Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

2 Minggu “berburu” ART

Posted by BunDit on March 31, 2009

Dua minggu yang lalu, menjelang Dita ulang bulan 9, tepatnya tgl 14 Maret, datang keputusan yang sangat mengejutkan dari Teh Euis (yang momong Dita).

Teh Euis (TE) :  “Bu, saya disuruh mama saya pulang kampung”.

Bunda kaget karena sebelum2 nya tidak ada tanda-tanda ke arah sana. Ternyata, pas Teh Euis main ke rumah tetehnya dan sekalian ketemu pacarnya, pacarnya bilang kalau tanpa sepengetahuannya, Ibu nya sudah nelpun Ortu nya teh Euis buat ngelamar teh Euis.

Bunda  (B) : “Lho..katanya mau menikah 2 atau 3 tahun lagi”

TE : “Maunya sih begitu Bu. Sebenarnya saya sih belum pengin menikah. Tapi ibunya AA (pacarnya TE) itu kan sudah tua, makanya mendesak AA untuk cepat menikah, takut gak ada umur melihat anak lelakinya menikah.

B : “Emang mau menikahnya kapan? Kalau masih lama ya setidaknya kamu disini sampai lebaran”.

TE : “Menikahnya belum tahu kapan Bu. Tapi karena saya sudah dilamar, saya harus pulang ke rumah. Tidak boleh jauh-jauh dari ortu” 

B : “Trus rencana pulangnya kapan?”

TE : “Maunya mama saya sih besok. Tapi saya bilang ke mama, saya mau cari pengganti saya dulu setidaknya sampai akhir bulan Maret, kan kasihan ibu kalau adik gak ada yang momong”

Nah artinya kami hanya punya waktu 2 minggu untuk mencari pengganti Teh Euis. Meski Teh Euis janji akan mencarikan penggantinya, tetap saja saya dan Ayahnya Dita juga sibuk mencari. Siapa tahu Teh Euisnya tidak berhasil menemukan penggantinya. Dan selama masa pencarian, ada 6 calon kandidat.

Calon Kandidat 1 :

Teh Euis bilang, tetangga Tetehnya di kampung dekat perumahan, ada yang mau kerja. Namanya Mbak Evi, orang Purworejo kelahiran Bekasi, umur 19 th. OK, Bunda langsung minta Mbak Evi datang ke rumah buat diwawancara dulu.

Bunda (B) : “Mbak Evi, sudah biasa jaga anak belum?”.

Mbak Evi (ME) : “Sudah, tapi waktu anaknya sudah gede sekitar 3 tahun”.

B : “Bisa membuat makanan buat anak gak?”

ME : “Saya gak bisa masak, Bu”

B : “Tapi mau belajar kan? Nanti diajarin dulu sama Teh Euis”

ME diam. Wajahnya menunjukkan ketidakyakinan.

B : “Lha dulu di tempat kerja yang lama, makanan untuk anak yang kamu momong gimana?

ME : ” Dulu ibunya masak dulu sebelum berangkat kerja, saya tinggal nyuapin”

Dalam hati, saya maunya orang yang bisa memasak buat Dita. Biar makanannya Dita fresh from the oven hehehe.

B : “Oh ya, kalau adik pup, kamu bisa kan nyebokin kan? Kamu jijikan gak?

ME : “Eeee..saya agak jijikan juga sih”. Dan sepertinya mbak Evi menjawab begitu, biar memiliki alasan untuk menolak bekerja. Sebelumnya bilang mau pikir-pikir dulu. Lha apanya yang perlu dipikir. Deskripsis pekerjaan jelas. Gaji jelas. Padahal gak masalah juga kalau dia terus terang jika keberatan bekerja.

Batin saya, “Ah…anak ini gak niat kerja. Coret! . Kata Ayahnya Dita, setelah mbak Evi nya pulang, kalau anak lahir di sini, susah lah. Gak bisa apa-apa. Beda kalau dari kampung.

Calon Kandidat 2 :

Namanya Teh Ros. Dia tetangganya Teh Euis di Padalarang. Teh Ros ini umurnya 35-an, anaknya sudah umur 19 tahun (temannya Teh Euis waktu SMP) dan sudah bercerai dengan suaminya. Karena berjauhan ya wawancaranya lewat HP. Ternyata Teh Ros ini sudah pernah bekerja di Arab Saudi selama 4 th. Tapi karena habis kontrak, dia pulang kampung dan anaknya minta kerja di dekat2 saja. Setelah saya terangin, apa saja pekerjaan yang dilakukan dan gaji sekian, dia OK. Tapi saat saya minta ke Jakarta tgl 26 Maret kemarin, katanya gak bisa dan mintanya nanti tgl 2 April. Wah, kok molor-molorin waktu nih. Saya gak langsung coret, tapi saya bilang, “OK ntar dihubungi lagi”. Jika kepepet, Teh Ros bisa jadi kandidat yang dipertimbangkan🙂

Calon Kandidat 3 :

Ayahnya Dita dijanjikan temannya yang pembantunya lagi pulang kampung. Temannya minta pembantunya membawa 1 orang yang bisa bekerja di tempat kami. Ternyata tgl 23 Maret diberi kabar, pembantunya tidak dapat orangnya. Gagal.

Calon Kandidat 4 :

Ayahnya Dita mendatangi rumah kontrakan kita dulu. Temannya yang suka aplusan jaga warung rokok didepan rumah itu, kabarnya suka mencarikan ART dari Brebes. Setelah ketemu, ternyata temannya itu baru akan pulang kampung akhir April. Wah, kelamaan nih. Tapi OK lah, meski belum tentu dapat setidaknya masih ada harapan. Siapa tahu sampai akhir April belum dapat ART pengganti.

Pas, kurang seminggu lagi sebelum Teh Euis pulang, saya dapat cerita dari Teh Euis kalau Teh Della balik ke Jakarta. Ceritanya Teh Della ini adalah ART tetangga. Karena mau operasi Tyroid, Teh Della berhenti bekerja dan pulang kampung ke Kuningan. Namun ternyata, biaya untuk operasinya kurang jadi memutuskan balik ke Bekasi lagi, ke rumah tetehnya di kampung dekat perumahan. Rencananya Teh Della ini menunggu mantan majikannya saat kerja di Kuningan yang sedang berobat ke Jakarta. Mantan majikannya itu menjanjikan akan memberikan pinjaman biaya operasi jika Teh Della mau balik lagi kerja di Kuningan. Kata Teh Della, kira-kira pertengahan April, mantan majikannya itu akan menghubunginya. Nah, Bunda kepikiran daripada menunggu ART baru yang masih sama-samar datangnya, mendingan meng-hire Teh Della sementara. Setidaknya Ayah dan Bunda tidang kemrungsung dan agak tenang karena masih punya cukup waktu untuk mencari penggantinya Teh Euis. Siapa tahu Teh Euis sudah pulang, sementara ART baru belum dapat.

Tapi karena Teh Della ini mantan ART tetangga, Bunda memberitahu dulu tetangga kalau Teh Della mau bekerja sementara di rumah kami. Kalau tidak memberitahu takutnya Bunda dicap membajak ART tetangga😀 . Untungnya tetangga saya itu tidak lagi mengharap Teh Della karena Teh Della hanya bisa bekerja sementara. Akhirnya tgl 25 Maret, Teh Della mulai bekerja di rumah kami. Sengaja bekerja saat masih ada Teh Euis supaya Teh Della bisa ditraining dulu sama Teh Euis. Hehehe kayak kerja di perusahaan aja ya, pakai on the job training segala. Jadinya sekitar 5 hari kami memiliki 2 ART🙂 .

Di tengah ART yang melimpah itu (karena mencari ART susah, jadi kalau ada 2 ya namanya melimpah😀 ), tgl 26 Maret, Teh Euis yang memang cukup gaul di perumahan mendapat informasi dari ART tetangga yang namanya Siti, kalau ada 2 temannya dari Brebes yang ingin bekerja di Jakarta. Wah, calon kandidat nih, pikir saya. Setelah di beri nomor HP nya, Bunda mulai wawancara keduanya lewat HP.

Calon Kandidat 5 :

Namanya Murni, umur 19 tahun. Saat ditelpun, saya belum nanya apa-apa, dianya nanya duluan : “Bu, rumah ibu dekat dengan Pondok Gede gak?”. Bunda tanya kenapa? Jawabnya, “Pacar saya kerja di sana, jadinya saya mau kerja dekat dia”. Yah, terpaksa saya langsung mencoret calon kandidat ini. Motivasi bekerjanya tidak sesuai yang saya harapkan.

Calon Kandidat 6 :

Namanya Asih, 15 th. Saat di telpon yang ngangkat malah ibunya dan HPnya di aktifkan speakernya. Jadinya ngobrol dulu sama ibunya. Saya jelasin mengenai pekerjaan Asih nanti, yang utamanya adalah momong Dita selama saya dan Suami bekerja. Kata ibunya Asih, semuanya tergantung Asih, ibunya Asih justru minta keyakinan bahwa rumah kami memang dekat dengan tempat Siti bekerja. Saya bilang, rumah majikannya Siti berhadapan dengan rumah saya. Mungkin ibunya akan tenang kalau tempat bekerjanya Asih berdekatan dengan teman sekampungnya. Feeling saya, saya sepertinya cocok dengan anak ini. Saya minta Asih ke Jakarta tgl 29 Maret. Transportasinya akan saya tanyakan ke majikannya Siti dulu.

Hari berikutnya saya berkunjung ke rumah tetangga, majikannya Siti. Menceritakan bahwa ada temennya Siti yang mau bekerja di rumah kami. Tetanggaku, yang ternyata juga berasal dari Brebes, menjelaskan kalau dulu Siti ke Bekasi naik travel. Untuk lebih rincinya, dia langsung nelpun buliknya di Brebes yang ternyata mantan ibu gurunya Siti dan Asih. Ibu Guru ini yang nanti bersedia membantu mengurus  perjalanan Asih ke Bekasi menggunakan travel. Dan untuk memudahkan travelnya, tetangga saya mengusulkan supaya nanti Asih di drop di rumah Bapak Mertuanya yang tidak jauh dari perumahan kami, baru kami menjemputnya ke sana.

Sebelumnya saya minta Asih datang ke Bekasi tgl 29 Maret dan dia setuju. Namun sehari sebelumnya Asih memberitahu bahwa mobil travelnya tidak ada yang berangkat hari Minggu dan belum tahu kapan akan berangkat. ya sudah, saya menunggu saja.

Hari Sabtu kemarin, tgl 28 Maret, jam 10.00, Teh Euis jadi pulang kampung. Teh Euis sempat meneteskan air mata saat pamit dan mencium Dita. Dita pun teriak-teriak pengin ngikut. Selamat jalan Teh Euis. Terima kasih telah menemani Dita selama ini.

Walau belum dapat ART tetap, saya masih tenang karena ada Teh Della yang menjaga Dita selama saya ngantor. Hari Minggu, 29 Maret, Siti datang ke rumah memberitahu bahwa Asih akan berangkat Senin malam, sampai ke Bekasi Selasa pagi.

Dan tadi pagi2, saya ditelpon tetangga kalau Asih telah sampai di rumah mertua tetanggaku itu. Ayahnya Dita pun segera menjemputnya. Dan sebelum berangkat ngantor tadi pagi, saya sudah bertemu dengan Teh Asih. Dita masih enggan digendong Teh Asih, tapi senyam senyum saat menatapnya. Ya semoga, Teh Asih betah bekerja di rumah kami dan bisa menjadi teman Dita selama saya dan suami bekerja🙂

Puffh…beginilah seninya menjadi ibu bekerja. Ya, meski sewaktu-waktu dipusingkan dengan pencarian ART yang benar-benar tidak mudah, ya dinikmati saja lah. Insya Allah semua dapat berjalan dengan lancar. Amin.

7 Responses to “2 Minggu “berburu” ART”

  1. sanggita said

    Wah, hebat sekali Bunda satu ini. Perjuangan berdua mendapat ART yang paling sesuai dengan Dita, pake walk in interview segala. Eh, competency-based interview ding, hihihi. Semoga mbak Asih mampu menjaga amanah ya, Mbak.

    Apakah butuh bantuan untuk probing kondisi psikologisnya? Nanti saya kasih tes DISC (untuk melihat tipe kepribadian) dan grafis deh (untuk melihat kecenderungan gangguan jiwa). Hehehe…

    Ini maksudnya gimana? “…saya ditelpon tetangga kalau Asih telah sampai di rumah mertuanya..” Mertua si tetangga atau mertua mbak Asih? Bukannya mbak Asih masih di bawah umur ya?

    Hmm, rasanya baru kemarin baca cerita tentang mbak Euis yang terampil mengurus Dita, kok ya cepet amat resignnya. Ditunggu cerita-cerita tentang mbak Asih selanjutnya ya…

    Bundanya Dita :
    Ya mau tidak mau saya sama suami harus begitu mbak. Ortu dan mertua jauh. Tempat tinggal saudara juga jauh. Jadi benar2 mengandalkan ART untuk menjaga anak selama bekerja. Jadi beruntung deh yang bisa sementara menitipkan anak ke ortu atau mertua jika tiba2 ART resign hehehe.

    Sebenarnya sih untuk mencari ART gak bisa memilih yang benar-benar sesuai keinginan kita mbak. Tapi setidaknya kriteria utama : sayang, bisa menjaga & memenuhi kebutuhan anak selama kami kerja, terpenuhi, yang lain bisa diatur. Lha kalau jijikan nyebokin anak, ya langsung saya coret🙂

    Hehehe itu maksudnya ya mertua tetangga saya. Ya, semoga saja teh Asih nya betah. Soal Teh Euis masih ada 1 tulisan lagi, lagi on process🙂

  2. nungqee said

    mbak ririn, mo nanya tentang gaji asistennya, dengan deskripsi seperti itu dikasih berapa, tunjangan brapa, japri aja ya mbak, ga enak kalo terbuka, ke emailku ya..
    soalnya aku agak bingung nih dengan si mbak jum, setelah bude nggak disini lagi, dia gado2 mengerjakan semua nya sendirian, merangkap babysitter, merangkap koki, merangkap tukang bersih2 rumah, tukang taman, aku bingung aja sih.. tak tunggu ya🙂

    Bundanya Dita :
    Sudah saya jawab di email mbak🙂

  3. nungqee said

    howaaaaaaaaa… commentku masuk spam mbak.. hiks hiks hiks.. coba dicek yaaa

    Bundanya Dita :
    Sudah aku ambil dari kotak spam mbak. Tuh..udah nongol di atas🙂

  4. […] 2 Minggu “berburu” ART […]

  5. mamaray said

    Waah… begitu memang ya konsekuensi workin’mom…
    Sama, Bun, saya juga lagi nyari ART, mampir ke sini pas baca kisah Bunda yang ini, klop dah!

    Salam kenal ya Bun, ijin nge-link… salam sayang untuk Dita…

    Ly

    BunDit :
    Salam kenal juga mam. Iya, cari ART yang cocok emang problem utama ibu bekerja mam. Semoga segera dapat ART sesuai yang diharapkan ya. Blog mama saya link juga ya🙂

  6. ann said

    wah sama lagi mbak..
    ini jg kejadian barusan. Trs saya bilang dia ga boleh keluar sebelum saya dpt pengganti.
    Trus… dia blg kakaknya aj yg kerja jgn orang lain gantinya. Tp saya ttp nyari juga. Dia ttp maksa kakaknya aj..saya sdh dpt gantinya. Tp demi dia (kasian, kelurganya kurang), saya mau aja diagnti kakaknya. Belum ada sebulan kakaknya dah minta pulang2 kali @4hari. Alasannya anaknya sakit..n si adik (yg sebelumnya kerja) nikah
    Tiba2 lg dia bilang..mau kerja dg alasan anaknya (umur 4th) hrs dibawa. Saya tidak setuju..n akhirnya dia kabur…
    Saya blg minta tolong nunggu smp ada pengganti (krn dia dl nyanggupin kerja, sampe saya ga jadi ama calon lain) dia ga mau..
    hadeeehh capeee deeh.
    Saya terpaksa cuti lagi krn di rumah saya cm berdua (ama baby) aja
    Dah cuti lama, belum jg nemu lagi nih mbak….
    memang susah sih pegang omongan ART..sama sekali ga mau tahu ..padahal kita dah banyak ngalaaahhhh n bantu n baeekkk n ngasih apa yg mereka mau… (mikir2 kita nitip anak siang hari)..

    BunDit :
    Ya, setidaknya kita sudah berusaha baik sama ART mbak. Yang dibaikin aja seperti itu, apalagi kalau kita gak baik, takutnya ART juga jadi gak baik sama anak kita. Soalnya selama kita kerja kita mempercayakan anak kita 100% ke ART. Semoga segera mendapat ART yang baik dan cocok ya mbak🙂

  7. astri said

    Dear Mbak Ririn, wah blognya bener2 membantu ak.. ak boleh nanya tentang gaji asistennya nggak, japri aja ya mbak. ART ku baru keluar, karena dia nggak enak tinggal dirumahku sama suami dan anaknya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: