Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Cerita Mudik Lebaran 2009 #2 : Sampai Rumah Opung, Dita sakit

Posted by BunDit on October 2, 2009

Rabu, 16 September 2009

Jarak pool bus Sampagul dan rumah Opungnya Dita cukup dekat. Tidak sampai 10 menit sampai deh. Daaan…pertama kali melihat rumah Opungnya, atmosfer berbeda langsung menyergap. Rumahnya lega, ada teras yang luas, gak dempetan alias berbagi tembok pembatas dengan tetangga. Jadi semua ruangan punya jendela sehingga terang dan plong. Lokasi rumah dekat sawah pula. Adem, gak perlu AC maupun kipas angin. Pokoknya muantabs🙂 .

Sesampainya kami di rumah Opung nya Dita, langsung disambut oleh kedua Opungnya Dita, Bou Nora (adik perempuan Ayahnya Dita), Amang Boru Jureyd (Suami Bou Nora), Uda Andi (adik laki2 Ayahnya Dita), serta Bang Owen dan Kak Rini (sepupu Dita). Dita digendong sana-sini. Maklum baru Opung perempuan dan Bang Owen yang pernah ketemu langsung sama Dita. Yang lain hanya mengetahui dari foto-foto yang rutin Bunda kirimin.

Setelah bersih-bersih badan, kami bertiga langsung tepar. Punggung rasanya puegel banget. Maklum 11 jam tidur dalam posisi duduk di bus. Rasanya nikmat banget bisa ngeluk boyok. Akhirnya kami tidur sampai siang. Bangun-bangun Dita sudah ceria, main sama sepupunya. Bunda sempat ditawarin oleh mama mertua untuk urut badan (orang setempat menyebut dengan istilah kusuk). Cuma karena melihat Dita kelihatan sudah fit dan Bunda sudah merasa isitirahat cukup, akhirnya Bunda dan Dita tidak jadi urut.

Kamis, 17 September 2009

Dita tidak seceria sebelumnya dan sulit makan. Siang hari sempat pergi ke Mall Anugerah untuk belanja buah-buahan buat Dita. Dita sempat naik “odong-odong koin” (apa sih sebutannya, mainan berbagai bentuk yang dinaikin dan bergerak setelah kita memasukkan koin?) di Game Zone. Tapi wajah Dita gak ceria, dieeem aja, kelihatan lesu. Bunda sudah mulai khawatir. Pas pulang ke rumah, Dita pup, saat Bunda cek teksturnya encer dan berwarna hijau. Wah, kayaknya anak Bunda diare nih. Saat dicebokin di kamar mandi, jerat-jerit, ternyata kedinginan, karena air di sana dingiiiin banget kayak air es. Sampai malam, diare nya tambah parah, dalam waktu 1-3 jam, diare. Badannya mulai panas dan kelihatan lemes. Bunda agak menyesali kenapa sesampai di rumah Opungnya Dita kemarin gak langsung diurut. Tapi ya nasi sudah menjadi bubur. Sepanjang malam Dita maunya neneeeeen terus, mau makan bubur yang Bunda buatin tapi cuma beberapa suap. Alhamdulillah, masih ada ASI yang masuk dan beberapa kali mau meneguk air putih. Bunda masih bertahan tidak memberikan obat apapun. Oh ya dari rumah Bunda sudah siapkan obat-obatan untuk jaga-jaga. Pengalaman sebelumnya Dita muntah dan panas tinggi pun, Bunda nenenin semalaman, paginya langsung sembuh.

Jum’at, 18 September 2009

Paginya suhu badan Dita makin panas (ini nih yang lupa, termometer ketinggalan), tapi dahi Dita diraba sudah puanas banget. Akhirnya jam 09.00 Ayah dan Bunda dengan ditemani mama mertua memutuskan membawa Dita ke RSUD Padangsidempuan. Karena sudah H-2 Lebaran, DSA sudah gak ada yang praktek. Untung Ayahnya Dita tahu rumah DSA dekat RSUD tsb. Kami segera ke sana. Sampai di sana ada beberapa pasien, sampai ada yang bawa infus segala. Nama dokternya dr. Athos P. Daulay, rumah sekaligus tempat prakteknya  di Jl. HOS Cokroaminoto 11. Kata Ayahnya Dita dr Athos ini semenjak Ayahnya Dita masih kecil sudah praktek. Cuma dulu Ayahnya Dita dan saudara2 nya kalau sakit tidak di abwa ke dokter, tapi ke bidan🙂

Setelah menunggu beberapa saat, Dita diperiksa dan diberikan 3 resep obat : antibiotik racikan berbentuk puyer, sirup obat penurun panas dan sirup obat diare. Bunda nyesek juga lihat obat-obatan itu. Selama 15 bulan, Dita tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan, obat penurun panas sekalipun. Lha ini sekali sakit, langsung dapat antibiotik. Sedih😦 . Dita memang jarang sakit. Paling ya batuk pilek, yang paling parah muntah dan panas tinggi sepulang dari the Jungle dulu, itupun cuma sehari langsung sembuh setelah nenen sepanjang malam.

Bunda ditanya juga sama dr Athos, “Anak Ibu minum susunya apa?” Bunda jawab, “ASI dok, kenapa?”. Dr Athos bilang “Ok, kalau ASI gak papa, tetap diteruskan. Kalau susu formula sementara dihentikan dulu ya”. Bunda mengiyakan. Sebelum pulang, dr Athos menyarankan membeli oralit/pedialit di apotik. Total biaya berobat ini 170rb. Alhamdulillah bisa claim ke kantor🙂

Dalam perjalanan pulang kami mempir ke apotik dulu. Anak Bunda kelihatan makin pucat, gak ceria. Sesampai di rumah, Bunda buatin bubur lagi karena makan nasi gak mau.  Meski sedikit, ada lah yang masuk. Tapi Dita menolak minum oralit. Padahal oralitnya rasa buah-buahan. Maunya malah minum air putih biasa. Ya sudah.

Yang paling sedih, kalau pas Dita diare dan Bunda cebokin, Dita nangis menjerit-jerit, keliahatannya duburnya sakit dan pedih. Bunda nyebokinnya pun gak di kamar mandi soalnya takut dingin, tapi dengan kapas memakai air hangat. Setiap kali mau diganti diaper karena sering diare, Dita seperti trauma. Bunda baru ngambil diaper aja, Dita sudah menjerit-jerit. Bunda sampai ikut nangis, gak tega😦

Satu lagi hal yang paling Bunda gak tega yaitu saat memberi Dita obat. Karena selalu pakai acara penolakan penuh tangis. Bunda yang megangin Dita, sambil membuka mulut Dita. Ayahnya Dita yang nyuapin obat. Awalnya obat tumpah kemana karena Bunda memang gak pernah mau yang namanya pemaksaan. Tapi kata Ayahnya Dita, kalau ngasih obat anak ya harus tega sedikit, demi anak juga. Lama-lama ya terpaksa Bunda tegain buat membuka paksa mulut Dita supaya obat masuk. Akhirnya tubuh mu kemasukan obat dan antibiotik juga naaak. Bunda tidak ada pilihan lain😦 . Bunda sadar, anak balita memang rentan penyakit. Selama ini Bunda berusaha kalau Dita sakit, Home Threatment dulu. Tapi karena saat itu sakitnya tidak di rumah sendiri dan nantinya ada acara serta nanti pas waktunya harus pulang juga, dengan perjalanan yang cukup berat pula, maka Ayah dan Bunda memutuskan langsung ke dokter saja. Konsekuaensinya ya dibekali obat. Ya semoga ini jalan terbaik.

Ya menurut Bunda, Dita sakit diare karena kecapekan sehingga daya tahan tubuh menurun. Waktu berangkat kan jalaaaan mulu di Bandara kemudian dilanjutkan perjalanan dengan bus yang cukup melelahkan. Dan Dita lagi seneng memegang semua benda yang ditemui dan langsung digigit. Nah, kemungkinan karena sebab inilah Dita sampai diare. Soal pijat sih, menurut Bunda memang membantu melemaskan otot2 yang kaku supaya badan fresh lagi. Saat itu Bunda menolak memanggil tukang pijat untuk Dita soalnya ragu-ragu karena belum tahu kualitas tukang pijatnya. Istilahnya belum tahu track recordnya gitu. Soalnya mijat anak kan beda dengan mijat org dewasa. Jadi takut Dita kenapa2 (ah Bunda ini terlalu parno ya?). Dita pun tidak terbiasa dipijat. Waktu masih bayi, Bunda sendiri yang mijat sesuai dengan ajaran bidan RS pasca melahirkan dulu. Jadi Dita sakit itu, menurut Bunda ya tidak semata-mata karena tidak dipijat sesampai di PSP. Atau ada yang mau share soal pijat anak ini?🙂

Sabtu, 19 September 2009

Alhamdulillah, kesehatan Dita berangsur membaik. Interval Diare nya tidak sesering sebelumnya. Yang sebelumnya 5-6x sehari, sekarang berkurang 2-3x sehari. Masih tetep makan bubur. Kadang Bunda selingin outmeal, walau porsinya sedikit. Minum oralit tetap gak mau, maunya air putih. Dan tentu saja tetep nenen Bunda sepanjang hari. Sampai perut Bunda ini juga ngintir-intir juga sepanjang hari. Untungnya Bunda pas halangan, jadi ya pas gak puasa dan bisa makan kapan saja. Bunda sangat bahagia melihat anak Bunda mulai ceria🙂

Maaf, lagi-lagi gak ada foto di postingan ini. Bunda gak mood ambil foto Dita saat Dita sakit. OK, postingan bernuansa sedih dan tidak nyaman cukup 2 part ya. Next part, isinya menyenangkan semua kok dan tentu saja bertebaran foto. Lebaran, liburan ke pantai, acara adat menyambut kelahiran Dita, dan perjalanan pulang yang lebih menyenangkan daripada perginya. Belum tahu nih akan jadi berapa part. Sejadinya saja🙂

to be continued…

16 Responses to “Cerita Mudik Lebaran 2009 #2 : Sampai Rumah Opung, Dita sakit”

  1. Motik said

    Yah bund gimana lgi, kalo memang kemasukan obat yg terbaik buat dita saat itu ya gpp. Yang penting dita sehat ceria lagi jadi bisa menikmati liburan selama disana.

    Lanjut ke part berikutnya bund!!!🙂

    BunDit :
    Iya mbak. OK…next part sedang disusun🙂

  2. Laily said

    Dr Athos pro ASI juga ya, Bundit.

    kira2 dr Athos tau ngga ya kalo ayahnya Dita warga sekitar yang ngga pernah periksa di bliau? Jangan2 komentar: Naaah..ini nih yg belum pernah ke sini, sekalinya ke sini, sudah punya anak, hihihihi

    BunDit :
    Iya mbak, saya senang banget pas dr Athos bilang soal ASI itu🙂

  3. lidya said

    semoga Dita skr dalam keadaan sehat ya

    BunDit :
    Makasih mbak Lidya🙂

  4. silvi said

    BunDit….baca postingannya berasa ikutan mudik… *hehehee…lebai dotjreng yaa…😉 * beneran deeeh…aku udah pernah ngrasain mudik yang menurut aku selama ini merupakan pengalaman mudik paling ‘engga banget deh’ ternyata baca pengalaman mudiknya BunDit lebih dahsyat…

    aku dulu mudik ke semarang dari bandung jam 9 pagi nyampe semarang jam 2 malem, pake mobil pribadi…azka umurnya 7 bulan…weewww…abis gitu ga pernah mau mudik lagi ke semarang bw mobil sendiri…cape booo…makanya kalo dibandingin BunDit ga seberapa kaaan…2 jempol deh buat BunDit…

    sama ama kika niih…libur lebaran kemaren juga kena diare…😦 tapi Alhamdulillah dita cepet baekan yaa…katanya anak yang jarang minum obat apalagi antibiotik kekebalan tubuhnya lebih bagus…aku yakin dita pasti begitu…😀

    BunDit :
    Kalau Dita masih di bawah 1 th, saya juga gak berani mbak. Insya Allah Dita bengitu mbak. Ya saat itu saya juga gak ada pilihan lain, saya mikirnya saat pulang Dita harus dalam keadaan yang sehat. Kalau sakitnya gak kunjung sembuh trus waktunya pulang kan kasihan di jalan. Mudik jauh ke Sumatera ini juga gak akan tiap th kok mbak, jadi kemarin itu ya anggap pengalaman pertama yang berharga🙂

  5. silvi said

    ya ampuun ampe kelupaan sangking asiknya baca postingan tentang mudik…

    BunDit…met lebaran yaa….mohon maaf lahir bathin…🙂

    BunDit :
    Mohon maaf lahir batin juga mbak Silvi. Maaf belum sempat blog walking ke blog mbak nih🙂

  6. BunDit,
    Mungkin bener Mbak Dita kecapekan. Soalnya pada saat lebaran dan mudik, kita kan exciting jalan sana-jalan sini. Jadi banyak yang punya bayi kena penyakit musiman : demam, bat-pil, diare.
    Gak tau apa karena Ganesh tiap wiken diajak inspeksi dari mall ke mall mulu sama mommynya atau karena aku sebisa mungkin ngeusahain ganesh untuk istirahat dan pake minyak telon mulu’, Alhamdulillah Ganesh gak ikutan sakit. Wahduh..gak kebayang gimana aku handle Ganesh sakit di tempat yang aku gak kuasai medannya.

    Yah…namanya kalo anak udah sakit, pastinya kita memikirkan apapun caranya yang secepatnya menyembuhkan anak ya, Bun. Karena jujur, aku paling gak kuat liat anak sendiri sakit. Even cuma pilek, apalagi kalo dah diare kayak mbak Dita.
    Jadi jangan merasa guilty karena AB ya, Bun.
    Tetep salut sama BunDit kok.
    Hayo dunk..lanjutan part 3 nya. hihihi

    BunDit :
    Sama mbak, saya aja sampai ikutan nangis gara2 liat Dita diare. Part 3 dinihari tadi sudah diluncurkan🙂

  7. Met Idul Fitri ya bundit, minal aidzin wal faidzin …
    duh pasti kemaren sempet sedih ya saat si cantik dita diare … tapi untungnya lebaran dah sembuh ya bun, jadi bisa senyum2 lagi, hehehe. Mana foto2nya bun ?

    BunDit :
    Minal Aizin Wal Fa Izin juga bun. Foto2 nya barusan ditampilkan di part 3 nih🙂

  8. Desy Noer said

    Syukurlah kalo udah membaik lagi n udah ceria lagi. mudah2an bisa cepet smbuh total yaa..

    BunDit :
    Amiiiin, makasih mam🙂

  9. zee said

    Aduh Dita…. sedih sekali ya. Jadi diare di tempat opung ya..
    Bener itu bun. 11 jam di bus itu melelahkan lho. Tanpa AC pulak, dia pasti masuk angin. Duh sedih membayangkan Dita 11jam di bus, si vaya 2jam di pswt aja ga betah… Andaikan ada bandara di sana ya.

    Oh kalo pijat anak, aku belom pernah sih bun. Aku sih pijatnya ya pijat elus kayak yg diajarkan oleh RS dulu waktu baru pulang ke rumah. Tp pijat keras sih belom pernah…. agak serem sih klo kasih ke tkg pijat. Takut salah pijat.

    BunDit :
    Ya.. mudik kemarin dijadikan sebagai pengalaman berharga dan semoga dengan sakitnya itu, tubuh Dita jadi lebih kuat. Bener mam, itu yang saya takutkan, salah pijat. Kalau dielus2 mah Dita udah tiap hari dielus Bundanya🙂

  10. Turut sedih bacanya, pasti ngenes banget ya pada saat itu. Alhamdulilah ya bundit udah sembuh..:)
    Dulu Ez pas masih bayi pernah beberapa kali dipijat ditukang pijat, nangis kejerrr banget tiap kali dipijat, kata tukang urutnya sih ada yg keseleo / salah urat. Emang sih setelah pijit selalu tidur lebih nyenyak, tapi setelah Poponya liat sendiri Ez nangis kejer tiap dipijit, jadi ngga dibolehin lagi deh..:)

    BunDit :
    Kalau Dita semasa bayi, saya yang selalu pijat hasil dari kursus pijat bayi. Setelah besar, Dita sudah gak bisa diam kalau dipijat🙂

  11. weh kesian dita…, jauh2 mudik sakit.
    ya mungkin karena capek perjalanan yang jauh bun..
    kalau masalah diurut atawa dipijat mendingan bunda sendiri deh yang mijet dita. Kalo ikhsan kliatan capek, ikhsan biasanya aku pijit sendiri. Cukup olesin baby oil ke kaki dan tangan trus dielus2 pelan sebelum ikhsan bobo. Karena kita yang mijit, biasanya anak jadi relaks beda kalau kita manggil tukang pijit biasanya anak nangis kenceng dan tukang pijit tetep mijit. katanya ntar habis dipijit anaknya ditanggung bobo angler. Kalau menurutku tidurnya ya karena kecapean nangis itu hehe..

    BunDit :
    Iya jeng, yang jelas memang daya tahan tubuh menurun karena kecapekan. Hehehe bener juga ya, kalau habis nangis kejer, jelas pulans ya tidurnya😀

  12. aduh lagi mudik pake diare ya😦 iya mungkin karena kecolongan aja, ya maklum sih, suasana baru, banyak orang-orang lagi. Apalagi dita seneng ngemutin ini itu ya hehehe. Jangan sakit2 lagi ya dita saya.

    Bundit, aku baru sadar belom ku linkback ya. Btw, udah dilinkback kok sekarang🙂 maaf ya kelamaan🙂

    BunDit :
    Iya mam. Sekarang ini emang lagi masanya semua benda yang dipegang digigit. Kemungkinan memang giginya mau numbuh lagi jadi gatel kali. Makasih mam sudah dilinkback🙂

  13. dita met idul fitri ya…maaf telat ya sayang

    BunDit :
    Minal Aizin Wal Fa Izin juga ya bu. Salam buat Kak Farissa🙂

  14. sedih ya kalo anak sakit bun😦

    masalah hometreatment aku setuju, tapi ada kalanya aku nyerah deh bun. Alhamdulillah zahra ngga sakit, tapi pup nya 4-5 hari sekali padahal udah mpasi😦 gak kliatan sakit sih, anaknya tenang-tenang aja. tp aku yang khawatir.. jadi kmrn dikasih obat tetes pencernaan gitu.. mudah2an hari ini pup. padahal udah aku kasih pear, zuchini, alpuket, apel, hari ini nyoba pepaya.

    Eh loh.. maap jadi curhat😛
    sehat terus ya ditaaaa….

    BunDit :
    Iya mbak, aku juga begitu. Memang ada batasnya kapan memang kita harus “terpaksa” memberi obat ke anak. Saya juga gak anti lho sama obat, cuma ya berusaha tidak tiap sakit langsung kasih obat secara oral. Aku doakan semoga dik Zahra setelah dikasih obat tetes itu pup nya selalu lancar ya. Hehehe gak papa mbak. Di blognya Dita tidak ada larangan buat curhat kok🙂

  15. […] by Bundanya Dita on September 22, 2010 Seperti cerita mudik 2009 Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 dan Part 5 ke kampung halaman Ayahnya Dita di Padangsidempuan, cerita mudik 2010 ke […]

  16. […] pilek, sekarang diare dan muntah. Keceriaannya langsung hilang seketika. Bunda inget, Dita terakhir diare waktu mudik lebaran 2009 ke kampung halaman suami di […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: