Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

a Big Change in a Life

Posted by BunDit on February 9, 2012

—– rehat sejenak dari kesibukan, mau nulis ini dulu—–

Akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuat Bunda termenung dan semakin mengukuhkan kenyataan bahwa kita kadang tidak tahu, di satu titik hidup kita bisa berubah.  Bahkan sangat berubah. Walau kita telah sekuat tenaga berikhitiar untuk membawa mimpi kita ke sebuah kenyataan yang kita inginkan, tapi kita tidak akan sanggup mengubah keputusan sang Penentu Akhir.

Kejadian pertama

Akhir Januari 2012 kemarin (lupa tanggalnya euy), Bunda terpaksa cuti mendadak karena Teh Dela lagi gak enak badan akibat batuk pilek cukup parah. Bunda sendiri juga pas lagi lemes2nya kena “lampu merah”. Di kantor juga lagi tidaj ada meeting atau hal yang urgent. Jadi situasi yang pas banget buat mengajukan cuti. Karena gak masak, siangnya Bunda beli lauk ke luar. Waktu pulang, sampai di depan rumah, eh ketemu tetangga yang sedang keliling naik motor sama anaknya yang kecil, sedang anak pertamanya main sepeda. Bunda tegur “Lho bu, hari ini cuti juga?”. Akhirnya terlibatlah kami dengan obrolan yang seru. Ibu tetangga, yang dulu pernah Bunda ceritakan mengenai penyesalannya pindah kerja itu, ternyata per akhir Desember 2011 sudah resign.

Iya bu Ririn, saya memutuskan resign karena sudah gak kuat, pekerjaan makin banyak, tetapi orang gak ditambah. Saya jadinya pulang malem terus, kasihan anak-anak. Kalau kantornya dekat kayak Bu Ririn sih enak”

Bunda cukup kaget dengan pemberitahuan ini. Gak nyangka aja, ibu itu mengambil keputusan yang cukup besar dalam hidupnya. Selanjutnya tetangga menceritakan bagaimana perusahaannya yang makin berkembang tapi tidak menambah pegawai, jadinya semua tambahan pekerjaan harus dihandle oleh orang lama. Kata tetangga, banyak juga temannya yang mau resign. Belum reda keterkejutan Bunda, tetangga itu memberi informasi lagi.

“Suami saya juga resign dari kantornya sekarang bu. Barengan sama saya resign nya, akhir Desember kemarin. Sekarang pindah kerja yang kantornya di Tomang…”

Bunda makin terkejut lagi. Karena kantor lama suaminya ini deket banget dengan perumahan kami, kalau naik motor paling 10-15 menit, lhaa kok malah pindah yang jauh. Piye to?

“Suami pindah kerja karena mencari kesempatan yang lebih bagus. Perusahaan tempat kerja yang baru sekarang sedang membuka pabrik baru di Surabaya dan nanti suami saya mau ditempatkan di sana”

Jleb!.

“Makanya sekarang saya sedang menikmati di rumah dulu nih. Main sama anak-anak. Nanti saya juga rencana mau ambil sekolah PGTK, pengin jadi guru TK nih. Yaaa…siapa tahu nanti di Surabaya bisa kerja sebagai guru TK, kan enak pulangnya setengah hari hehehehe”

Wow. Bunda sampai ternganga. Dalam waktu yang bersamaan, suami istri tetangga Bunda ini telah membuat keputusan yang sangat besar dalam hidupnya. A big change. Dari yang bekerja di kantor menjadi tidak lagi. Dari tempat kerja yang nyaman dan dekat, menuju tempat kerja yang lebih jauh, bahkan akan ditempatkan di luar kota.

Bunda jadi berpikir sendiri, sudah cukup lama Bunda bekerja di kantor yang jaraknya cukup dekat dengan rumah, jarang pulang malem-sampai rumah rata-rata jam 6 lah, kalau pulang tenggo bisa jam setengah 6, tapi kalau ada problem sekali2 pulang malem bisa jam 1 dinihari bahkan menginap (menginap di kantor terakhir waktu th 2007, pas pengantin baru :D), ritme kerja yang bisa dibilang cukup stabil, walau kadang bergejolak sesekali, Sabtu Minggu jaraaaang banget harus ngantor walau setiap libur akhir tahun kudu masuk. Comfort zone banget. Intinya sehari-hari masih punya cukup waktu buat bersendau gurau dengan Dita lah. Walau waktunya gak banyak sih, tapi Insya Allah berkualitas. Yaaa…walaupun begitu,  comfort zone itu bisa jadi gak abadi. Tapi untuk sekarang cukup nyaman lah🙂

Dengan situasi seperti ini, jadi gak kebayang, cukup nyalikah Bunda membuat sebuah perubahan dalam hidup yang menyangkut soal pekerjaan dengan sengaja?. Bukan karena didorong situasi. Kalau tetangga Bunda mungkin didorong karena situasi kantornya yang membuat dia harus memilih. Misal beranikah berhenti bekerja dari kantor dan memilih kerja di rumah?. Bahasa kerennya menjadi Working At Home Mom.  Atau jangan berhenti deh, beranikah pindah kantor? Mungkin butuh the power of kepepet dulu kalau ini hahahahah.  Tapi jujur, kadang terbersit keinginan juga untuk membuat perubahan yang besar dalam hidup, tentunya perubahan yang semakin baik buat diri pribadi dan keluarga🙂

Kejadian kedua

Sabtu kemarin (4 Februari 2012), temen-temen kos di Rawamangun berencana mau kumpul-kumpul di apartemen salah satu temen kos dulu. Bunda bersemangat sekali, secara lama gak ketemu. Kirain ngumpulnya pagi gitu, eh ternyata jam 4 sore. Bunda mikir waktu tidurnya Dita aja. Kalau ada Bunda di rumah, Dita tidur siangnya suka molor dari jam 2 sampai jam 4 bahkan lebih, alamat gak bisa ngumpul deh. Pas siangnya Bunda suruh aja Dita tidur jam 1 siang, walau agak susah dan masih pengin main, akhirnya Dita bisa tidur jam 1, dan bangun sendiri jam setengah 3 sore. Jadi cukup waktu deh. Setelah mandi dan siap2, lagi2 pesen taksi dong secara Ayahnya Dita kuliah. Naaah, ini kekesalan yang ke-2 soal nunggu taksi, setelah kekesalan pertama waktu mau ke ultahnya temen Dita. Mungkin karena habis hujan, jadinya taksi di pool deket rumah gak ada yang stand by. Nelpon Taxiku juga sami mawon. Akhirnya setelah gak sabar menunggu, Bunda naik angkot sama Dita, turun di pool Taxiku, langsung cabut ke Apartemen Jeng Lusi di MOI, Kelapa Gading. Alhamdulillah jalanan lancar, jadi gak bete’.

Oh ya sempet agak kesel sama drivernya. Hehehehe Bunda kesel mulu ya?. Kebetulan dapat sopir yang gak begitu nice. Ditanyain tentang situasi jalan, jawabnya gak semangat gitu. Waktu sampai tujuan, argo menunjukkan 34ribu sekian. Uang Bunda 50rb. Katanya gak ada kembalian. Kalau orgnya nice, Bunda ikhlasin aja deh bayar 50rb. Tapi kemarin bunda terpaksa sibuk banget nukarin uang ke penjaga lobby apartemen, katanya gak ada. Eh pas ada mbak-mbak baru datang dan duduk di lobby, bunda minta tuker uang, eh alhamdulillah ada. Bunda kasih deh driver nya 35rb. Muka driver nya udah sengak banget sambil bilang minta ditambah seribu buat parkir, akhirnya Bunda tambahin 5rb hehehe.

Temen2 kos dari Rawamangun ternyata sudah sampai duluan. Horeee akhirnya ketemu tante Lusi, Tia, Ade, Arum dan Teta.  Dita seneng banget deh di sana, secara apartemen 2 lantainya baguuuusss. Acaranya ya langsung makan2 dan ngobrol aja. Dita lahap makan siomay dan mie, sambil digodain dan ditanggap sama tante2 cantik. Bunda cerita kalau Dita lagi suka Angry Bird, eh tante Tia nyodorin iPhone nya, katanya ada game Angry Bird nya. Langsung deh Dita keasyikan main. Bunda gak jarin aja, Dita langsung bisa mainnya. Anak-anak emang canggih soal main game ya. Ini dia gaya Dita main game Angry Bird.

Ngelihat begini, Bunda gak akan beliin gadget dulu buat main games deh, bisa seharian main games nih anak. Karena Dita paling susah dialihkan kalau sudah keasyikan begitu. Mungkin nanti kalau sudah agak gedean, boleh lah, meski mainnya dibatasin.

Nah, pas Dita asyik dengan game Angry Bird nya, kami ngobrol ngalor ngidul lah. Dan ada kabar gembira, tante Lusi sudah punya calon suami, orang Amrik yang tinggal di Amrik, daaaan mereka mau nikah bulan Agustus ini. Yeayyy..ikut seneng deh🙂

“Jadi kamu nanti ikut suami tinggal di Amrik dong Lus. Melepaskan pekerjaan disini?”. Itu pertanyaan yang diajukan temen2 yang lain termasuk Bunda.

“Ya iya laaah” Jawab Lusi.

Jleb!. Another a Big Change.

Kebayang gak sih?. Tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa ternyata jodoh kita orang bule. Trus menikah dan tinggal di negeri orang nun jauh disana. Meninggalkan orang tua, saudara, teman, pekerjaan, dan semua yang sudah lekat dalam kehidupan kita sebelumnya. Bunda sih gak kebayang, maksudnya gak kebayang ada orang bule yang mau nikah sama Bunda sih hahahah:mrgreen:.

Tapi intinya memang banyak hal-hal yang membuat kita mengalami perubahan besar dalam hidup. Ya, perubahan itu karena keputusan kita. Kita yang menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Karena hidup memang berisi pilihan2. Walau kadang pilihan itu kita ambil dengan ikhlas atau karena memang harus memilih, tapi tetaplah sebuah pilihan, yang bisa jadi membawa perubahan besar dalam hidup.

Doa Bunda sekeluarga, semoga lancar mengurus pernikahannya di Amrik nanti ya tante Lusi, dan bahagia di sana. Jangan lupa undang2 kita ke sono hehehehe😀

Karena takut macet ke arah Bekasi, kami pulang jam 21.30. Bunda pulangnya kan ke Bekasi, kalau yang lainnya mah deket ke Rawamangun. Mau minta jemput Ayahnya Dita, kasihan lah capek pulang kuliah dan lagian emang sengaja gak minta dijemput biar bebas ngobrolnya😀. Akhirnya Bunda dan Dita ngikut mobil tante Tia (ehm…mobil baru nih, Mazda 2 merah menyala ;-)- sampai boulevard KG. Ngelihat ada taksi blue bird kosong, langsung berhenti dan Bunda sama Dita langsung cabut naik taksi ke rumah. Dita masih on di sepanjang jalan sambil nyanyi-nyanyi, tetapi trus tepar saat mau nyampe rumah. Alhamdulillah jam 11 an malam selamat sampai rumah🙂

PS. Kemarin gak ada sesi foto2, soalnya di sana pada lepas jilbab semua (Bunda, Ade, Tia). Yang ikut kefoto di atas cuma Arum, Lusi dan Teta. Formasi nya seperti dulu pas main di Bogor, minus Ida.

25 Responses to “a Big Change in a Life”

  1. Elsa said

    very very very big change yaa…
    mereka orang-orang yang berani meninggalkan zona nyamannya masing masing.
    aku jadi mikir Bun, sepertinya aku gak seberani mereka mengambil langkah yang benar-benar drastis gitu

    mereka tampak sangat yakin akan masa depannya, optimis.
    sebenarnya bagus kan?

    hehehehe iya mbak, mereka menghadapinya sangat optimis, jd salut deh🙂

  2. ~Amela~ said

    wah, dita terlihat asik banget itu maen gamenya,,
    kebetulan bajunya dita juga angry bird ya bund?

    Iya mbak, Dita sekarang Angry Bird mania🙂

  3. BIG CHANGE…

    siap gak ya……..kalo aq keluar dari zona nyamannnnn

    Hayooo siap gak? hehehe

  4. wuih smpt ttegun jg yg suami istri resign barengan

    Yoi bun🙂

  5. Hmm….ini yang saat ini berkutat dalam pikiran saya bun…satu sisi saya merasa blom siap..saya masih ingin bekerja, tapi satu sisi melihat kinan dirumah dan hampir setiap malam bertanya..”Mama besuk Kerja” deg…saya merasa sedih dan bersalah…belom lagi galau galau lainnya kalo ada masalah dan sedikit membutuhkan perhatian besar…hmm..
    sementara ini saya hanya berdoa dan berserah…semoga diberi jalan yang terbaik untuk dilema hati ini…Tfs bun…nice posting jadi pengingat untuk saya…

    Ya…semoga saat kita memutuskan sesuatu yang mengubah hidup kita, telah kita pikirkan masak2 dan menerima segala resikonya ya. Dan tentu saja keputusan yang kita ambil adalah pilihan yang terbaik🙂

  6. Lidya said

    big change itu pernah aku rasakan bun, waktu memilih resign dan tidak bekerja lagi 1 bulan sebelum menikah. itu sudah pilihan dan disetujui oleh calon suami waktu itu. apapun kendalanya harus bisa dilalui

    Yang terpenting saat memutuskan sesuatu itu tidak lagi galau dan haiqul yaqin ya mam🙂

  7. Evi said

    Karena kita makhluk dinamis, perubahan pasti akan terjadi pada semua orang ya Mbak. Kemarin tetangganya dan besok2 kita pasti juga kena giliran, walau kejadiannya gak persis sama🙂

    Benar sekali mbak🙂

  8. sari said

    ada yang bilang kalo ingin membuat langkah besar, ga ada salahnya mundur sedikit…nyambung ga sih bun…haha malah nanya…

    iya kadang kalau udah di zona nyaman, susah banget buat mengambil keputusan yang dirasa ekstrim, padahal mungkin itu jalan yang ditunjukkanNya…

    Mungkin maksudnya perlu penyesuaian diri bun dan ancang2 buat membuat langkah ke depannya. Tapi saya sih percaya ya, apapun pilhan kita kalau dijalankan dengan hati mantap, Insya Allah menghasilkan yang terbaik🙂

  9. Bahasan yang berat nih bund.. soalnya yang kayak gini sering jadi dilema banyak orang. Tapi itulah hidup ya, siapa bilang gak bakal ada dilema apalagi kalo cuma sekedar drama, diungkapin atau gak, pasti ya ada aja😀

    Barusan, kakak iparku juga ambil keputusan resign dari kantornya, Bund, padahal di situ dia udah lebih dari 10 tahun lho kerja. Tapi akhirnya demi kebaikan bersama dia undur juga, lagian usaha songketnya juga udah makin maju aja yang mana ternyata penghasilannya dari songket jauh lebih daripada penghasilannya kerja kantoran😀. Itulah Bundit ya, memang dalam setiap keputusan kita harus banyak pertimbangannya, jangan hanya karena emosi aja. Kakak iparku juga sebenarnya udah lama pengen berhenti dan baru akhirnya benar-benar terwujud setelah usahanya lebih settle🙂

    Salut buat kakak ipar yang berani mengambil langkah besar dalam hidupnya. Ah ngomong2 soal songket, saya sebenarnya pengin posting soal songket juga. Duuuh, kelamaan hiatus sih jadi banyak yang terlewat tertuang ke blog🙂

  10. hidup iini memang harus memilih dan tntunya diupayakan agar pilihan yang kita putuskan tidak salah. Yang penting bagi kita, adalah terus berusaha & berdoa, setelahnya, serahkan semuanya pada yang Maha Menentukan.

    Setuju mas Mab🙂

  11. Monda said

    mungkin ada tipe2 orang yg gampang memutuskan suatu perubahan, kl aku sih musti mikir sejuta kali

    kita setipe bun..😀

  12. ke2nai said

    utk keluar dr zona nyaman, selain butuh pertimbangan yg matang juga butuh nyali🙂

    yoi bun, setuju🙂

  13. Gaphe said

    terkadang memang menghadapi banyak perubahan membuat seseorang harus memilih.. dan begitun sudah memilih maka harus siap dengan resiko yang mungkin muncul dari pilihan itu yah.. tapi apapun pilihannya moga dijalani dengan yang terbaik

    Benar sekali mas Gaphe🙂

  14. Mungkin kalo disamakan dengan tipe investor, aku masuk yang risk-taker ya, Bun. Heu heu…
    Sebenarnya aku termasuk orang yang takut untuk membuat keputusan,makanya aku dulu gak bisa disuruh memilih. Sampai suatu hari boss aku yang londo itu bilang ke aku kalo aku ingin maju, maka aku harus berani untuk mengambil keputusan. Tentunya saat memilih dan memutuskan,kita harus siap dihadapkan dengan resikonya.
    Tapi tetep aja, setiap ngambil keputusan, aku selalu pikirkan bener-bener banget.
    Intinya memang hidup itu pilihan kok,Bun. Sekarang tinggal kita mau pilih yang mana.

    Heheheh dari cerita2 di blog nya mam Indah, sudah keliahatan mam Indah ini risk taker kok hehehe

  15. Allo bunda-nya Dita, sista Ririn salam kenal. Ceritanya jadi bikin memory lama muncul lg. Sekitar 7 thn yl kami sepakat untuk ujug2 pindah antar benua. Cuma dalam waktu 1mg kt tinggalkan home sweet home bahkan gak sempet garage sale, akhirnya semua barang2 dibagi2 ke tetangga + temen2 kantor. Alhasil mulai saat itu kt jd pasangan yg cuma bbekal koper kemana2. Jadilah kami Nomads. Kl melihat kbelakang, aku cm bs bilang: “NEKATZ MEN!” LOL

    Salam kenal juga mam. Hehehe..gak papa nekats..yang penting happy🙂

  16. Susu Segar said

    wah wah. . . .. zona aman dan tak aman. . .. . .

  17. Hebat, aku punya keberanian sebesar itu ga yah.. memang susah ya ninggalin comfort zone. Eh toss ama Zahra nih suka angry birds😀

    Mungkin itu udah fitrah manusia ya, kenyamanan ya gak mau lah ninggalin😀. Wah toss sama Dita🙂

  18. vera said

    hidup itu memang gak selamanya ada di comfort zone. Aku juga suka deg degan nih bun, karena suami juga termasuk yg pekerjaannya kudu siap2 dimutasi. ini udah 5 taun belom dimutasi, feelingku bakal bentar lg nih dipindah, entah kemana…yg bikin bingung dan ribet itu klo anak udah sekolah, musti pindah2, bayar uang pangkal lagi…nyesuain ama lingkungan baru lagi. aku juga termasuk yg susah menyesuaikan diri di lingkungan baru. tp hidup kan hrs dijalani ya..

    Y nanamanya masih sebuah kehidupan, perubahan itu pasti ya mam. Life must go on🙂

  19. entik said

    aku juga ada di comfort zone untuk urusan pekerjaan. Kantor deket rumah (cuma 5 menit naek motor) dan ga ada mutasi-mutasi. Udah nyaman senyaman-nyamannya hehe..

    Hehehhe perlu disyukuri itu jeng. Kalau kerja di Jogja mah nyamaaaan banget jeng, gak ada macet2 kayak di Jakarta🙂

  20. Sori Bun baru mampir disini. Lagi riweuh coz Nyokap mudik jadi semua dihandle sendiri hiks😦

    kami udah pernah loh ngerasain keluardari comfort zone. Dan alhamdulillah ternyata hidup semakin berwarna😉

    Sukses Bun, apapun keputusan yang akan diambil ke depannya🙂

    Ka Ditaaaaa, kapan neh mo maen sama Zahia & Zafira??🙂

  21. wahh hebat yach tetangga dan temannya…benar2 berani mengambil keputusan yang sangat besar dalam hidupnya….aku juga dulu sering pindah2 kerja tp krna terpaksa…yg skrang mau resign juga krna terpaksa…tp sm bos belum dikasih…mgkin memang msh rejeki aku kali yach heheh…..

    Maksudnya belum rejekinya resign ya mam😀

  22. fety said

    setiap orang mmg punya pertimbangan sendiri yah, Bund🙂 Btw, ttg sopir taksinya, hmm, kayaknya gak usah ditambahin aja bund lain kali. enak bgt yah bilanggak ada kembalian.

  23. mamaray said

    weeee….. aku juga pengen resign, Mbak Rin… demi anak-anak, Mbak… kasihan, cuma sama ART di rumah, nyampe rumah paling cepet jam 7 malem, Mbak. Apalagi ini si Kakak mau masuk SD, pengeeen nemenin belajar dengan fun…

    *malah curhat, wekekek

  24. riliarully said

    hiks..aku jg sering dilema Bun, soal keluar dari zona nyaman..suamiku belum lama juga pindah kerja dg harapan bs lebih mapan tp kemapanan itu lebih menguras banyak waktu buat keluarga..dan aku?? masih selalu memundurkan target untuk keluar dari zona sekarang..setelah timbang sana sini..dan udah sempet ngomong ke boss…dan bossku minta bertahan dulu,,ceperrr lagi😦
    Hidup memang harus memilih ya..dan smua pilihan selalu ada konsekuensinya..
    Ya smoga apapun pilihan kita tetap diridhoi Allah ya Bun dan baik buat keluarga kita😦 hiks..kok jd mewek…

  25. Evy said

    Ah aku juga termasuk yang susah ninggalin comfort zone. Mungkin kalo terpaksa milih lain lagi ceritanya ya hehehe.
    Btw apartment temennya keren deh bun *salahfokus*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: