Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Tentang Madu

Posted by BunDit on March 4, 2009

Mengapa Madu sebaiknya diberikan kepada anak setelah usia 2 tahun?
madu

madu

Tak bisa disangkal, madu (honey) banyak sekali manfaatnya. Namun di dalam madu terdapat satu bakteri bernama Clostridium botulinum yang jika masuk ke tubuh anak dibawah 2 tahun dapat menyebarkan toxin penyebab botulism.

 

Gejala botulism pada anak adalah :

  • nampak lesu
  • nafsu makan buruk
  • sembelit
  • menangis dengan sangat lemah
  • gerakan otot buruk

Jadi, makanan/minuman yang bermanfaat pun jika dikonsumsi tidak pada waktunya (sesuai usia) akan berakibat fatal.

Referensi :

About.com : Pediatric

4 Responses to “Tentang Madu”

  1. Sebaiknya untuk anak seumuran Dita jangan diberikan madu dulu…. cukup ASI saja.
    Rasa madu dan ASI gk jauh beda koq…. sama2 manis…. He….😀

    Bundanya Dita :
    Lho…kok tahu ASI rasanya manis?😉

  2. joe said

    botulisme, wah baru dengar ini ya…

    Bundanya Dita :
    Saya juga baru tahu (dituntut tahu) tentang ini setelah punya anak🙂

  3. sanggita said

    Wah, Bun. Dulu waktu Wima belum genap 2 tahun, kalo pas susah makan malah dikasih arutan kunir campur madu. Kok makannya jadi bagus lagi ya? Kemanakah saya harus mencari informasi?

    Bundanya Dita :
    Buat saya, tiap anak adalah unik. Ada anak yang “tahan banting” meski diberi sesuatu yang menurut medis/”penelitian” belum boleh dikasih. Ada anak yang sebaliknya. Kalau saya lebih memilih untuk memberikannya sesuai dengan usia (walau kadang mencuri start bbrp hari😉 ), karena kan reaksi akan timbul belakangan. Ibu saya aja sering protes, kalau saya ini terlalu saklek😀

    Yang namanya informasi itu bertebaran suangat banyak. Kalau senada gak masalah. Lha ini banyak pro-kontra, yang satu bilang A, sumber ini bilang B. Tapi karena kita harus memutuskan mau ikut yang mana, ya ikuti kata hati saja, mana yang terbaik buat anak kita. Yang paling tahu anak kita kan ya kita sendiri. Bukan begitu mbak?🙂

  4. sanggita said

    Hehe, ngga tau juga, Bun. Saya juga dianggap terlalu saklek sama teori dan penelitian waktu nggedein Wima di Solo dulu. Keluarga Solo kan breh weh gitu. Akhirnya manut aja sama orangtua, asal ngga kebangetan😀 Toh, kadang2 street smart itu perlu kok.

    Sama juga guidance buat kesehatan psikologis anak. Misalnya: Anak jangan dimarahi supaya ngga trauma. Lah, ibunya kan punya emosi juga. Apalagi si konyil Wima itu ‘benar-benar menggemaskan’. Tetap saja saya dan suami menunjukkan ekspresi tegas kalo Wima berperilaku kebangetan. Dan seterusnya.

    Duh, pingin lanjut komen. Tapi ntar malah jadi satu artikel sendiri, hehe *ikutan komennya mbak Ririn di blog saya

    Bundanya Dita :
    Hehehe emang jadi orang tua dituntut pintar2 menghadapi anak ya. Bagaimana “harus marah”(baca : tegas) tapi tidak membuat anak trauma dsb. Mbak Sanggita tulis aja di blognya mbak mengenai ini, setidaknya menuliskan pengalaman saat membesarkan Wima. Pasti aku baca dengan seksama deh hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: