Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Cerita Mudik Lebaran 2009 #4 : Acara Adat “Manjagit Parompa”

Posted by BunDit on October 12, 2009

Wih..nyampe juga di part 4. Bunda paling gak sabar untuk nulis yang bagian ini. Karena ada nuansa adatnya yang merupakan pengalaman baru buat Bunda. Untuk bagian ini Bunda perlu banyak referensi untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Supaya ceritanya lebih hidup😉 .

Kamis, 24 September 2009

Ceritanya, kepulangan dik Leny (adik Ayahnya Dita) ke Padang Sidempuan, selain bertemu dengan keluarga besarnya juga sekalian ingin mengadakan acara aqiqah buat anaknya, Aya. Jadi karena acara aqiqah rencananya dilaksanakan hari Jum’atnya, maka hari Kamis ada acara potong kambing di rumah. Dita jadi bisa melihat kambing dari jarak dekat deh. Sambil nunjuk-nunjuk “mbek…mbek.

Oh ya, Bunda belum cerita ya. Selama di rumah Opungnya, Dita ini enggan lepas dari Bundanya. Nempeeel mulu kayak perangko. Sampai dikatain opungnya “kurang gaul”, habis di ajak yang lain gak mau. Bunda tinggal sebentar ke kamar mandi aja, udah merengek. Jadinya di sana Bunda gak bisa ngapa-ngapain deh buat bantu2 kerjaan yang lain. Maafin menantumu ini ya Opung hehehe.

Trus, di rumah Opungnya Dita ini kan banyak pintu aksesnya. Jadinya binatang kayak kucing itu bisa tahu-tahu masuk ke ruang tengah. Dita yang sebelumnya seneng banget lihat kucing, jadinya suka kaget, tahu-tahu mak pethungul, nongol kucing. Kucingnya gede-gede pula. Dita jadi malah takut.

Satu lagi, kadang-kadang, kalau kamar mandi sedang dipakai, Bunda mandiin Dita di belakang. Areanya terbuka, biasanya buat cuci piring sih, Nah di sini, banyak ayam-ayam berkeliaran. Dita yang sebelumnya sama ayam sudah takut, jadi makin ketakutan. Jadi di setiap acara mandi selalu diiringi dengan tangisan ketakutan. Ealah naaak, sama ayam kok ya takut🙂

Jum’at, 25 September 2009

Nah, ini yang jadi cerita seru. Sebelum berangkat mudik Bunda tidak pernah dikasih tahu ayahnya Dita, kalau nanti akan ada acara adat menyambut kelahiran Dita, Bunda tahunya hanya akan ada acara aqiqah anaknya dik Leny. Saat Bunda tanyakan, Ayahnya Dita bilang memang sengaja gak ngasih tahu Bunda supaya Bunda gak stress. Hehehe Ayah tahu aja, kalau Bunda suka apa-apa dipikirin. Ya ada untungnya juga sih. Jadinya Bunda berangkat mudik ini benar-benar tanpa beban. Gak menguntungkannya, Bunda benar-benar gak mempersiapkan kostum yang serasi untuk Ayah, Bunda dan Dita. Hehehe kok ya yang dipikirkan kostum. Habis pakai acara dipajang di depan orang-orang sih. Kalau Ayahnya Dita sih gak peduli soal penampilan, yang penting esensinya.

Jadi sehari menjelang hari kepulangan telah direncanakan diadakan acara Manjagit Parompa, yaitu acara adat menyambut kelahiran anak pertama. Yang disambut disini ya Dita dan Aya, anak adik Ayahnya Dita. Sekalian dibarengkan dengan acara aqiqah Aya ini. Ya agak aneh juga, acara adat dicampur dengan acara keagamaan, tapi demi kepraktisan gak masalah lah. Sebenarnya sih sehabis kelahiran anak, biasanya dalam waktu tak lama kemudian dilaksanakan acara adat ini. Namun karena kami baru berkesempatan ke PSP saat itu, meski Dita sudah 15 bulan, acara tetap dilaksanakan.

Persiapannya sih diurus oleh Ayahnya Dita dan keluarganya. Bunda gak tahu apa-apa. Ya agak deg-deg-an juga, belum kebayang acaranya seperti apa.

Acara ini dilaksanakan sehabis sholat Jum’at. Para tamu undangan banyak yang datang. Untuk acara ini, diundang  Raja setempat, lurah setempat, serta para ulama. Dan di masyarakat Batak, suatu upacara adat hanya dapat diselenggarakan jika didukung oleh apa yang dinamakan Dalihan Natolu. Dalihan Natolu meupakan suatu sistem sosial yang sangat mendasar kedudukannya dalam kebudayaan dan kekerabatan orang Batak, yang terdiri dari 3 yaitu :

  • Hula-Hula/Mora, yaitu semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi pria.
  • Boru, yaitu anak perempuan daru suatu marga.
  • Dongan Tubu/Kahanggi, yaitu saudara-saudara semarga.

Acara dimulai dengan doa dan dilanjutkan dengan makan siang untuk para Bapak-bapak. Sedang untuk ibu-ibu, dilaksanakan di ruang belakang dekat tempat memasak. Bunda, Dita, dik Leny dan Aya yang menanti untuk “dipajang” menunggu di salah satu kamar. Lama juga nunggu di sana. Bunda mikir kok belum ditawari makan ya hehehe, secara perut Bunda sudah keroncongan. Dik Leny bilang, harusnya Bunda tadi makan dulu, soalnya pasti acaranya akan lama. Wah, telat deh ngasih tahunya😦 .

Sekitar jam 2 siang, kami di panggil ke ruang ruang tengah tempat acara dilangsungkan. Maka dijejerin lah Ayah, Bunda dan Dita yang Bunda pangku, juga dik Leny, suami dan Aya. Dan mulailah acara dengan doa yang dipimpin oleh seorang ulama, dilanjutkan dengan makobar-kobar, yaitu pemberian petuah serta doa-doa oleh hampir semua yang hadir di acara tersebut yang dimulai dari pihak keleurga perempuan, yaitu dari keluarga mama mertua. Di sini hampir semua orang bicara. Rata-rata memakai bahasa Batak Mandailing yang Bunda blas gak ngerti artinya. Kadang-kadang mereka mencampur dengan bahasa Indonesia juga, jika ada yang perlu ditekankan untuk di ketahui oleh Bunda atau suami dik Leny, yang orang Malang. Pokoknya Bunda manggut-manggut aja deh🙂

makobar

Acara makobar-kobar, lumayan lama. Di sepanjang acara itu, beberapa kali Dita merengek “memeeee” yang artinya minta nenen. Bunda sampai bujuk-bujuk dengan mainan, foto dan segala macem tapi kayaknya emang Dita pengin nenen, walau sebelum acara Bunda sempat kasih outmeal ke Dita. Akhirnya beberapa kali di tengah orang bicara, Bunda masuk kamar buat nenenin Bunda. Saat itu rasanya Bunda sudah kliyengan, belum makan siang tapi dinenenin Dita mulu😀

Oh ya sebelum makobar-kobar tadi dimulai, disajikan 2 piring besar nasi beserta lauk pauknya, satu ditaruh di depan Ayahnya Dita sekeluarga, satunya lagi untuk dik Leny sekeluarga. Lauk yang menyertai adalah ikan mas, ayam, udang dan telur rebus yang dimasak bumbu rendang gitu. Bunda sudah ngiler tuh hehehe. Ternyata belum boleh di santap😀

Selesai acara makobar-kobar, memasuki acara inti yaitu sesuai nama acaranya yaitu Manjagit Parompa – Manjagit = menerima; Parompa = kain ulos yang berbentuk selendang untuk menggendong- , sekalian juga panabalan nama anak = pengukuhan nama anak pertama. Secara fisik, kain ulos yang digunakanpun bertuliskan nama anak yang namanya dikukuhkan. Dalam adat batak, Parompa Sadun (kain selendang) ini seharusnya yang memberikan adalah ibu dari ibu si anak, alias nenek dari anak yang dilahirkan. Jadi dalam hal ini, harusnya YangTinya Dita yang harus memberikannya ke Bunda. Namun karena ketidakhadiran YangTinya Dita maka perannya digantikan oleh salah satu wanita dari pihak mama mertua, dalam hal ini istri dari kakak mama mertua.

parompa-sadun

Setelah Ayah dan Bunda menerima daun sirih yang berisi kapur, sebagai tanda pembukaan acara inti sudah diijinkan Raja Kampung, istri kakak mama mertua menyelempangkan Parompa Sadun tersebut ke Bunda dalam posisi seperti akan menggendong. Sedangkan dik Leny menerima dari mama mertua. Kemudian kami berdua menggendong anak kami masing-masing. Tujuannya adalah supaya anak pertama beserta adik-adiknya kelak selalu sehat dan tumbuh menjadi anak yang sholeh/sholehah. Malah ada yang bilang semoga setelah anak pertama, akan lahir adik-adiknya sesuai dengan jumlah bintang di kain tsb. Bunda hitung sih jumlah bintangnya ada 4. Weits…artinya ada 4 dong calon adiknya Dita hehehe😀

Oh ya, Manjagit Parompa ini memang hanya dilakukan untuk anak pertama saja, anak ke-2 dan seterusnya tidak. Ah, Bunda jadi ingat cerita pendek mengenai acara adat yang ditulis sangat bagus oleh Hasan Al Banna yang pernah dimuat di Kompas tahun 2006 berjudul Parompa Sadun Kiriman Ibu. Ternyata Ayahnya Dita mengkliping cerpen Kompas ini🙂

manjagit-parompa

Setelahnya, Parompa Sadun dilipat dan disimpan. Dilanjutkan acara yang berhubungan dengan makanan di depan kami. Asyiik😀 . Tapi…eits tunggu dulu. Ternyata makanan yang sudah tergeletak manis dan menggoda sepanjang acara tadi, makannya pun ada tata caranya.

Pertama, Ayahnya Dita mengambil kuning telurnya dulu untuk disuapin ke Dita. Kemudian giliran Bunda mencuil telurnya juga untuk disuapin ke diri sendiri. Sampai disini diberitahukan bahwa acara selesai. Ulama membacakan doa penutup. Para tamu beranjak dari tempat duduk dan pamit pulang. Dan tibalah saat yang ditunggu, makan-makan! Bunda sudah gak sabar saking lepernya😀 . Kami bersama-sama makan dalam satu piring besar itu. Tidak cuma Ayah dan Bunda aja yang makan, tapi juga saudara yang belum makan pun ikut makan bareng-bareng. Jadi bukan satu piring berdua tapi satu piring beramai-ramai. Bunda sudah gak ada malu-malu lagi makanya, saking luaper nya hahaha. Bunda melirik jam tangan, busyet, hampir jam setengah 4 sore😀 . Dita pun ikutan makan, Bunda suapin pakai lauk telur rebus.

Alhamdulillah, legaaaaa. Acara selesai dengan lancar dan perut kenyang😀 . Pelajaran berharga untuk Bunda (dan yang lain yang belum tahu) : kalau mau mengikuti atau menghadiri acara adat Batak, disarankan untuk makan dahulu meski sedikit, daripada kelaperan sepanjang acara hehehe. Soalnya acara adat Batak kan terkenal dengan makobar-kobar nya yang lama😉

Malamnya kami sempat berkumpul ya ngobrol-ngobrol aja. Yang seru pembicaraan sampai pada kado yang kami dapat. Bunda sendiri selama di sana banyak mendapat kado. Selain baju buat Dita, yang paling banyak adalah kain batik buat gendong anak. Ternyata hal yang sama pun di alami dik Leny dan Mama mertua. Adat orang Batak memang seperti itu. Jika ada anak lahir, yang paling umum dijadikan kado adalah kain batik buat gendong disertai doa semoga anak yang digendong dengan kain tsb selalu sehat.

kain-batik

Akhirnya malam itu kami mengeluarkan semua kado. Yang namanya kain batik buat gendong anak, ada sampai puluhan biji. Bunda sendiri mendapat 9 buah. Belum yang dikado saudara2 dari keluarga Ayahnya Dita di Jakarta. Kado pertama yang berupa kain gendongan sih Bunda dapat dari mama mertua. Jadi entah total jumlahnya berapa hehe, pokoknya buanyak. Kami sampai  tergelak-gelak membicarakannya. Anyway, terima kasih buat yang telah memberi kado ini, meski kadonya senada tapi doa yang menyertainya sangat berharga. Semoga Dita selalu dalam keadaan sehat wal’afiat dan menjadi anak yang sholehah. Amiiin🙂

to be continued… Last Part : Perjalanan pulang….

9 Responses to “Cerita Mudik Lebaran 2009 #4 : Acara Adat “Manjagit Parompa””

  1. lidya said

    jadi tambah ilmu tentang adat nih mbak. aku belum pernah lihat yang seperti itu.ditunggu perjalanan pulangnya?
    mbak rumahnya di bekasi juga ya? dimana nya ya?

    BunDit :
    Sama mbak Lidya, banyak hal baru yang saya dapat. Adat Sumatera, khususnya Batak tak pernah terlintas dalam benak akan mewarnai hidup saya. Rumah kami di Taman Harapan Baru, Bekasi Barat. Mbak Lidya di Bekasi juga? Dimana?🙂

  2. Diyah said

    Ternyata Dita sama kayak Zalfa nempel terus sama bunda nya. Wah…pengalaman yg berharga ya bunda thanks udah sharing lho! Jadi tau ternyata adat Batak salah satu nya seperti itu ya…

    BunDit :
    Iya nih Ummi,kalau ada Bundanya, Dita itu maunya sama Bundanya mulu. Kalau gak ada saya, ya sama siapa aja juga mau. Saya juga jadi banyak tahu soal adat Batak nih🙂

  3. fety said

    wah, acara adatnya seru juga🙂

    BunDit :
    Iya mbak. Salam kenal🙂

  4. weh pake disambut acara adat nih dita. Duh seru ya acara adat kayak gitu? keknya di djogja ga ada acara macem gitu ya bun ?

    BunDit :
    Iya jeng, di jogja sih kalau yang berhubungan dengan anak kayak nedhak siti (saat anak waktunya jalan) dsb. Tapi ya dari keluarga saya sih yang begituan gak pernah dirayain🙂

  5. Ocha said

    Seru buuun.. baru tau ada upacara adat macam gini.. tapi ternyata ga di jawa ga di batak, yang namanya kain batik gendongan tetep juara yaa..hehe. walapun mama Qila sampe skrng ga bisa2 tuh pake kain gendongan batik gitu..:)
    oiya, aku udh edit tuh space buat comment’nya bun, word verification-nya udh kliatan.hehe..thx ya bun..

    BunDit :
    Sttt.. kita sama mbak, saya juga gak jago nggendong pakai gendongan kain gitu hehehe. Bisa sih tapi gak fasih gitu😀 .

  6. monda said

    biasanya anak lelaki pertama, walaupun jadi anak ke berapa akan dapat parompa j juga

    hidangan yang dimaksud bunda upa-upa atau indahan tompu robu ya
    http://mondasiregar.wordpress.com/2010/05/18/pangupaan-untuk%C2%A0ananda/

    BunDit :
    Wah..makasih info dan koreksinya Bun🙂

  7. […] by Bundanya Dita on September 22, 2010 Seperti cerita mudik 2009 Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 dan Part 5 ke kampung halaman Ayahnya Dita di Padangsidempuan, cerita mudik 2010 ke Jogja kemarin […]

  8. ooh di Tano Bato y, buk.
    saya tgl di Kampung Marancar, sering main ke Tano Bato jg. tp skrg lg menuntut ilmu di negeri org.
    baca postingan yg ini jd makin kangen kampung halaman. *_*

    Suami saya pasti tahu tuh kampungnya mbak Elita. Saya juga pengin ke PSP lagi nih🙂

  9. baju korea said

    baju korea…

    […]Cerita Mudik Lebaran 2009 #4 : Acara Adat “Manjagit Parompa” « Lumongga Anandita[…]…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: