satu : serial Rumah Masa Depan, si Unyil, Little House On The Prairie, Oshin, ACI, apalagi yaaa… *sudah pikun nih….mohon ditambahin hihihi. Tapi yang jelas, saat menonton itu rasanya damai. Seingat Bunda, Bapak atau Ibu tidak pernah membatasi atau melarang ini itu untuk menonton tv, kami dilepas begitu saja, karena tontotannya nir kekerasan, nir dialog penuh umpat ala sinetron, nir adegan penuh sensor. Ya waktu itu program televisi memang masih sangat minim juga.

Sekarang? Semua televisi menyuguhkan tayangan penuh kekerasan, mengimingi aneka barang konsumtif lewat iklan yang jor-joran, memperlihatkan kehidupan serba glamour tanpa empati, memberi hiburan lawakan dangkal penuh candaan fisik.

Bunda sih tidak anti dengan tontonan televisi. Dulu semasa masih gadis dan ngekos, kalau gak kemana-mana ya hiburannya selain buku ya televisi. Menonton televisi itu memang nikmat, sambil tiduran leyeh-leyeh, ngemil. Aktifitas tanpa mengeluarkan tenaga dan memeras otak, surga banget deh. Dulu sama temen-temen masih suka ngikutin yang namanya sinetron, karena dulu kami sering berkumpul di satu kamar untuk khusyu’ melahap cerita-cerita sinetron yang hampir ditayangkan bersama di prime time, sepulang kerja.

Sekarang, tepatnya semenjak 5 tahun lalu Bunda berumah tangga dan kemudian memiliki anak, bukan Bunda samasekali puasa menonton televisi. Sesekali Bunda masih nonton film, kebanyakan film lama sih, tapi kalau ditonton sama suami bukannya asyik?😉. Nemenin suami nonton bola, walau banyak gak ngertinya:mrgreen: . Sinetron? Infotainment? Blass sudah jarang, malah bisa dikatakan gak pernah. Tapi biar gak bengong kalau lagi ngomongin gosip, paling update berita dari Detik Hot hehehe. Sekarang kalau lagi males nnton tv, males baca buku, Bunda punya kesibukan baru : menyusuri lautan TL twitter orang yang Bunda follow. Bunda punya akun twitter tapi jaraaaaang banget nge-tweet, isinya hanya mantautkan posting blog ini ke twitter. Di twitter, Bunda pembaca setia hahaha

Dari twitter pula Bunda menemukan akun yang berkicau soal media utamanya media televisi dengan isi yang bernas dan bahasa yang apik. Akun tersebut milik Iswandi Syahputra, seorang Doktor untuk Program Studi Kajian Budaya dan Media, lulusan Universitas Gadjah Mada, yang Bunda baca pernah menjabat anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. CMIIW, masih di KPI gak ya sekarang?

Awalnya menemukan akun tsb, karena ada yang me-RT isi twitter beliau menanggapi kasus terakhir Olga yang menyinggung SARA dalam lawakannya. Sudah tahu kan kasus Olga tsb? Jika ada yang belum tahu Bunda tulis ulang di sini :

Olga yang menjadi pemandu acara program Pesbukers di ANTV melontarkan kata-kata yang dianggap melecehkan ucapan salam umat Islam yakni “Assalamu”alaikum”

 Ceritanya bermula Selasa (19/6), saat itu Julia Perez (Jupe) sedang menerima telepon di studio. Jupe mengucapkan “Assalamu”alaikum”, namun Olga berkelakar dengan mengatakan “Lu Assalamu”alaiku terus ah, kayak pengemis lu”

Pak Iswandi langsung mengkrtisi kasus Olga tesebut dengan memberikan kultwit ttg kasus Olga dan tentang #komedimedia. Kalau banyak yang berpikir Olga adalah seorang komedian, ternyata salah besar. Komedian ternyata mempunyai arti yang sangat dalam, tidak hanya sekedar bisa membuat orang tertawa, apalagi dengan lawakan dangkal dan tak berbobot. Silakan simak tweet Pak Iswandi yang sudah Bunda chirpified supaya enak dibaca.

>> Kasus Olga

>> Komedi Media

Dan kembali ke soal menonton televisi. Bunda sendiri rasanya juga sulit lepas 100% dari tontonan televisi. Namun berusaha mulai bijak dalam memilah-milah tontonan. Masih ada kok tontonan yang bagus. Apalagi jika kita sudah memiliki anak. Kita harus lebih bijak dan sebisa mungkin mendampingi anak menonton televisi *pelaksanaannya emang gak gampang ya, kadang ortu sibuk sendiri?😀. Sejauh ini Bunda memang belum membatasi Dita untuk menonton sekian jam sehari, namun karena dari kecil Dita selalu Bunda “cereweti” kalau bermain itu lebih bagus daripada nonton, sampai sekarang sih, Alhamdulillah Dita ngerti ya. Kalau nonton sekarang lebih suka nonton VCD anak-anak. Nonton tv ya sekali-sekali, itupun biasanya film anak-anak. Suka juga nonton Master Chef bareng Bunda. Ini mah Bunda nya yang demen hehe. Yang susah diawasin kalau Dita pas hanya berdua nonton sama teh Dela. Walau bunda sudah wanti-wanti teh Dela sih.

Namun setelah renov rumah kemarin, dan lokasi televisi di lantai bawah berubah, sinyal televisinya gak begitu bagus. Memang gak memakai antena luar sih, tapi setelah ditambah booster pun gambarnya tetep jelek. Ayah sudah mau pasang antena luar aja, tapi Bunda bilang, biarin aja, lebih bagus televisi di bawah gambarnya jelek, biar Dita juga malas menonton. Dita sih gak protes, dia bilang “Dita mau setel VCD aja, tivinya gambarnya jelek” hehehe. Yang bete’ tentu saja teh Dela, gak bisa nonton film korea dengan nyaman. Tapi teh Dela pun bukan termasuk yang maniak nonton tv, jadi ya biasa saja. Semakin besar Dita, Bunda sih pengin secara tegas membatasi menonton televisi.

Dan terus terang Bunda lebih senang melihat keadaan seperti gambar di bawah ini daripada Dita anteng menonton televisi. Silakan saja mau main sampai jungkir balik dan membuat rumah seperti kapal pecah, tapi dari bermain anak bisa belajar banyak hal. Daripada rumah rapi karena anak anteng menonton televisi yang membuat anak menjadi tersihir dan malas beraktivitas lainnya.

Sekarang banyak kasus kriminal kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak, bahkan sampai yang membuat bergidik yaitu kasus perkosaan yang dilakukan anak,. Dan kasus-kasus tersebut disinyalir bahwa televisi punya andil besar sebagai penyebabnya. Waktu Bunda buka situsnya KPI, walaaaah ternyata banyak banget Imbauan, Peringatan dan Sanksi KPI terhadap tayangan program televisi kita. Bikin ngelus dada😦

Memang rasanya susah bener menghapus agenda keseharian anak kita dari menonton televisi. Karena menonton televisi ini seperti candu, melenakan dan memabukkan karena saking enaknya. Tapi dibalik enaknya, televisi ternyata jahat. Sampai-sampai Pak Iswandi menyebut media (televisi) sebagai tirani, begitu kejam. Bahkan lebih kejam dari pemimpin tiran seperti Hitler. Hitler menyerang dan membunuh dengan kasat mata. Tapi televisi? Menyerang sambil bikin tertawa, membunuh sambil menghibur, merusak sambil bercanda, mematikan tanpa terasa ada yang mati. Tidak kelihatan. Sangat mengerikan😦

Silakan baca selengkapnya disini Tirani Media

Sekali lagi Bunda tidak antipati dengan televisi. Tapi rasanya makin banyaknya tayangan di televisi, kita sebagai diri sendiri juga sebagai orang tua harus makin hati-hati dan bijak memilah-milah tayangan yang bagus buat diri kita dan buat anak kita. Kenali dengan baik acara televisi sebelum memutuskan untuk menontonnya. Pesan khas Pak Iswandi di kultwit nya adalah : Jangan menonton televisi yang mengumbar kebencian dan kebancian🙂

Berikut kultweet Pak Iswandi yang telah Bunda masukan di Chirpstory. Isinya sangat membuka wawasan, seneng bacanya deh. Masih banyak sih tweet menarik dari Pak Iswandi tentang media . Silakan follow @iswandisyah jika tertarik🙂

Berikut beberapa kutipan yang bersinggungan dengan media (televisi) :
Perempuan perlu belajar untuk menerima ukuran tubuh mereka untuk melawan citra ideal perempuan langsing yang dipromosikan media.(K. Jhonson)
“Di negeri kami tubuh perempuan bukan milik perempuan. Dada dan paha sudah dijatahkan buat biro iklan dan wartawan” (Ariel Heryanto)

11 Responses to “Hati-hati & Bijak Menonton TV”

  1. Setuju banget sama semua yang Bundit tulis di sini. Media televisi sekarang memang sudah benar-benar rusak, makanya aku juga tegas kalo di rumah jarang banget muter channel dalam negeri dan bersyukurnya sejak dulu sampe sekarang selalu dapat pengasuh Raja yang gak maniak nonton TV. Raja juga di rumah paling nontonnya DVD anak-anak atau kalopun nonton TV paling channel Jim Jam atau BabyTV, itupun gak kecanduan dan dia suka bosen sendiri…

    Soal kasus Olga…memang, sejak dulu aku juga gak pernah nganggap Olga tuh lucu, bahasanya kasar soalnya, gak enak aja didengar

  2. iya BunDit..bener banget, Ibu3boys juga gak suka banget anak2 nyetel TV..jadinya dibatasin nontonnya.

  3. iyaaa bener…setuju Bundit
    aku juga sebel tuh sama lawakannya Olga, seringkali melecehkan orang lain. Apalagi perbukers ya, lawakan yang diusung selalu menjelek jelekkan orang lain. contoh yang buruk banget

  4. Ah, sudah lama tak mampir dimari🙂
    sepakat dengan BunDit…Televisi itu menyerang sambil bikin tertawa, membunuh sambil menghibur, merusak sambil bercanda, mematikan tanpa terasa ada yang mati. Serem yaaa…

    Maka dari itu saya mending pasang tv kabel yang banyak acara anak2nya seperti jimjam dan disney junior. Samara pun nonton tv-nya hanya di jam jam tertentu selebihnya mainan sambil berantakin rumah🙂

  5. Lidya said

    sama bun aku lebih suka lihat anak2 mainan daripada nonton

  6. hmm kalo nonton tontonan tv yang model model gitu alhamdulilah kinan nggak suka…sinetron dan lain lain yang pokoknya diluar baby tv dan disney junior bakalan ngamuk kalo channel dipindah….tapi ya gitu tv harus tetap nyala walaupun dia mainan dan ngacak ngacak atau ekplore seluruh mainannya…entah kenapa begitu… dari dulu saya was was melihat tayangan media karena kurang lebih saya juga ngerti dampaknya…hehehe maklum kuliahnya dijurusan yang dulu sering ngupas tuntas dampak media massa…
    keren nieh bunda tulisannya…jadi pingin check ke tkp bapak iswardi punya twitter..:)

  7. hanindah said

    Aku juga jarang nonton TV, Bun.
    Alasannya : makin lama makin gak bermutu.
    Gak ada manfaatnya.
    Olga itu kayaknya sering banget bikin lelucon agama yang gimanaa gitu. Padahal dia sendiri Muslim kan ?

  8. Iya jadi kangen dengan tontonan dulu ya Bun…sederhana tapi mendidik. Skrg aja lagu anak2 gak ada yang bagus….masak kecil2 nyanyinya cinta2an duh…jadi ngelus dada deh. semoga anak2 kita dilindungi dari pergaulan yang buruk ya bun, selamat berpuasa juga ya buat sekeluarga…🙂

  9. Saya setuju sekali sama bunda, tayangan tv sekarang sangat tidak pantas ditonton oleh anak-anak.
    Hampir tidak ada tayangan yg mendidik.
    Apalagi dengan adanya aksi pemukulan pada OVJ walaupun memakai styrofoam tapi anak-anak tidak tau kalau itu bahan lunak.
    Jadi lebih baik memberikan mainan yg bermanfaat untung anak😀
    Yah walaupun agak berantakan narohnya kaya gambar Berantakan-Webnya bunda hehe

  10. […] Hati-hati & Bijak Menonton TV […]

  11. saya sih jarang nonton tv. palingan kalo siaran olahraga seperti sepak bola saja.. hehe.. tapi memang bener ya, tayangan di televisi sekarang seharusnya orang tua lebih hati hati.. apalagi buat anak anak, takutnya akan berdampak pada saat mereka remaja. buktinya sekarang banyaknya kenakalan remaja yang terjadi, itu jelas merupakan faktor dari tontonan tv..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: