Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Akhirnya Teh Della mau jadi ART tetap

Posted by BunDit on May 4, 2009

Kejadian Teh Asih yang hanya bertahan kurang 2×24 jam (bagi yang tidak mengikuti proyek hunting ART ku part 1 (emang menarik apa kalau diikuti GR!😀 ), mungkin bisa baca ceritanya yang ini dan ini dulu,  memberi banyak pelajaran buat Bunda :

  • Jangan meng-hire ART yang terlalu muda, minimal umur 17 th.
  • Jika terpaksa adanya yang muda, yakinkan pernah sebelumnya bekerja di Jakarta. Kalau tidak, ditanggung minta pulang😀

Maka mulailah hunting ART part 2. Tidak seperti sebelumnya, kali ini minim kandidat, bukan minim lagi ding, tapi cuma ada 1 kandidat, yaitu nenek berusia 50-an. Kandidat ini Bunda dapat dari informasi ART tetangga. Sebelumnya Bunda dan Ayahnya Dita sempat ragu-ragu, apa gak ketuaan? Tapi kata ART tetangga meski sudah tua tapi nenek ini masih gesit. OK, seperti biasa Bunda minta datang dulu ke rumah.

Nenek datang diantar menantunya. Rumahnya di kampung sebelah. Pertama ketemu nenek ini memang benar, secara fisik memang masih terlihat segar. Cerita punya cerita, nenek ini dulu pernah menikah dan punya anak, tapi suami dan anaknya sudah meninggal karena sakit. Kemudian 2 tahun yang lalu, sempat menikah lagi, tapi karena suaminya suka melakukan KDRT, nenek minta cerai. Walaupun sudah cerai, tapi berdasarkan pengakuan nenek, sang mantan suami ini masih suka nyamperin dan pengin balikan, tapi nenek gak mau. Sebelumnya nenek bekerja jadi ART di dekat rumah dia, tapi dengan alasan capek mengasuh 3 anak yang sudah mulai besar maka dia berhenti. Dan akhirnya mencari pekerjaan lain yang jauh dari rumah supaya sekalian tidak diganggu oleh mantan suaminya. Jadi nenek ini sudah tidak punya keluarga. Menantu yang mengantar ini adalah menantu dari kakaknya. Menantunya ini bersama suami dan anaknya memang tinggal di rumah nenek ini.

Setelah menerangkan deskripsi pekerjaannya termasuk gajinya, nenek OK. Cuma keputusan dari pihak Bunda, Bunda minta waktu untuk membicarakan dengan Ayahnya Dita dulu karena saat itu Ayahnya Dita lagi pergi.

Setelah mendiskusikan dengan suami, suami bilang, “Sebenarnya aku kurang setuju karena terlalu tua, tapi ya kita tidak ada pilihan. Della sudah mau pulang” . Ya, akhirnya kami menerimanya.

Pas tanggal 15 April, nenek mulai bekerja. Seperti biasa Bunda minta teh Della untuk mengajarinya dahulu. Ya, namanya juga orang tua, teh Della cerita, susah banget mengajari nenek. Trus sudah diajarin, eh lupa mulu. Misalnya bagaimana memanaskan botol ASIP adik dll. Dan setelah 3 hari terlewati, hari ke-4, pas hari Sabtu, suami bilang ke Bunda, “Sebaiknya kita pulangin aja si nenek. Aku kasihan sama nenek. Kemarin habis jalan-jalan sore sambil gendong adik, aku lihat nenek langsung rebahan, kayaknya capek banget. Aku gak tega. Kayak liat mama sendiri” . Bunda pun sepakat, karena lama-lama kok timbul perasaan tidak tega. Menyuruhpun jadi sungkan. Benar kata AYahnya Dita, seperti melihat ibu sendiri. Akhirnya, malamnya Bunda langsung telpon ke menantunya. Awalnya menantunya kaget, dikira nenek melakukan kesalahan. Bunda jelasin bahwa tidak ada kesalahan nenek, cuma kami tidak tega melihat nenek. Sepertinya seusia nenek itu sudah waktunya istirahat. Dan menantunya sangat mengerti.

Besok Minggunya, Bunda jelasin juga ke nenek. Bunda hati-hatiiiii banget waktu mau bilang memberhentikan nenek. Alhamdulillah, nenek paham. Dan siangnya nenek dijemput menantunya untuk pulang. Maafin kami ya nek…

Pelajaran lagi buat Bunda :

  • Jangan meng-hire ART yang terlalu tua (>50 th), selain susah diajari karena mereka cenderung suka dengan caranya sendiri, juga kasihan, gak tega lihatnya serta sungkan menyuruh karena seperti berhadapan dengan ibu sendiri.
  • Berbekal pengalaman, menurut Bunda, usia ideal ART : 17-35 th. Tapi konsekuensinya, jika ART belum menikah, dengan range usia tsb, mereka mempunyai peluang yang tinggi untuk resign karena menikah🙂
  • Intinya “NO ART’s PERFECT”. Jadi ya dijalani dan dinikmati saja dinamika ke-ART-an ini😀

Pfuuh, jadi lega. Keputusan ini adalah yang terbaik. Karena Bunda sempat khawatir jika tidak ada teh Della, dan meninggalkan nenek berdua saja dengan Dita. Yang satu sudah tua, yang satunya masih bayi. Takutnya nenek kenapa2, efeknya nanti ke Dita. Lha..ntar bukannya tenang meninggakan anak, malah khawatirnya dobel.

Setelah nenek, tidak lagi ada kandidat. Selama hampir sebulan Teh Della bekerja di rumah, Bunda sudah merasa sreg. Yang terpenting Teh Della sayang sama Dita. Hobinya ber-sms dari pagi sampai tengah malem, tidaklah jadi kendala😀 . Makanya suatu hari, Bunda tanya sama Teh Della, “Teh..daripada kami cari ART lagi, gak ketemu2 juga yang cocok. Udaah teteh tetap disini aja, jadi ART tetap”. Teh Della awalnya diam. Trus Bunda mulai negoisasi nih. Kalau Teh Della mau, Bunda naikkan gajinya, dan jika bertahan sampai lebaran, selain THR Bunda kasih bonus lagi. Akhirnya Teh Della bilang, “Sebenarnya mau sih bu, tapi yang jadi pikiran saya, saya tidak enak sama mamanya Nanda”.

Soal “Ketidakenakan” Teh Della ini begini ceritanya. Saat Teh Euis masih jadi ART ku, Teh Della ini bekerja sebagai ART di tetenggaku (mamanya Nanda). Trus tiba-tiba Teh Della resign dengan alasan mau operasi Thyroid di Kuningan, kampungnya. Ternyata, berdasarkan infonya untuk operasi biayanya besar dan uangnya belum mencukupi. Untuk itu dia dijanjikan mantan majikannya di Kuningan untuk dipinjami uang tapi Teh Della harus bersedia bekerja lagi di rumahnya, sekaligus menggantikan ART mantan majikannya yang mau resign juga. Namun sebelum semua rencana terlaksana, majikannya sakit, jadi realisasi menggantung. Tunggu punya tunggu, mantan majikannya tidak juga memberi kabar. Dan mamanya Nanda sudah mendapatkan lagi ART baru. Akhirnya Teh Della, yang kebetulan kenal baik dengan Teh Euis, Bunda minta untuk menjadi ART sementara selama Bunda belum dapat ART baru tapi Teh Euis sudah keluar.

Dengan berjalannya waktu, ternyata ART mantan majikannya tidak jadi resign, jadinya teh Della tidak jadi ke Kuningan. Kemudian soal operasi, sepertinya Teh Della mempertimbangkan saran Bunda dan Ayahnya Dita untuk mengurus keterangan GaKin supaya bisa berobat gratis. Makanya saat Bunda tawarin untuk jadi ART tetap, setidaknya sampai lebaran, Teh Della OK tapi tidak enak sama mamanya Nanda. Alasannya, lha dulu resign kok malah pindah jadi ART Bunda dimana rumah Bunda dekat sekali dengan rumah mamanya Nanda.

Dengan jawaban Teh Della itu, Bunda bilang “Kalau masalahnya gak enak sama mamanya Nanda, ntar Bunda yang jelasin ke mamanya Nanda”. Eh Teh Della nya keukeuh, “Gak usah aja Bu, Ibu cari ART yang lain saja”. Ya sudah, Bunda gak memaksa.

Akhirnya Bunda dan Ayahnya Dita berharap banget sama ART yang akan dicarikan oleh tukang rokok depan kontrakan kami dulu. Rencana tanggal 3 Mei dia mau pulang ke Brebes, sekalian mau mencarikan ART. Katanya dia sudah terbiasa mencarikan ART untuk diajak ke Jakarta.

Tak disangka hari Kamis, 29 April, Bunda mendapat sms dari Teh Della, bunyinya intinya “Bu, Ibu gak usah buru-buru cari ART. Siapa tahu saya berubah pikiran”. Wah, good news nih! . Sesampai di rumah, Bunda bicarain dengan Teh Della perihal smsnya. Bunda nanya, “Misal teteh mau kerja di sini, teteh harus ngasih keputusannya sebelum tgl 2 Mei. Karena kalau iya, Ayahnya Dita mau mbatalin permintaan ART dari Brebes itu”. Teh Della minta waktu berpikir lagi.

Dan tgl 1 Mei, keputusan datang dari Teh Dell. Katanya “Saya sudah senang kerja disini Bu. Disini saya banyak temen, jadinya waktu tidak berasa, tahu-tahu sore, ibu sudah pulang. Juga ibu memperbolehkan saya pergi hari Sabtu atau Minggu. Kalau ibu nerima saya, ya besok ibu bisa ke rumah mamanya Nanda untuk bilang”. Bunda menyanggupi.

Dan, hari Minggu paginya Bunda, sambil ngajak Dita, ke rumah mamanya Nanda. Teh Della juga ikut. Ya, dengan terus terang Bunda ceritakan perihal teh Della yang mau kerja di rumah Bunda, setidaknya sampai lebaran. Mamanya Nanda dengan santai bilang, “Wah..silakan saja bu. Saya sih OK-OK saja. Lagian saya kan sudah punya ART baru”. Bunda bilang, “Ya, saya yakin ibu gak masalah. Cuma biar Dellanya juga bisa dengar sendiri jika ibu gak keberatan. Soalnya suka ditanya terus sama tetangga yang lain, kenapa Della gak pulang-pulang”. Mamanya Nanda menjawab “Ya kalau tetangga tanya itu biasa bu, mereka kan gak tahu masalahnya. Yang penting saya kan tahu ceritanya. Kenapa Della resign dari rumah saya trus kerja di tempat Bu Ririn”.

Hmm..plong rasanya. Teh Della pun mengaku plong setelah mendengar kata-kata mamanya Nanda. Dan, mulai saat itu, Teh Della resmi merubah status ART sementara menjadi ART tetap. Meski cuma sampai lebaran, setidaknya Bunda dan Ayahnya Dita tidak harus mencari ART pengganti buru2. Semoga nanti setelah lebaran mendapat ART yang cocok lagi. Ah..dipikirin nanti setelah dekat lebaran saja🙂

20 Responses to “Akhirnya Teh Della mau jadi ART tetap”

  1. Motik said

    Wahh ikut lega bund baca nya,jadi untuk sementara happy ending yah hihihi. Memang lebih baik jangan mempekerjakan ART yang udah tua bund. Pengalamanku, mereka susah diajarin karena merasa lebih pengalaman dam hal merawat anak. Masa Kyara umur 3 bulan dikasih pisang kerok padahal Kyara kan ASIX dan kebetulan aku lagi tidur siang dan di rumah lagi gal ada orang, alasannya dia gak enak bangunin aku. Rasanya pengen marah tp gak tega karena udah nenek2, berasa ngomelin ibu sendiri. Sekarang sih udah gak pake ART karena aku FTM dan dibantu ibuku aja (tinggalnya masih numpang ortu hehe).

    Teh della kenapa cuma sampe lebaran bund? Setelah lebaran gak dilanjutin lagi? Emang bund, kalo nulis masalah hunting ART bisa sampe part 10 deh hehehe.. Semoga hunting selanjutnya happy ending lagi ya..🙂

    BunDit :
    Hehehe ART terlalu muda, gak betah. ART terlalu tua, kasihan. Jadi idealnya memang range usianya 17-35 deh. Saya sudah bilang sih sama Teh Della, habis lebaran terus saja. Tapi dia bilang, gak berani janji takut gak bisa menuhin. Lagian dia juga mau operasi dulu, makanya meski nanti pakai GaKin, dia tetep ngumpulin duit dulu sampai lebaran ini. Gitu mbak🙂

  2. nungqee said

    puff… ikutan legaaa mbaca ini.. saya ngerasain banget tuh ditinggal ART kelabakan gantian cuti sama si ayah.. moga2 teh della bener2 cocok sampe lama deh ya.. tapi biasanya nanti setelah lebaran mulai banyak lagi tuh yang mau jadi ART.. tapi kalo musti ganti2 lagi saya tau repotnya kayak apa, jadi mudah2an sampe setelah lebaran teh della juga masih awet ya bu..

    BunDit :
    Iya mbak. Saya dan suami sih maunya gak ganti2 ART. Ya semoga saja teh Della masih berjodoh sama kami untuk awet jadi ART. Tapi Teh Della sudah punya pacar, sebentar lagi kayaknya bakalan menikah deh ..yaaa…gak jadi awet deh😀

  3. legaaaaaaaaaaaaa, happy ending dah. ntar kalo abis lebaran dinego lagih aja bu. sapa tau, dia udah terlanjur sayang juga ma ditta… hihi

    BunDit :
    Iya mbak, rencananya sih kami mau nego lagi habis lebaran. Ya lihat saja nanti🙂

  4. silvi said

    Alhamdulillah….beres juga ahirnya masalah ART teh ya BunDit…buat ibu bekerja seperti kita…masalah paling utama dan selalu saja menghampiri yaa masalah ART ini yaa…

    kalo aku pengennya malah ART yg usianya dibawah 20…kalo yg udah diatas itu apalagi yg udah tua…maleees…berdasarkan pengalaman pribadi yg udah tua malah susah dibilangin dan semaunya sendiri…brasa paling tau gitu…hehehe…

    Btw knapa yaa…ART sekarang doyaaan banget nge HP…ART ku yg beres-2 rumah jg ampuuun dah nge HP nya…cuma yah aku cuekin aja selama ga keterlaluan banget, lagian dia ga megang anak kecil ini…untungnya ART yg ngasuh arfa ama kika ga doyan nge HP…semoga terus begitu…hehehee…

    BunDit :
    Hehehe aku curhat sama temen kantor, katanya “Mbak Ririn ganti ART baru 2X itu mah belum apa. Saya aja kalau dihitung2 bisa ganti sampai 15X” . Capek deeeh..😀 .Soal HP, kalau saya kasih warning yang jelas, boleh bebas nge-HP tapi tidak boleh meleng ngawasin Dita. Soalnya ART ku bilang, nge-HP itu hiburan. Lha kita bekerja saja, bisa ngenet buat hiburan, masak ART gak boleh. Ya, asal gak melupakan tugas🙂

  5. Rohmita said

    saya juga lagi mau cari cari nih ART…memang agak susah2 ya..

    BunDit :
    Wah..cari ART itu bukan agak susah lagi..tapi susaaah banget. Kalau sembarang dapat sih gampang, tapi yang OK sesuai kualifikasi yang kita mau, itu yang susah. Tapi tak perlu cari yang perfect, cukup memenuhi kualifikasi utama kita. Mengenai kualifikasinya, ya beda-beda tiap ibu🙂

  6. ocha said

    wah iya emang kalo ngomongin ART gak ada abisnya deh. ART ku ini jg baru blm ada sebulan tapi untung aja alma cepet akrab jadi gak susah penyesuaiannya. ART ku umur 22 thn udah pengalaman kerja emang bagusan umur segitu udah cukup mateng. Yg sebelumnya 16 th duuuh bebel jg ngajarinnya. Moga teh della mo stay setelah lebaran ya

    BunDit :
    Iya mbak, paling susah lagi cari ART yang momong anak di bawah 1 th. Banyak yang gak mau. Ya semoga aja selalu diberi jalan untuk dapat ART yang sesuai🙂

  7. edratna said

    Ini memang suka dukanya cari ART…apalagi jika masih punya anak kecil.
    Dan sekarang, kita memang tak bisa melarang mereka ber sms ria….walau kadang rasanya aneh, lha separo gajinya habis untuk sms…tapi itu membuat mereka punya teman dan tak merasa sendirian.

    BunDit :
    Benar Bu, kalau saya, saya mencoba berada pada posisi mereka. Lha kita yang bekerja bisa berinternet ria, berhaha hihi, saja kadang merasa jenuh. Apalagi para ART yang bekerja dari pagi sampai sore, mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga anak kecil, rasanya kejenuhannya melebihi kita. Jadi sms-an adalah hiburan yang menyenangkan bagi mereka, seperti dibilang teh Dela, saat saya tanyakan perihal hobinya itu. Ya, kalau saya mengingatkan saja, untuk membatasi, supaya cost sma tidak menelan sebagian besar gajinya🙂

  8. duh aku juga kejadian nih sekarang mba.. kemaren sebulan di bandung ini mbak dewi kliatan betah2 aja, orgnya juga telaten ngurus zahra walau dia suka rada cerewet n sok tau, tapi mayan secara aku gak dapet orang lagi selain dia. eh sekarang blm seminggu di jakarta dia udah bilang gak betah, walau dia gak bilang pengen pulang sih. padahal 2 minggu lagi aku ngantor.. duh pusing deh sekarang… maap ya jadi curhat..

    BunDit :
    Soal ART emang cukup memusingkan. Mungkin ART mbak gak betah karena belum familiar dengan lingkungan rumah di jakarta. Atau belum punya banyak teman yang dikenal.. Soalnya ART ku yang skr mau jadi ART tetap karena dia senang banyak teman. Tiap sore setelah selesai makan dan mandi, Dita di ajak jalan2, sambil ngumpul sama ART lain. Karena perumahanku model cluster kecil, jadinya Insya Allah aman lah. ART itu kan juga butuh sosialisasi. Asal kita pantau saja dengan siapa saja dia berteman. Gak papa mbak, silakan curhat disini. Saya pendengar eh pembaca curhat yang baik kok😀

  9. Heeem turut berduka cita atas korban BOOM KUNINGAN… heeem dapat info dari Metro TV ada ledakan baru di Muara Angke tapi belum pasti berasal dari mana ledakannya… di dekat pintu Toll… Mobil yang meledak… sangat keras…??? So Hati Hati buat temen temen yang sedang beraktivitas di Luar Rumah…

  10. estika said

    hallo mbak, salam kenal dr jogja.
    klo blh tau deskripsi pekerjaan teh della apa aja? trus dgaji brp? (lewat email aja ya)
    memang jogja beda sih, tp setidaknya aq ada gambaran baru.
    many thx

    BunDit :
    Salam kenal juga mbak. Huhuhu..denger Jogja jadi pengen segera pulkam😀 . Ok, mbak Estika, ntar aku kirim deh lewat email🙂

  11. sari said

    Bunda Dita terima kasih dah link-in blog aku di blognya bunda…Ntr aku link balik ya blognya Bunda…

    Aku baru2 ini pas puasa satuhari dapet ART, setelah sekian lama berburu ART ( 2Bulan ). Tapi tyt yang didapat jauuuuhhhhhh dari kenyataan. Usianya udah tua…ya sekitar 30an gitu deh. Tapi mba, baru sehari kerja ajah dah minta2…minta makananlah…nanya2 macem2, boro2 jagain Haidar, aku dah ragu2 duluan….krn pendekatan dia SKSD gitu, masa dateng dari jauh ( hari I ), dah main hampirin Haidar n gendong aja gituh? aduh aku mo protes tapi mulut terkunci. Dan puncaknya, tyt dia mau semua makanan yang dimakan majikannya alias makanan baru mba..pernah aku kasih makanan kmrn yg masih ada, tapi ga diabisin n digeletakin, dibirin terbuka gitu ajah! Ya ampun, lha wong majikannya aja masih makan makanan itu. Ngelus dada deh mba…disuruh nyuciin perlt.makannya Haidar, tapi bersihnya diragukan, dah disuruh dipisain ( aku punya 2 rak piring, 1 buat kita, 1 khusus perlt.nya Haidar ) eh ssaaallaaah melulu! Apalagi klo aku kasih tugas buat nyiapin makanan Haidar ( maksudnya tinggal taro di perlt,makannya aja ) krn kebetulan Ibuku nungguin Haidar di rumah. Nah ART diperlukan buat Masak, Bersih2 Rumah, Nyuci, Nyapu Ngepel n gendongin Haidar, bantuin Ibu ngurus Haidar? menurut mba kebanyakan ga si? mengingat rumahku mungil n ga gede. Then kita juga cuma bertiga dirumah…makanya aku dan suamiku dh memutuskan untuk pake dia sampe lebaran ajah, sesudah itu dipulangin….aku ga tahan mba…matanya suka jelalatan gituh,😦. Btw, mba ada chanel nyari ART dimana lagi? oh ya ART mba kerjaannya apa selain jaga Dita?

    makasi ya mba sharingnya…aku jadi curcol ni…Btw, aku salut sama mba…ibu bekerja tapi masih telaten ya update blog lengkap ttg perkembangan Dita…blog aku ni jadi ga karu2an..pengen nyeritain MPASI 6 Bulannya Haidar aja ga sempet2…hehehehe.

    BunDit :
    Wah, kalau ngomongin ART kagak ade matinye mbak. Di rumah, di kantor, di blog, masalah ART selalu jadi pembicaraan hangat. Rata2 sih merasa gak puas dengan ART nya hehehe. Kalau saya sih, supaya gak uring2 an dengan ART, selalu inget tugas prioritas ART saya, yaitu menjaga dan meyiapkan makan Dita selama saya dan suami kerja. Dan yang terpenting ART saya sayang sama Dita. Mau rumah berantakan, nyuci gak bersih dsb, saya tidak pernah mempermasalahkan apalagi ngomel🙂

    Tugas ART saya juga hampir semuanya deh. Nyuci, ngepel (lantai bawah aja), masak buat Dita, kalau buat makan saya sama suami sih gak wajib dan yang utama jagain Dita selama saya dan suami ngantor. Kalau Sabtu atau Minggu, saya kasih cuti. Kalau masalah tugas ART kebanyakan, tergantung kesepakatan. Ya intinya banyaknya tugas berbanding lurus dengan salary. Salary yang saya berikan ke ART juga hasil negoisasi, jadi sama2 sepakat, scope pekerjaan jelas, salary jelas.

    Kalau dari awal mbak gak puas dengan ART, trus dibilangin gak nurut ya tidak ada jalan lain selain memutus hubungan kerja. Walau saya tahu, cari ART itu gak mudah. Saya aja habis lebaran gak tahu Teh Dela masih mau kerja di rumah saya apa gak. Soalnya katanya kepastiaannya setelah dia pulang kampung nanti. Makanya sekarang lagi PDKT dengan teh Dela, supaya nanti habis pulkam dia balik. Misal gak balik pun, setidaknya dia mengusahakan penggantinya dia. Terus terang saya juga ketar-ketir, habis saya balik dari pulkan trus gak ada ART, duuuuh trus selama saya dan suami kerja, Dita sama siapa. Kalau mbak masih enak lah, masih ada ibu di rumah. Kalau saya, ibu dan ibu mertua saya jauh, jadi tidak bisa mengandalkan siapa2😦

    Saya gak punya channel nyari ART nih. Dapetnya ya dari ART tetangga yang merekomendasikan temennya. Soalnya saya belum berani ngambil dari Yayasan. Ya, semoga mbak bisa segera mendapatkan ART yang sesuai. Dan semoga ART saya juga masih mau bekerja setelah lebaran. Amiiin.🙂

    *ups..jawaban saya puanjang banget ya?😀

  12. sari said

    hehehehe….ga papa bunda Dita. Btw, YMnya apa or imel? aku pengen nanya gimana cara mba wawancarai ART. trus kalo disuruh dateng n ga cocok, gmn dia balik lagi ke kampungnya? prosedurnya gitu. Oh ya mba gaji ART brp? via imel or chat? makasi ya mba…🙂

    BunDit :
    Wawancaranya ya mengungkapkan apa ekspektasi kita ke ART, dan dia menyanggupi/mampu gak?. Ya kita mau meng-hire ART kan ada kriteria tertentu. Trus kalau yang bener2 datang dari kampung, saya pernah mengalami sekali. Waktu itu karena dia nya yang baru 2 hari mau pulang, dia di jemput Bapaknya. Cerita lengkapnya mbak bisa baca di postingan soal berburu ART. Saya cerita detil di situ. Hehehe saya seneng nulis sih, jadi ART pun saya jadikan bahan nulis di blog. Oh ya email saya di alumongga@yahoo.com🙂

  13. […] teh Euis di Euis . Kemudian juga memaparkan bagaimana mendapatkan Teh Dela, ART 2 dalam cerita Akhirnya teh Dela mau jadi ART tetap . Waktu itu teh Euis telah bekerja selama 8 bulan (Dita umur 1 – 9 bulan). Sedangkan teh Dela […]

  14. […] aja Bunda sedih. Kadang untuk menghentikan tangisnya, saat Dita berusia 10 bulan dan sudah dimomong teh Dela, dengan disodorin uang aja, Dita langsung berhenti menangis (hihi kecil2 sudah mata duitan nih […]

  15. […] tahun ini bakalan jadi tahun terakhir teh Dela bekerja sama Bunda. Teh Dela sudah momong Dita saat Dita usia 9 bulan. Sekarang Dita umurnya 3 tahun-9 bulan. Jadi kalau resign lebaran nanti, teh Dela sudah bekerja […]

  16. […] saja teh Ida betah kerja di rumah kami. Teh Euis hanya 8 bulan menjaga Dita, teh Dela bertahan 3,5 tahun. Keduanya resign karena menikah. Meskipun mereka sudah tidak bekerja di rumah […]

  17. […] waktu masih ada teh Dela, urusan masak Bunda gak pusing. Teh Dela ini hobi banget masak dan masakannya cocok di lidah kami […]

  18. […] mulailah Bunda mencari ART dengan menghubungi siapa saja. Bunda kontak dengan teh Dela, siapa tahu adiknya mau. Bunda hubungi teh Euis, ART pertama Bunda, siapa tahu punya temen yang mau […]

  19. […] deh mulai atur cuti gantian sama Ayah. Tapi kok tiba2 Bunda inget Teh Dela. Kapan gitu Bunda sempet sms-an sama Teh Dela yang cerita kalau setelah menikah, dia ikut suaminya […]

  20. […] gak diragukan lagi kan ya.  Alhamdulillah, ART yang pernah bekerja di rumah dari teh Euis, teh Dela…sekarang mbak Atik, semuanya jago masak. Enaknya jadi Bunda . Tapi passion Bunda buat masak […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: