Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Imunisasi Untuk Dita

Posted by BunDit on February 10, 2010

Awalnya Bunda dan Ayahnya Dita berencana hanya memberikan imunisasi yang wajib plus 1 yang dianjurkan yaitu Hib saja untuk Dita. Ceritanya disini. Alasan Bunda waktu itu adalah hasil berdiskusi dengan Ayahnya Dita yaitu meminimalisasi masuknya “cairan asing” ke tubuh Dita. Jadi membiarkan tubuh Dita membentuk antibodi nya sendiri untuk melawan segala penyakit yang datang.

Dengan berjalannya waktu, Bunda mulai membaca-baca lagi informasi seputar imunisasi ini. Salah satunya dengan bergabung  di milist Sehat. Awalnya memang Bunda “terpengaruh” dengan beberapa teman yang bilang “orang dulu aja tidak diumunisasi sampai sekarang sehat-sehat saja, kenapa sekarang harus imunisasi macam2?” . Cuma setelah Bunda renungkan lagi, kalimat tsb jadi tidak logis. Orang-orang jaman dahulu tidak diimunisasi tapi sehat saja karena dulu bisa jadi belum marak berbagai penyakit. Lha sekarang, semakin “penuh” nya dunia, semakin ragamnya “perilaku” manusia, semakin banyak lah “tercipta” beragam penyakit. Jadi Bunda pikir, anak-anak yang lahir sekarang selain mengkonsumsi makanan sehat, perlu dilengkapi senjata berupa imunisasi untuk melawan penyakit. Seperti dipaparkan di milist. imunisasi tidak menjamin anak tidak terjangkit penyakit. namun misal terjangkit pun, Insya Allah akibatnya tidak begitu parah dibanding tidak diimunisasi. Ya lebih baik mencegah daripada mengobati kan?

Nah, oleh karena itu setelah usia Dita memasuki 1.5 th, dan imunisasi wajibnya sudah lengkap (imunisasi ulangannya nanti umur 5-6 th lagi), Bunda mulai konsentrasi ke imunisasi yang dianjurkan. Pas umur 19 bulan Dita diimunisasi influenza. Selanjutnya sebelum Dita 2 th Bunda mau jadwalin imunisasi Varicella dan MMR. Setelah lepas 2 tahun baru imunisasi Hepatitis A dan Tyfoid.

Imunisasi MMR

Berdasarkan jadwal IDAI, imunisasi MMR dijadwalkan usia 15 bulan. Namun Bunda sengaja menunda nya. Berita mengenai MMR mengakibatkan autisme memang banyak yang membantah. Tapi Bunda memilih amannya saja. Menundanya sampai usia Dita menjelang 2 th.

Imunisasi Varicella

Kalau berdasarkan jadwal imunisasi IDAI th 2007 yang terlampir di buku kesehatannya Dita, Imunisasi Varicella1 di usia 12-15 bulan dan diulang umur 5 th. Sedangkan di jadwal IDAI terbaru th 2008, imunisasi Varicella dijadwalkan umur 5 th ke atas saja. Tapi membaca bahwa penyakit cacar air tidak bisa dipandang remeh berdasarkan info dari http://www.cdc.gov/vaccines/vpd-vac/varicella/downloads/pg_why_vacc_varicella.pdf , maka meski termasuk telat untuk imunisasi Varicella1, Bunda mau melakukannya untuk Dita Insya Allah bulan depan, saat Dita usia 21 bulan.

Imunisasi Tyfoid dan Hepatitis A

Untuk ke-2 imunisasi ini, sesuai jadwal IDAI, Bunda mengagendakan saat Dita berusia 2 tahun ke atas.

Imunisasi IPD/PCV

Berdasarkan info dari milist Sehat, imunisasi ini tidak efektif untuk diterapkan di Indonesia. Alasan detilnya, ada baiknya simak posting dr. Purnamawati, sang empunya milist Sehat di

Oleh karenanya Bunda memutuskan untuk saat ini tidak mengimunisasikan vaksin IPD yang harganya muahal banget ini (sekitar  900rb-an), walaupun di cover kantor Bunda.

Trus bagaimana dengan cara imunisasi untuk Dita? Secara simultan kah? Imunisasi simultan adalah pemberian vaksin lebih dari 1 dalam 1x kunjungan dan pada bagian tubuh yang berbeda. Beda dengan vaksin combo yang dalam 1 suntikan ada lebih dari 1 jenis vaksin. Di milist Sehat sangat direkomendasikan imunisasi simultan. Namun IDAI sendiri setahu Bunda tidak pernah memberikan pernyataan secara resmi di websitenya mengenai imunisasi simultan (CMIIW). Entah kenapa. Memang tidak banyak DSA yang mau melakukan imunisasi simultan, DSA Dita pun juga menolak. Alasannya? Secara teori gak masalah cuma kenapa harus terburu-buru? Kalau DSA mantan temen SMA Bunda, saat Bunda tanya soal ini jawabnya juga tidak setuju dengan imunisasi simultan karena pertama, kasihan anaknya disuntik di beberapa bagian tubuh, kedua, ditakutkan tubuh tidak bisa membentuk antibodi yang diharapkan saking banyaknya imunisasi yang masuk. Tapi temen Bunda bilang, dia akan melakukan imunisasi simultan dalam keadaan tertentu misalnya puskesmas letaknya jauh dsb. Ya, sah-sah saja sih beda DSA beda pendapat. Paling pasien seperti kami ini yang jadi bingung hehehe😀

Centers for Desease Control and Prevention (CDC) sendiri memberi pernyataan bahwa imunisasi yang dilakukan secara simutan itu aman. Referensinya di http://www.cdc.gov/vaccinesafety/Vaccines/multiplevaccines.html#4 .

Keuntungan imunisasi simultan, Bunda kutip dari milist Sehat :

  • Mengurangi jumlah kunjungan ke dokter atau RS. Tempat praktek dokter dan RS itu tempat berkumpulnya orang sakit, apalagi RS rawan infeksi nosokomial, jadi meminimalkan penularan penyakit ke anak kita yg sehat.
  • Meminimalkan trauma pada anak. Bagaimana pun disuntik kan bukan peristiwa yg menyenangkan bagi anak,  jadi kalau sekali datang, disuntik beberapa kali sekaligus lebih mending daripada beberapa kali datang, cuma disuntik sekali-sekali.
  • Mempercepat proteksi pada anak.  Tidak membuang-buang waktu menunggu imunisasi berikutnya.
  • Lebih hemat biaya ke dokter atau RS.

Bagaimana sikap Bunda sendiri? Setelah berdiskusi dengan Ayahnya Dita, kami memutuskan imunisasi untuk Dita kami lakukan satu-satu alias tidak simultan. Alasannya Bunda & terutama Ayahnya Dita gak tega melihat kesakitan Dita disuntik di beberapa bagian tubuhnya *maaf nih, cara pandang Bunda lain*. Kalau alasan imunisasi simultan adalah mutlak, Ayah Bunda akan “mengorbankan” rasa tega itu. Tapi gak masalah juga kan kalau gak simultan? Resikonya ya harus mau repot bolak-balik ke RS. Tapi Ayah Bunda gak merasa keberatan kok. Hanya soal seringnya ke RS yang artinya sering kontak dengan “hawa” RS yang bersliweran penyakit yang sebenarnya Bunda risaukan. Makanya saat imunisasi Bunda make sure Dita dalam keadaan fit sehingga tidak mudah tertular penyakit saat ke RS untuk imunisasi.

Jadi soal imunisasi simultan apa tidak simultan adalah pilihan orang tua. Dan Ayah Bundanya Dita ini memilih tidak simultan dengan memperhatikan tata laksananya. Guidance singkat soal imunisasi :

1. Perhatikan jadwal imunisasi. Jadwal imunisasi IDAI bisa di download di http://www.idai.or.id/upload/jadwalimun08.pdf. Untuk menentukan kapan tgl imunisasi berdasarkan tgl kelahiran anak, karena di web IDAI tidak ada, bisa dicoba di http://www2a.cdc.gov/nip/kidstuff/newscheduler_le/, dengan beberapa penyesuaian.

2. Tahu dulu jenis vaksin yang akan disuntikkan

  • Vaksin Hidup: Polio oral, BCG, MMR, Campak, Varicella (Cacar Air)
  • Vaksin Mati: Hepatitis A, Hepatitis B, DPT, HIB, Typhus

3. Ikuti aturan :

  • Vaksin Mati + Vaksin Mati= bisa simultan kapan saja
  • Vaksin Mati+ Vaksin Hidup = bisa simultan kapan saja
  • Vaksin Hidup + Vaksin Hidup = bisa diberikan simultan, tetapi apabila tidak simultan, diusahakan harus ada jarak/rentang pemberian minimal 2 minggu, tapi lebih baik di atas 4 minggu.

Untuk mengetahui tata laksana imunisasi secara detil, silakan gabung dengan milist Sehat.

Terus terang awal-awal imunisasi, Bunda manut saja dengan imunisasi yang dilakukan oleh DSA. Tapi ini semua jadi pembelajaran Bunda untuk lebih kritis. Banyak informasi yang bertebaran di internet. Ada yang pro, ada yang kontra. Mau mengikuti yang mana, silakan mengambil keputusan masing-masing. Karena anak adalah tanggung jawab orang tua, bukan tanggung jawab dokter atau orang lain🙂

Tapi postingan kali ini emang serasa aneh ya? Bunda memaparkan mengenai imunisasi simultan tapi Bunda sendiri gak menerapkannya. Gak dilarang kan memiliki sikap yang lain?. Jadi tulisan ini lebih untuk berbagi informasi saja. Silakan jika ada yang mau menambahkan atau menanggapi atau sharing juga soal pengalaman imunisasi anak🙂

Referensi :

Milist Sehat

CDC (Centers for Desease Control and Prevention

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

12 Responses to “Imunisasi Untuk Dita”

  1. Lidya said

    harus banyak belajar tentang imunisasi simultan nih. nanti aku boleh tanya2 ya

    BunDit :
    Kalau saya bisa jawab, Insya Allah saya jawab mam. Lha wong saya juga masih belajar. Semakin tahu banyak hal, semakin menyadari ilmu saya masih cetek banget. Ya kita sama-sama belajar ya mam🙂

  2. sari said

    Kebetulan anak saya masih masa2 imunisasi wajib..bisa dicontek ilmunya..biar ga bingung ntar :)salam kenal ya bun..udah aku link nih blognya (udah lama, tp cuma berani jadi silet rider aja selama ini) hehe…

    BunDit :
    Salam kenal mam. Kita sama2 belajar juga kok, saling sharing. Saya link balik blognya ya🙂

  3. Bun, DSA Ganesh juga gak menyarankan untuk ambil IPD walopun dicover asuransi bapake Ganesh. Katanya sebaiknya kami fokus kepada yang wajib aja.

    Aku sendiri sebenarnya bisa dibilang “melek informasi”. Tapi pada prakteknya aku gak bisa menerapkan plek-plek ke Ganesh. Semua tentu ada alasannya kenapa kita memilih untuk pro atau cukup sekedar tahu (soalnya yah dibilang kontra yah gak juga sih :p). Yang jelas semua informasi diterima, abis itu difilter dan diambil sesuai kebutuhan kita. Aku orangnya lempeng sih, Bun.😀

    BunDit :
    Bener mom, kita sebagai orang tua emang harus pinter2 memfilter semua hal terutama soal anak. Yang disayangkan emang, di era informasi yang begitu bebas ini kadang pihak2 yang berkompeten tidak mau urun rembug. Masyarakat jadinya dibuat bingung. Yaaa gitu deh😀

  4. Dewi said

    bundiiitttt… aku juga member milis sehat… hihihi…

    BunDit :
    Iya mam, banyak ilmu yang didapat dari milist Sehat🙂

  5. mounawibisono said

    halo bunda dita..lam kenal ya…saya suka bgt baca2 postingannya bunda disini, baru sekarang berani comment sekaligus izin ngelink, boleh kah?thx b4 ya…sun sayang buat dita dari baby Icha🙂

    BunDit :
    Alhamdulillah kalau ada yang suka baca postingan saya yang kadang “sok tahu” ini. Salam kenal mam. Sun sayang juga buat dedek Icha dari Dita🙂

  6. ke2nai said

    saya juga gak tertarik imunisasi simultan🙂

    BunDit :
    Ya… apapun keputusan orang tua pasti demi kebaikan anak2 nya. Dan kadang keputusan orang tua yang satu dengan yang lain itu berbeda. Saling menghargai saja bun🙂

  7. saya juga gak pernah ngasih imunisasi simultan buat Raja. Pertama, karena memang DSA-nya gak mau😀. Kedua, karena memang kami sendiri yang gak tega liatnya😀

    Tapi kalo soal imunisasi PCV, kami akhirnya memutuskan untuk memberikan imunisasi itu untuk Raja. Alasannya??? Karena pengen ngambil jalan yang aman aja. Secara, dari semua bantahan para dokter tentang imunisasi ini, semuanya hanya bisa bilang “BELUM TENTU”, “BELUM BISA DIPASTIKAN”, “BELUM DIKETAHUI”, atau “BELUM ADA PENELITIAN LEBIH LANJUT DI INDONESIA”

    Itu berarti, bantahan itu bisa benar bisa pula salah 100%. Gak pengen nyesal di kemudian hari, kami akhirnya memutuskan, memberikan Raja imunisasi ini🙂

    Well, life is about making choices and of course, we will always try to choose the right choice for our children🙂

    BunDit :
    Yupe, I absolutely agree w/ ur statement. Di milist sehat pun dr. Wati juga bilang, jika orang tua mau memberikan imunisasi PCV ini juga gak masalah. Kalau saya pribadi menghargai apapun keputusan ortu soal imunisasi. Lha wong buat anak2 mereka sendiri🙂

  8. ary said

    mmmm emang gak gampang yang kasih terbaik tuk anak ya bun, kitanya harus belajar terus n harus kritis juga. Banyak tawaran ini itu n harus disaring dulu. Smoga anak2 kita sehat2 terus ya bun … tukeran link yuk …

    BunDit :
    Amiiin. Wah sory. saya baru nyadar kalau belum ngelink blog nya mbak Ary, padahal udah bolak-balik saling kasih komen ya. Aku udah link mbak🙂

  9. elly.s said

    iya imunisasi penting say…aq jd saksi anak tetangga di palembang yg nggak diimunisasi polio malah kakinya bengkok n lama2 malah susah jalan..kasian kan…

    BunDit :
    Iya mbak, minimal imunisasi yang wajib lah, yang disubsidi pemerintah itu. Salam kenal ya mbak🙂

  10. Bun,

    Urusan imunisasi memang susah-susah gampang, memang harus banyak sharing sama ibu2 dan milis ya biar kita bisa menentukan tindakan kita terhadap anak.
    Saya sendiri memang agak2 trauma tiap mo vaksinkan Vaya, krn dulu wkt IPD ke-2 malah Kejang Demam, lalu waktu vaksin Campak malah berujung dirawat 9 hari di RS. Padahal Vy bukan anak yg sakit2an, batpil saja baru 1x sebelum dia 1thn itu, itu jg barengan dgn panas tingginya krn vaksin campak itu. Tp DSA-nya memang bilang bhw ada kemungkinan Vaya memang ga cocok dgn tipe vaksinnya jd akhirnya malah jd sakit. AKhirnya aku gak mau lagi lanjut IPD-3, bahkan utk MMR juga belum, karena vaya blum bisa bicara juga. Nanti deh klo sudah benar2 lancar baru kami vaksin MMR.
    Utk vaksin biasanya sih dia biasanya kami ambil Combo saja, biar tidak hrs suntik berkali2….🙂

    BunDit :
    Wah gitu ya mam, ada istilah gak cocok dengan jenis vaksin. Kalau MMR saya juga nunggu Dita bisa jalan dan bicara lancar. Semoga anak-anak kita selalu sehat ya mam🙂

  11. Wah good info neh Bun. Saya jadi ada tambahan ilmu tentang imunisasi. Kalo Zahia MMR udah disuntik pas umur 12 bulan coz ngikutin schedule dari Kerajaan ajah (baca: pemerintah M’sia). Di bukunya mah masih ada beberapa imunisasi lagi yang belum diberikan:

    1. Booster TA ….. umur 18-24 bulan
    2. Booste DPT-Hib (catch up)….. umur 18-24 bulan
    3. Booster Polio ….. umur 18-24 bulan
    4. Booster JE 1 ….. umur 18-24 bulan
    5. Booster JE 2 ….. umur 4,5 tahun

    BunDit :
    Iya bener, dimana kita tinggal ya kita ngikutin schedule yang ditetapkan ya Bun. Semoga dedek Zahia selalu sehat ya🙂

  12. […] by Bundanya Dita on May 24, 2010 Setelah Ayah Bunda memutuskan Imunisasi Untuk Dita tidak hanya imunisasi wajib, tapi juga imunisasi yang dianjurkan, sebelum Dita memasuki usia 2 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: