Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Resensi Who Moved My Cheese?

Posted by BunDit on May 2, 2011

Re-Post dari Blog Lama secara otomatis dengan schedule untuk menjaga irama detak jantung blog ini. Bunda training 2 minggu (2-13 Mei 2011) jadi mohon dimaafkan jika intensitas BW berkurang ya teman-teman. Thanks🙂

___________________________________________________________________________________

Sebenarnya versi Inggris buku ini sudah lama banget terbitnya, tahun 1998 tapi isinya masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Saya aja sempat meresensi akhir th 2001 (9 tahun lalu!). Bukan resensi layaknya pakar resensi lho. Masih amatiran lah. Waktu itu sempat saya posting milist pasarbuku. Sekarang sih sudah gak pernah ngikutin milist itu😦 . Padahal asyik lho disana, jadi melek banget soal buku dan perkembangannya.

OK, kembali soal buku ini. Who Moved My Cheese ini sangat bagus untuk memotivasi kita bagaimana seharusnya menghadapi perubahan dalam dunia kerja atau bahkan dalam kehidupan kita. Nah, daripada resensi amatiran ini teronggok di hardisk laptop saya, saya posting deh di blog saya yang masih kinyis-kinyis tercinta ini . Ulasannya lumayan panjang…dibutuhkan kesabaran buat membacanya, kalau berminat membacanya sih😀

WHO MOVED MY CHEESE?
An Amazing Way to Deal With Change In Your Work and In Your Life
Written by Dr. Spencer Johnson, 1998

*****

Buku ini secara lugas tapi menarik mengungkapkan bagaimana menghadapi perubahan yang terjadi dalam pekerjaan dan kehidupan kita. Hal yang dibicarakan di buku ini sesuatu yang cukup kompleks dan secara yakin pernah di rasakan oleh setiap orang. Namun penulis secara brillian mampu mengangkat topik ini dan memaparkan solusinya dengan sangat sederhana tapi mengena. Penulis tidak menyodorkan teori-teori yang berat tapi justru sebuah cerita singkat yang melibatkan 4 karakter imajiner yaitu 2 ekor tikus bernama Sniff dan Scurry dan 2 orang kurcaci bernama Hem dan Haw.

**
Keempat tokoh ini mencoba mewakili suatu bagian yang sederhana dan kompleks dari diri kita dengan tidak memandang umur, jenis kelamin, ras ataupun kebangsaan. Sniff digambarkan sebagai seekor tikus yang dapat ‘membaui’ perubahan dengan segera. Temannya, Scurry, sesuai dengan namanya selalu sigap dalam mengambil suatu tindakan. Sedang kurcaci Hem memiliki sifat selalu menolak dan melawan perubahan yang terjadi sehingga timbul rasa takut yang membawanya ke arah sesuatu yang lebih buruk. Sedang Haw mencoba beradaptasi setiap saat sehingga sesuatu yang lebih baik siap digapainya. Keempatnya hidup di suatu Maze yang menggambarkan tempat kehidupan di luar kita yang penuh kegelapan dan ketidakpastian untuk mencari cheese. Maze bisa berarti organisasi tempat kita bekerja, komunitas tempat kita bersosialisasi, bahkan bisa berarti keluarga. Sedangkan Cheese disini merupakan metafora dari apa yang kita inginkan dalam hidup, bisa berupa pekerjaan, persahabatan, cinta, uang, kemerdekaan, kesehatan, kedamaian, dan lain-lain.

**
Buku ini sangat tipis, hanya 96 halaman (English version) dengan tulisan yang enak dibaca dan cukup menarik untuk dibaca berulang-ulang di saat santai. Dengan 3 bagian di dalamnya, buku ini cukup mudah diselami oleh pembacanya. Bagian pertama menghantarkan pembaca memasuki inti buku yang merupakan cerita yang dipaparkan oleh seseorang kepada teman-temannya dalam suatu reuni sekolah. Setelah inti cerita di bagian kedua, buku ini diakhiri dengan menggelar diskusi yang membahas cerita tersebut di bagian ketiga.

*****
Who Moved My Cheese? mengisahkan 4 karakter tokoh, Sniff, Scurry, Hem, dan Haw yang mencari cheese di Maze yaitu suatu labirin yang gelap dan sering menyesatkan. Sniff, si tukang endus dan Scurry, si tukang lacak mulai berlari cepat menyusuri lorong. Dengan menggunakan instingnya, mereka memilih metode trial and error. Sering kali mereka tersesat ke jalan yang salah, tapi mereka terus mencoba mencari jalan yang lain. Sedangkan Hem dan Haw dengan kemampuan berpikir dan belajarnya juga berusaha mencari cheese yang lezat. Akhirnya keempatnya menemukan tumpukan cheese di suatu tempat bernama Cheese Station C. Mereka sangat bersuka cita dan mulai menikmati kelezatan Cheese tersebut sepuasnya. Setelah itu, setiap hari mereka rutin mengunjungi Cheese Station C. Sniff dan Scurry selalu bangun pagi menuju tempat itu, melepas sepatu, mengikat keduanya dan menggantungkan di lehernya, dan sebelum menikmati cheese, mereka memeriksa tempat itu apabila ada perubahan. Hem dan Haw mula-mula juga selalu bangun pagi namun lama kelamaan karena mereka sudah tahu jalan menuju cheese itu, mereka mulai bangun siang dan berjalan santai. Hem dan Haw merasa bahagia dan puas dengan tempatnya yang baru sehingga mereka menjadi arogan.

**
Suatu hari mereka berempat menemukan bahwa Cheese Station C kosong. Cheese telah hilang!! Sniff dan Scurry tidak kaget dengan kenyataan itu karena mereka sadar bahwa cheese itu lama-lama akan habis karena setiap hari dimakan. Mereka siap dengan keadaan yang tak terelakkan ini. Segera saja Sniff dan Scurry memakai sepatu dan langsung berlari mencari cheese yang baru. Mereka melihat bahwa Cheese Station C telah berubah, maka merekapun memutuskan untuk berubah. Beda sekali dengan reaksi Hem dan Haw dalam menghadapi ini. Mereka kaget, marah, dan berteriak keras “Who Moved My Cheese?”. Hem menilai keadaan ini tidak adil karena mereka merasa berhak menikmati cheese itu selamanya dan menyalahkan orang lain yang telah memindahkan cheese itu. Sedang Haw mulai berpikir, bagaimana hal ini bisa terjadi. Mereka berdua takut, bagaimana mereka akan bisa hidup tanpa cheese itu.

**
Di lain tempat, Sniff dan Scurry masih berlari kesana kemari tanpa kenal lelah mencari cheese yang baru. Berulang kali mereka melewati jalan buntu dan memasuki tempat yang kosong, tidak ada cheese. Tapi mereka terus mencoba. Akhirnya mereka sampai di suatu tempat bernama Cheese Station N yang berisi cheese. Cheese di situ ternyata lebih lezat dari cheese di tempat yang lama. Mereka menikmatinya dengan puas.

**
Hem dan Haw masih terus mendatangi Cheese Station C dan berharap cheesenya kembali. Tapi harapan mereka sia-sia. Hem diam dan putus asa. Sedang Haw mulai tidak tahan dengan keadaan seperti itu dan mencoba mencari cara untuk bisa menemukan cheese itu. Keduanya lantas memahat dinding tempat itu, ternyata cheese yang dicari tetap tidak dapat ditemukan. Haw mengajak Hem mencari cheese yang baru di luar. Tapi Hem menolak karena dia masih yakin cheesenya akan kembali dan berpikir bahwa belum tentu mereka akan memukan cheese di luar sana. Diam-diam Haw juga didera rasa takut untuk memasuki tempat-tempat asing yang gelap dan menyesatkan. Tapi dia telah membayangkan bahwa di luar sana dia akan mendapatkan cheese yang lezat. Haw menertawakan kebodohannya. Mengapa dia hanya membayangkan tapi tidak berusaha keluar? Karena Hem tidak mau diajak, Haw pergi sendiri. Di sepanjang perjalanan dia disergap rasa takut yang amat sangat. Ada kalanya dia ingin kembali ke tempat semula yang enak dan aman, tapi dia menyadari bahwa disitu tidak ada cheese lagi. Anehnya, semakin lama dia merasa langkahnya semakin ringan. Dia merasa nyaman telah terbebas dari rasa takutnya dan sangat menikmati saat melakukan hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Di sepanjang jalan dia memberi tanda dengan menuliskan sesuatu di dinding. Dia berharap hal itu bisa dijadikan jejak yang dapat diikuti Hem, sahabatnya, jika Hem berniat menyusulnya. Akhirnya dia sampai di Cheese Station N dan menjumpai Sniff dan Scurry yang tengah menikmati cheese. Haw begitu gembira dengan penemuannya dan bersama-sama Sniff dan Scurry menikmati cheese yang lezat. Haw hanya bisa berharap berharap Hem segera dapat melepaskan diri dari rasa takut dan segera bergerak ke tempat lain.

**
Penulis cukup jitu membidik permasalahan dan menawarkan solusi dengan cara yang sederhana. Kompleksnya topik serasa ringan dengan balutan cerita yang menarik. Membaca inti buku ini seperti membaca dongeng untuk pengantar tidur tapi makna yang ingin disampaikan justru membuat kita harus tetap terjaga. Replika kehidupan yang diwakili 2 ekor tikus dan 2 kurcaci itu cukup menggambarkan apa yang terjadi di kehidupan kita sebenarnya. Saat membaca perilaku Sniff, Scurry, Hem atau Haw kita dapat merasakan selama ini diri kita seperti karakter yang mana. Dan seolah kita dibawanya mengulang kembali apa yang telah kita lakukan saat kehidupan kita mengalami banyak perubahan. Bagaimana kita bersikap saat sesuatu yang berharga pernah lepas dari genggaman kita.

**
Who Moved My Cheese? melalui 4 karakter tokohnya sangat berhasil membawa angin segar dalam memberi pencerahan bagaimana cara mengantisipasi perubahan, beradaptasi dengan perubahan secara cepat, menikmati perubahan dan selalu siap dengan perubahan yang terjadi secara cepat dan tak terelakkan. Namun bagaimanapun, semuanya kembali ke diri kita sendiri. Kita mau menjadi Sniff, Scurry, Hem atau Haw? Yang jelas, kehidupan selalu cepat berubah. Semua hal disekeliling kita bahkan apa yang sudah kita miliki bisa berubah sewaktu-waktu. Hanya perubahan itu sendiri yang tidak akan berubah.

****************

Jakarta, Nov 2001

13 Responses to “Resensi Who Moved My Cheese?”

  1. Refrensi yang cukup bagus dan dapat menambah daftar pustaka saya Mba.

    Sukses selalu.

    Salam

    Ejawantah’s blog

  2. Gaphe said

    saya pernah baca ini, disini banyak hal yang dikiaskan tapi bener banget sama realita yang kita hadapi didunia nyata.

    keren..

    kalo nggak salah ada yang versi buat anak-anak juga.

  3. bekti said

    Bukunya asiik tuh. Biasanya kalo ada tulisan “Best Seller” bukunya emang bagus, Bun. Udah khatam belum? hihi….

  4. Susi said

    Aku termasuk yang mana, ya? Musti introspeksi diri & memastikan benar agar penanganannya tepat, nih.

  5. Buku ini memang keren ya Bundit…

    Ditunggu nih cerita soal trainingnya🙂

  6. Mama Kinan said

    Hmm…kok jadi mikir, kayaknya aku sekarang lebih ke Hem?? haduhhhhhhh….moving moving..biar dapat keju yang lebih enak sesuai dengan harapan🙂 hehehe..
    Nice posting bunda dita🙂 Happy 2 weeks training ya, dont forget oleh olehnya..oleh oleh ilmu untuk diposting di blognya maksudnya🙂

  7. Lidya said

    aku suka banget buku ini bun, kebeteluan suami punya (hihihi ga mau rugi, aku minta sewaktu sebelum nikah).
    ga bosen deh bacanya

  8. jadi penasaran pengen baca bukunya…

  9. Silvi Anggraini said

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

  10. Desy Noer said

    Aku juga sukaaa buku-buku penyemangat jiwa seperti ini.

    ditunggu share hasil training nya

  11. Fitri said

    pastinya buku yg luar biasa yach bun….

  12. Enno-Mama Fira said

    wah keren niey bukunya…

  13. […] ini, gak mau pindah ah, di kantor yang sekarang aja hehehehe . Bunda sadar sih menjadi Hem dalam who moved my cheese?. Tapi…ya itulah […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: