Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Selamat Tinggal Teh Euis. Terima Kasih Teh Della. Selamat Datang [….]

Posted by BunDit on April 2, 2009

Tulisan ini yang sedianya tinggal dipublish, tapi terpaksa ada yang harus saya coret-coret untuk direvisi dulu karena tulisan ini ditulis sebelum  kejadian tak terduga ini.

——————————————-

Sebelumnya saya pernah menulis tentang Teh Euis. Disana saya menceritakan betapa beruntungnya saya mendapat partner seperti Teh Euis untuk menjaga Dita selama saya dan suami bekerja. Waktu itu saya mendapatkan teh Euis dengan cara yang sangat mudah dan dalam waktu yang tepat. Saya dan suami juga nyaman atas keberadaannya.

Dan kenyamanan itu ternyata hanya berumur 8.5 bulan. Teh Euis hadir saat Dita berumur 1 bulan, dan mengakhiri kebersamaan dengan kami saat Dita menginjak usia 9.5 bulan. Agak shock juga. Tapi Ayahnya Dita bilang, saat seperti ini pasti akan datang. Gak mungkin kan, dia bekerja terus sama kita. Saya sih sebenarnya menyadari, tapi kok ya cepet ya. Maunya ntar lebaran aja🙂

Bagaimana saya dan suami tidak nyaman. Teh Euis iu orangnya cekatan, gampang diajak bekerja sama, pinter masak (nasgor bikinannya uenak😀 ). Dan yang terpenting adalah sayang sekali sama Dita dan mampu menjadi partner yang bisa menterjemahkan apa yang saya dan suami mau dalam kaitannya dengan hal-hal yang berhubungan dengan Dita. Ibaratnya saya dan suami otaknya, Teh Euis itu tangannya. Salah satu contoh, saya yang memikirkan menu makan Dita sehari-hari, mencatat, menyediakan bahannya, dan Teh Euis tinggal mengolah dan menyuapi Dita. Dan Teh Euis selalu tak kehabisan akal, bagaimana membuat Dita nyaman bersama dia.

Sejujurnya, saya banyak belajar darinya. Karena dia yang lebih intens bergulat dengan acara makan Dita, kadang dia yang lebih tahu, apa yang Dita suka, bagaimana sebaiknya bahan makanan ini diolah dst. Kadang memberi ide-ide yang berkaitan dengan makanan Dita.

Meski saya dan Teh Euis sudah begitu dekat, dia tidak pernah terbuka soal hubungan dengan pacarnya. Lha kalau terima telpon dari pacarnya saja kayaknya suka ogah-ogahan menerima, Eh, kok tahu-tahu mau menikah. Dari Teh Della, saya baru tahu ternyata pas bulan Januari dia minta cuti 1 minggu (terpaksa saya juga cuti ngantor seminggu), ada acara lamaran. Teh Euis ngakunya ortunya kangen aja. Trus acara pernikahan itu juga ternyata sudah ditentukan tanggalnya jauh2 hari, yaitu tanggal 4 April besok. Lha kalau saya tanya, bilangnya belum mau menikah. Kata Teh Della, Teh Euis malu bilang sama saya. Mungkin dari awal bekerja, Teh Euis cerita kalau niat bekerja dulu buat membahagiakan ortunya dan akan menikah 2/3 tahun lagi. Eh, tiba-tiba rencana berubah setelah ketemu AA nya itu. Padahal kalau bilang terus terang, saya juga gak masalah. Orang mau menikah kok dihalangi. Ya semoga saja, nanti masih bisa ketemu Teh Euis untuk mengucapkan selamat. Karena berdasarkan info Teh Della, setelah menikah Euis akan kembali ke Bekasi ikut suaminya.

Karena gak tahu rencana menikahnya, saya sempat menjanjikan kenaikan gaji berkala kalau dia betah kerja sama kami. Karena saya dan suami penginnya tidak berganti2 ART. Apalagi sudah menemukan yang klop dan sreg . Tapi, ya apa daya. Karena Teh Euis resign, terpaksa kami berjibaku lagi mencari ART baru.

Namun karena hubungan saya dan Teh Euis sangat baik, hal ini memberi keuntungan, saat dia memutuskan resign :

  • Tanpa saya minta, Teh Euis berusaha mencari penggantinya. Dia mencari informasi ke ART tetangga, sampai nanya tetehnya di kampung. Dan ART baru Teh Asih yang sekarang sebagai penggantinya pun, kami dapat atas usaha dia. Walaupun Asih yang kami dapat atas usaha dia, cuma bertahan kurang 2×24 jam di rumah kami😦 . Anyway, usahanya patut dihargai.
  • Dia mendukung permintaan saya untuk mentraining penggantinya sebelum dia pulang. Teh Della sebagai ART sementara dia kasih tahu apa-apa yang harus dilakukan selama saya dan suami bekerja. Dan sekarang Teh Della yang mentraining Teh Asih. Jadi saya enak kan?🙂.  Ternyata trainingnya sia-sia, karena teh Asih sudah keburu gak betah. Saya gak jadi enak deh😦 . Tapi setidaknya sekarang masih ada Teh Della di rumah yang sudah cukup mahir mengikuti irama kehidupan kami dirumah, terutama dalam menjaga Dita🙂

Bagi saya dan suami yang sama-sama bekerja, ART untuk menjaga anak merupakan kebutuhan sangat krusial. Karena kami jauh dari orang tua dan mertua. Saudara pun juga tempat tinggalnya jauh. Jika tiba-tiba ART resign mendadak, entah bagaimana. Makanya saya dan suami selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan ART, karena itu terbukti sangat meringankan di saat-saat genting.

Tapi bagaimanapun, yang datang pasti akan pergi. Yang membuat saya terharu, Teh Euis sempat menitikkan air mata saat pamit dan mencium Dita. Dita pun sempat berteriak pengin ikut, saat Teh Euis melambaikan tangan ke Dita. Tak lupa sebelumnya, Teh Euis memberikan bingkisan buat Dita. Sebagai kenang-kenangan, katanya. (Foto bingkisannya menyusul).

Selamat jalan Teh Euis. Selamat mengarungi bahtera rumah tangga. Semoga selalu berbahagia.

Terima Teh Della yang telah sudi mengisi kekosongan ART antara  karena perginya Teh Euis dan datangnya Teh Asih sekarang terpaksa masih harus bertahan dirumah karena ketidakbetahan teh Asih. Semoga kami segera mendapatkan pengganti teh Euis sehingga Teh Della bisa segera pulang ke Kuningan.

Selamat datang Teh Asih. Semoga teteh sayang sama Dita dan betah menjadi partner saya dan suami dalam menjaga Dita selama kami bekerja.

7 Responses to “Selamat Tinggal Teh Euis. Terima Kasih Teh Della. Selamat Datang [….]”

  1. ke2nai said

    siang… ‘lam kenal y… ‘met wiken🙂

    BunDit :
    Salam kenal juga mbak. Salam buat Kak Keola & Kak Naima dari dik Dita🙂 . Nice weekend 2…

  2. sanggita said

    Duh, Mbak dilematis juga ya. Dulu saya juga ubyek nyari ART buat bantuin mama mertua ngurus Wima dan Willa di Sukabumi. Dicariin sama ibu di Solo, udah dapet beberapa kandidat, ternyata mama ngga sreg kalo ada orang lain turut tinggal di rumah. Ya sudah, selama saya di Jakarta, suami kerja, mama ngajar TK dimana Wima sekolah, Willa diasuh gantian sama adik-adik perempuan mama yang FTM.

    Setiap pagi, suami nganterin konyil2 ke basecamp : rumah nenek buyut, di sanalah keluarga besar kami berkumpul. Sekompleks saudara semua, je. Jadi mereka turut mengawasi perkembangan anak2 saya. Satu lagi yang membuat saya sreg terhadap keluarga Sukabumi adalah pendidikan agamanya yang kuat. Dari nenek, mama, dan adik2 mama adalah ustadzah semua.

    Makanya saya tenang ngangsu kawruh sementara di Jakarta. Kalo kondisi saya seperti Mbak Ririn, kemungkinan besar saya resign lho. Berani mencoba seperti Bundanya Azkia?

    Bundanya Dita :
    Hehehe belum berani mbak. Ada beberapa alasan yang tidak perlu saya sebutkan kenapa saya tidak mau (belum berani) resign. Dan supaya tidak semakin gelisah dan bimbang, saya berusaha tidak memikirkan kemungkinan untuk resign. Kedengarannya egois ya? Tapi ya begitulah….🙂

    Ada temen kantor yang nanya, kenapa saya tidak segera memberi adik buat Dita. Katanya biar sekalian repot. Saya bilang saya sih pengin nambah lagi, tapi kepikiran ntar siapa yang momong? Lha cari ART untuk 1 bayi aja susah minta ampun, apalagi ntar ada 2 bayi. Tapi kata temen saya, santai aja mbak, soal ART, meski susah Insya Allah selalu aja jalan keluarnya. Dan celakanya, saya percaya kata2 temen saya itu😀 . Meski sekarang lagi pusiiiing banget, ART belum dapat2 juga😦 . Kalau ambil baby sitter dari yayasan, saya akan lakukan jika kepepet. Ribet dan agak parno jika urusan dengan yayasan (belum pernah sih, cuma dari cerita temen).

  3. edratna said

    Urusan si mbak, teteh …ini memang gampang-gampang ruwet. Kalau di rumah cuma keluarga inti, biasanya lebih mudah, tapi juga rawan karena anak kita benar-benar ditinggal sama orang lain.
    Semoga gantinya baik ya mbak.

    BunDit :
    Iya bu, ya begini salah satu dinamika berumah tangga. FTM saja masih membutuhkan ART, apalagi FWM. Terima kasih supportnya bu🙂

  4. ochie said

    Idem mbakyu…Aurel malah sempet ditinggal mbaknya waktu umur 5 bulan, pas saat dia udah mulai milih mau sama siapa…untungnya segera ada pengganti…tapi proses ‘mau’nya lamaaaaa…

    Untungnya saya kerjanya remote dari rumah..jadi gak ngantor tiap hari😀

    SEkedar sharing yah…Anaknya ipar sepupu saya (ribet gak?) disewain ama pembantunya ke pengemis Rp 20rb/hari…ketawan setelah hampir 1 bulan karna anaknya jadi sakit2an trus item…Serem bgt…hati2 yah sis…

    BunDit :
    Wah, enak dong bisa kerja remote dari rumah. Jarang lho perusahaan di Indonesia yang mau menerapkan kerja dengan sistem remote.

    Aduuuh ceritanya serem ya. Makanya aku gak mau ambil ART/baby sitter dari Yayasan. Menurutku mereka itu sudah “terlalu experience” jadinya malah takut anak kita “diapa2in”. Aku lebih prefer ambil ART dari kampung/kenalan yang bisa dipercaya. Anyway thanks sudah diingatkan. Semoga aku cepet dapat ART yang cocok🙂

  5. silvi said

    haii…salam kenal…baca postingan yg ini…wuih seruu…sebagei emak-2 bekerja…nasib kita sama…’dikerjain’ pembantu…maksudnya kita bener-2 tergantung ma mreka…

    Untungnya dah ampir 6 bulan aku dipindah ke bandung jadinya ada yg ngawasin…mamaku…ga brani juga ninggalin anak ama asisten doang kalo anaknya masih kecil banget…

    moga-moga cepet dapet gantinya yaa…

    BunDit :
    Iya mbak maunya sih juga ada ibu/mertua/saudara yang bisa ngawasin di rumah. Tapi ya gimana lagi, ibuku itu paling gak betah lama2 di Jakarta, lagian juga Bapak ku udah sepuh, jadi ya ibu harus jagain. Trus mama mertua, masih dines dan bapak mertua juga sudah sepuh, gak bisa ditinggal. Jadinya aku dan suami benar2 mengandalkan ART. Kadang pengin anak cepet gede aja hehehe. Tapi gak seru juga ah, masak mbrojol langsung gede. Mengamati perkembangan anak-anak itu menyenangkan dan masa2 seperti itu gak akan bisa terulang, jadi kudu benar2 dinikmati.

    Anyway, thanks doanya ya mbak🙂

  6. Aku baru aja dapet ART buat ngasuh zahra mbak.. jujur rada kikuk juga nih, biasanya kan nebeng nyokap, aku ngga pernah ngatur2. ini aku sendiri yang mempekerjakan dia. Tapi alhamdulillah orangnya rajin n baik, walo rada centil jg sih.. hehe tyt susah gampang ya punya ART, kita harus nyesuain diri juga sama dia biar dia dan kita nyaman..

    BunDit :
    Sama mbak, awalnya rada kikuk ada “orang asing” di rumah kita dan bekerja untuk kita. Tapi lama-lama sih biasa. Ya semoga ART nya mbak betah kerja dan sayang sama Zahra🙂

  7. ietoh said

    halo mama ditta,

    salam kenal juga yah. alhamdulillah akhirnya bs dapet asisten baru tanpa syusyeh2. hehe. mudah2an teh asih bisa se okeh teh euis yah. amien …

    BunDit :
    Hehehe belum baca cerita lengkapnya ya mbak. Teh Asihnya cuma “bertahan” kurang 2×24 jam😦 . Makanya sekarang lagi hunting ART lagi nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: