Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Rumah Yang Aman Untuk Dita

Posted by BunDit on November 24, 2009

Semakin Dita besar, semakin tinggi minat untuk mengeksplore hal-hal baru. Semua benda di sekelilingnya di pegang, digigit, bahkan dikunyah. Benda yang menarik dibanting, dibedah sampai luluh lantak. Obyek yang bisa dibuka dan ditutup tidak lepas dari eksperimen nya. Dan bagi Bunda itu adalah hal yang wajar, malah bisa dikatakan normal untuk anak seusia Dita. Jika aktifitas tersebut tidak membahayakan, mungkin tidak menjadi masalah. Tapi kenyataannya, hal-hal yang menjadi kesenangannya itu kadang-kadang membuat jantung Ayah Bunda senat senut😀

Nah, disini Bunda mau sharing sedikit mengenai hal-hal antisipatif untuk menjaga Dita yang lagi lasak-lasaknya. Terutama dalam aktifitasnya di dalam rumah. Karena selama Ayah Bunda tinggal kerja, sebagian waktu Dita kan dihabiskan di rumah. Maka sebagai orang tua, kami merasa perlu untuk menciptakan rumah yang aman bagi Dita. Memang belum semua sanggup Ayah Bunda lakukan, namun setidaknya Ayah Bunda sudah berusaha untuk itu.

Dulu saat Dita mulai bisa merangkak di usianya 9 bulan, Ayah menutup segala hal yang membahayakan yang bisa dijangkau Dita. Ekstensi listrik dengan kabel gulung, Ayah pindahkan dari lantai ke atas bufet. Kemudian karena kulkas kami tidak mepet dinding karena alasan keterbatasan tempat (maklum dapurnya sempit😀 ) , maka belakang kulkas terlihat dan bisa terjangkau. Oleh karena nya Ayah menutupnya dengan kertas karton. Karena masangnya sudah lama, jadi kartonnya sudah peyot sana sini hehehe. Hal ini cukup efektif lah, Dita tidak bisa memegang langsung pada bagian belakang kulkas yang sarat dengan kabel-kabel.

Nah, saat Dita sudah mulai bisa jalan (sekitar umur 15 bulan), muncul kegemaran barunya yaitu membuka dan menutup semua obyek yang bisa dibuka tutup. Salah satunya ya pintu. Hobinya itu cukup membuat was-was karena tangan atau kaki mungilnya sangat mudah terjepit. Awalnya Bunda pasang door stopper yang diletakkan di bawah. Namun benda itu sangat mudah digeser atau dipindahkan, akhirnya Bunda pasang door stopper yang dijepitkan di pintu. Cukup efektif. Dan lucunya, karena door stopper nya penampakannya cute, Dita suka ketawa-tawa geli kalau melihatnya😀

Kemudian ada satu hal lagi yang membuat Ayah Bunda jantungan. Semenjak jalannya sudah lancar, keinginan untuk naik tangga kian menjadi-jadi saja. Dan Dita ini kalau dilarang sesuatu, malah semakin nyengajain disertai senyum nakalnya. Kayaknya seneng banget kalau Ayah Bundanya senewen hehehe. Coba, gimana gak ketar-ketir melihat anak Bunda yang gak bisa diem seperti ini :

Foto di atas bukan rekayasa, maksudnya bukan dengan sengaja Bunda nyuruh Dita naik tangga buat difoto. Tapi Bunda kecolongan. Pas ditinggal sebentar, tahu-tahu sudah naik tangga. Ya sekalian aja Bunda abadikan, walau pas ngambil fotonya agak deg-deg-an juga😀

Makanya sebulan yang lalu Bunda langsung request ke Ayahnya Dita untuk membeli pagar pengaman tangga atau istilahnya baby safety gate. Bunda searching, penampakannya bagus-bagus. Kayak ini :

Suatu hari saat Bunda pulang kantor, sudah terpasanglah permintaan Bunda. Bunda sedikit kaget juga melihatnya, karena bentuknya tidak ada manis-manisnya blas. Gak ada nilai estetikanya gitu hehehe. Ngiketnya pakai tali rafia pula. Tanya Ayahnya Dita, ternyata Ayah gak beli tapi buat sendiri. Saat Bunda tanya kok ngiketnya pakai tali rafia? Kata Ayah, “Yang penting kan fungsinya”. Hehehe benar juga sih. Ya Bunda sangat menghargai usaha Ayah. Lagian dari ruang tamu juga gak kelihatan. Misal ada yang melihat pun, ya gak papa lagi. Yang terpenting, semenjak dipasang pagar pengaman itu, Dita tidak bisa naik tangga. Palingan Dita duduk saja di anak tangga pertama😀

Dan setelah tanya-tanya Ayah, ongkos membuatnya pun gak mahal. Cuma 15rb! . Soalnya Ayah beli kayu bekas di orang Madura dekat rumah, trus dipotong dan dipaku sendiri. Kalau Bunda searching di internet yang dipasang permanen ada engselnya itu harganya muahal. Kalau dirupiahkan 200-400 ribuan. Bunda gak tahu baby safety gate seperti itu bisa dibeli dimana. Bunda dapat gambarnya di sini. Mungkin di Ace Hardware ada  ya. Trus lagian model tangga di rumah kan sempit dan railing nya biasa-biasa saja, agak susah dipasang yang permanen begitu dan kayaknya justru ribet saat dibuka tutup (cari alasan padahal maunya memang yang murah hehe😀 ). Secara fungsi, pembatas made in Ayahnya Dita ini ok lah. Susahnya kalau Bunda mau naik/turun saja, harus melompati pembatas setinggi itu. Lha kalau Ayahnya Dita kan kakinya panjang, gak ada masalah. Pembatas ini sementara hanya kami pasang di anak tangga naik,  yang di lantai atas tidak kami pasang dengan pertimbangan karena Dita berada di lantai atas hanya untuk tidur malam dan selalu bersama Ayah/Bunda dan sebagian besar aktifitas di lantai bawah. Tapi nanti kalau sudah makin aktif lagi sepertinya perlu juga dipasang pagar pembatas tangga di lantai atas. Ya namanya juga antisipasi.

Kemudian masalah stop kontak listrik. Di rumah kamibeberapa stop kontak yang terpasang hanya 10 cm dari lantai.  Untuk sekarang, Dita sih belum tertarik dengan benda berbahaya itu. Bunda pernah lihat di tetangga,  ada stop kontak yang sekaligus ada tutupnya. Namun sepertinya yang model begini anak juga dengan mudah membukanya. Dikasih tahu temen, ada yang lebih aman yaitu stop kontak yang cara mengaktifkan arusnya dengan mencolok kemudian memutarnya. Jadi saat dikilik2 anak, relatif cukup aman, karena dalam keadaan stand by tidak ada arus. Sayangnya memang dari awal yang terpasang di rumah yang non pengaman. Sempat terpikir ditutup pakai lakban, tapi Bunda justru takut malah mengundang perhatian Dita. Soalnya anak Bunda ini juga demen dengan acara klethek menglethek.  Urusan electrical safety ini agak susah ya. Mungkin jalan keluarnya ya harus diganti dengan stop kontak yang colok putar itu. Tapi untuk sementara urusan stop kontak ini diantisipasi dengan waskat (pengawasan melekat) ke Dita saja. Any idea?

Ya baru sampai segitu  pengamaman rumah yang mampu dilakukan Ayah Bunda buat Dita. Meski belum 100% aman, semoga tetap bisa membuat Dita terlindungi dari hal-hal yang berbahaya, khususnya saat beraktifitas di dalam rumah. Ke depannya memang masih banyak yang harus diantisipasi. Bunda sudah kebayang kalau semakin tinggi badan Dita, pasti lebih banyak yang bisa “dimainin”. Misalnya kompor.  Ngeri juga ngebayanginnya. So Bundanya Dita ini jadi pengin tahu nih, gimana cara pengaman di rumah yang lain untuk si kecil?

Bahan bacaan :

13 Responses to “Rumah Yang Aman Untuk Dita”

  1. Top markotob, Bunda Dita.
    Ide ini akan saya copy abis-abisan buat safety di rumah demi Ganesh yang mulai merangkak dan pecicilan. Hiuufff…
    Hm..berarti gak percuma niy BunDit ditraining EHS, wong safety pun diterapin ke kehidupan sehari-hari. Yup, harusnya safety emang menjadi prioritas kita ya…

    OOT, Mikir pas BunDit gunakan istilah “stopper”, jadi stopper nya tooling dan dies di produksi. hihihi..

    BunDit :
    Hehehe kerja di pub sih..jadinya obrolan gak jauh dari tooling dan dies. Trus juga harus concern soal EHS nih. Lha gimana gak concern, secara periodik diaudit sih. Dan EHS memang harus dimulai dari rumah hahaha udh kayak org EHS aja😀

  2. fety said

    jadi orang tua memang harus kreatif ternyata😀

    BunDit :
    Yoi mbak🙂

  3. Diyah said

    Duhh…jadi ikut deg2an ngeliat foto Dita lg nyoba naik tangga. Bener bun umur2 kayak Dita lagi gak bisa diem & gak kenal capek ada aja yang dikerjain. Btw thanks lho bundit info nya berguna banget.

    BunDit :
    Bener Ummi. Dita kalau main kagak ade matinye. Ngiter sana ngiter sini. Tau2 pegang ini pegang itu. Trus naik tangga, naik kursi. Tapi gak papa lah, berarti anak aktif hehehe

  4. Laily said

    info yg sangat berguna!!

    baru sekali ini nemu postingan kaya gini.
    Thanks ya bundit, menginspirasi sekali.
    Ohya, mbok ya saya minta tolong, itu barang2 yg beli, belinya dimana, harganya berapa..

    BunDit :
    Sama-sama Mom🙂

  5. Laily said

    Hahaha..ternyata aku kurang jeli,, kan harganya pengaman tangga sudah ada ya.

    kalo untuk stop kontak, aku pernah ngisengin Azki. Jadi stop kontaknya tetep diplester, tapi di atas plester utama dikasih double tape yg diklenthek dua sisinya. kan lengket2 tuh. jadi azki ngga sido mbuka plester stop kontak.. malah tangannya dilekat-lepaskan di dobel tape tadi, sambil meringis2 geli. akhirnya bosan sendiri dan cari “mainan” lain, misalnya wajan, dispenser yg ga dicolokin, ulekan, dll.

    BunDit :
    Hehehe anak2 emang seneng ya dengan kerajinan klethek mengklethek. Wah, itu tips yang bagus Mom. Aku contoh ya. Thanks🙂

  6. Lidya said

    hebat deh sampe segitunya menjaga keselamatan anak. TOP BGT mbak

    BunDit :
    Hehehe bukannya emang harus gitu mbak? Saya malah jadi mikir, apakah saya over protective ya? .Tapi gak juga ah (dijawab sendiri hehehe) . Kalau ada saya, Dita saya tuntun naik tangga kok🙂

  7. Motik said

    Bund, door stopper beli dimana dan harga berapa? Kyara pernah kejepit laci, tp gara2 kejepit laci dia jd kapok mainin laci. Skrg dia kalo buka laci pelan2 hehe..

    BunDit :
    Sebenarnya susah banget cari door stopper lucu itu. Searching lewat internet gak nemu yang jual. Nah, kebetulan ada temen bilang, temennya jual. Waktu itu stock tinggal sedikit, saya disuruh beli semua. Karena dapat diskon, boleh lah. Kebetulan temen kantor juga ada yang mau. Sekarang sisa beberapa biji, kalau mbak mau, ntar malam deh saya posting di Omah BunDit, soalnya ada beberapa model. Lha…kok malah jualan😉 .Tapi saya posting itu bukan buat jualan lho… mbak nanya sih, ya saya jawab dengan jujur hahaha

    Update : silakan lihat di Door Stopper

  8. Widyasta said

    Pengaman stop kontak dr jangkauan anak2 banyak kok dijual di toko elektrik, bun. Kalo yg model putar kebanyakan made in china. Skrg broco keluarinnya yg model dua lubangnya mesti ditekan bersamaan. Tenaga balita kyknya ga cukup kuat buat tekan dua lubangnya.

    BunDit :
    Wuih…dirimu tahu soal kelistrikan to hehehe. Ntar request ke Ayahnya Dita deh. Thanks infonya Wik🙂

  9. bundit, kalo colokan listrik tutupinnya pake apa yah.. tap dipake juga siy.. gmn donk :S

    BunDit :
    Naah..yang itu yang belum ketemu. Kata temen di komen sebelumnya, broco ngeluarin pengaman stop kontak dengan model 2 lubang ditekan bersamaan. Perlu dicari juga sih, belum kebayang kayak apa bentuknya hehehe

  10. Hmmm… emang betul kata ayahnya Dita ya: “yang penting fungsinya” hehehe… two tumb ups utk ayah yang kreatif banget demi keselamatan anaknya ya Bund.

    Door stoppernya boleh juga tuh Bundit, keren banget!!

    BunDit :
    Iya mom, kalau rata2 cowok mikirnya lebih ke fungsi daripada estetika hehehe. Door stoppernya mau?😉

  11. mirta said

    Bunnn, TFS banged, mengingatkan untuk slalu safe @ home😀 Apalagi daku niy orang EHS, hihi…Ah BunDit kerja di pubs juga tho, same as me and Mama ganesh dunks. Let us share our happiness hikikikkkk ;P Btw, Bun, daku mau door stoppernya ya yg biru, nnt ku SMS yaa, trims

    BunDit :
    Yihaaa, ketemu satu lagi yang kerja di pubs hehehe. Orang EHS to… wah, kalau soal keselamatan sudah pakar nih🙂 . Soal door stoppernya udah aku bales by email ya Bun🙂

  12. […] Top Posts Flash Back (2) : Isi Tas Persiapan MelahirkanJalan-Jalan Ke SeaWorld @AncolDita dan MainanFlash Back (1): Daftar Barang Persiapan Melahirkan & ASIXFlash Back (3) : Daftar Barang Persiapan MPASIResep Agar-agar ASIP dan Sup Krim Ayam JagungRumah Yang Aman Untuk Dita […]

  13. Muhammad Fauzie Omerah said

    colokkan kulkas g sampe ke stop kontak langsung, jadi saya bikin kabel tambahan utk menghubungkan colokkan kulkas tsb, cuma bbrp hari ini kulkas berdetak,bergoyang tapi setelah dilepas colokkannya, tidak lagi. Apakah dg kabel penghubung ke stop kontak tidak boleh utk mnyalakan kulkas, mau lgsg ke stop kontak colokkan kulkas pendek, kecuali kulkas ditambah ketinggiannya baru sampe, ada solusi selain pendapat saya tadi ?

    Waduh…saya bukan ahli listrik nih. Maaf tidak bisa membantu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: