Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Baby Walker : Ya atau Tidak?

Posted by BunDit on February 26, 2009

pic-baby-walkerSekarang usia Dita baru 8 bulan lebih, tapi seneng banget kalau diberdiriin dan ditetah. Karena menurut Bunda usia Dita masih terlalu dini untuk belajar berjalan, jadi harus hati-hati saat menetah. Masih dipegangi ketiaknya, bukan tangannya. Jika diajak jalan-jalan pun suka menangis minta turun dari gendongan kalau melihat anak tetangga yang berusia 11 bulan sedang belajar jalan. Jika dituruti keinginannya itu, senengnya minta ampun. Kakinya digerak-gerakin dan tertawa-tawa.

Suatu hari, mbak Euis nanya ke Bunda, “Bu, adik gak dibelikan seperti punya anak tetangga itu lho…yang buat belajar jalan,,apa namanya. Anaknya ibu itu usia 6 bulan sudah pakai itu lho Bu?”. Dan Bunda jawab aja ” Itu namanya Baby Walker. Adik gak akan Bunda belikan, biar saja nanti belajar jalannya ditetah saja. Lebih aman dan alami. Dan tentu saja lebih hemat😀 ”

Ya, untuk benda bernama Baby Walker ini tidak kami masukkan dalam budget keperluan Dita. Dengan alasan :

  • Tidak aman
  • Membuat proses berjalan tidak alami
  • Ketersediaan ruangan yang lega di rumah tidak mendukung, ntar malah njedug sana njedug sini (hallah…bilang aja rumahnya sempit😀

Mengenai alasan pertama : Tidak Aman , ini Bunda baca referensinya di http://www.aap.org/publiced/BR_Walkers.htm .Yang intinya, saat anak berada dalam Baby Walker bisa terjadi hal sbb :

  • Menyebabkan patah tulang atau benturan keras di kepala bila BW bergerak tidak terkendali misalnya menggelinding dari tangga.
  • Karena anak lebih mudah meraih benda di tempat lebih tinggi saat di BW, kemungkinan bisa terkena benda yang menyebabkan terbakar/panas, misal ketumpahan teh panas di atas meja.
  • Anak bisa terjerembab ke bathtub, kolam renang atau toilet (yang ini sebenarnya gak ngaruh lha wong di rumah gak punya bathtub dan belum bikin kolam renang hehehe 😉
  • Karena BW “berlari” sangat cepat (3 feet/detik atau sekitar 0,9 m/detik), banyak orang tua yang tidak mampu mencegah jika terjadi apa-apa.

Kata artikel itu juga walaupun sudah ditetapkan standar keamanan yang baru sejak tgl 1 Juli 1997 yaitu lebih lebar dan dilengkapi mekanisme rem, tapi tetap saja tidak dapat mencegah terjadinya kecelakaan seperti dipaparkan di atas.

Jadi, Dita…nanti kalau sudah saatnya tiba, belajar jalannya ditetah saja ya nak. Gak papa bikin Bunda, Ayah atau Mbak Euis capek. Lihat serunya Dita berlatih berjalan nanti, pasti rasa capek jadi menguap. Dan pastinya tanpa Baby Walker jadi lebih asyik deh….🙂

3 Responses to “Baby Walker : Ya atau Tidak?”

  1. sanggita said

    Dulu pas zaman Wima, saya juga konsultasi ke dokter yang kebetulan sahabat karib saya. Dia juga tidak menyarankan penggunaan baby walker. *lupa alasannya apa, hehe.

    Tapi saya tetap pakai baby-walker, karena :
    1. Pegel nggendong atau megangin Wima
    2. Paling ampuh untuk nyuapin makan Wima (dia beredar kemana-mana, pegang apa aja sampe mbladhus boleh, asal makanan ditelan)
    3. Halaman depan rumah (waktu itu di Solo) luas banget

    Saat itu saya kan full-time mother, jadi keawasin terus. Meski letak rumah di depan jalan besar arah luar kota (liat kan foto2 Wima yang di-posting Kompetensi Anak 1,5-2 tahun? Itu di rumah Solo). Pencegahan kecelakaan : paling ditali pake jarik, trus kalo kejauhan dari yang jaga, tinggal tarik.

    Wima lama kok pake baby-walkernya (7 bulan pake, baru jalan 14 bulan). Jadi baby-walker ngga ngaruh ke cepat ata ngga-nya jalan, karena pasti kembali ke kesiapan tulang si bayi. Baby-walker cuma memfasilitasi anak untuk pecicilan dan – ini utamanya – biar yang jaga ngga pegel, hehe.

    Bundanya Dita :
    Iya mbak, saya dan suami memutuskan tidak membelikan BW karena untuk antisipasi soal keamanan saja. Mendingan sebagian budget untuk beli BW nya untuk insentif Mbak Euis kalau dia rajin netah Dita. Jadi sama-sama happy kan?🙂

  2. mutti said

    Sepakat, Bun.. Gak usah baby walker. Ajarin merangkak dulu ya, bantu dgn perut diganjal guling kecil, jd tangannya latihan nyonggo awak. Dita ke pejaten dong.. Nanti dinyanyiin putus nyambung sama kakak, hehehe

    Bundanya Dita :
    Mutti, Dita sekarang sih udah bisa nyonggo awak dengan posisi merangkak gitu. Tapi belum bisa nggerakin tangan dan lutut untuk merangkak. Kalau mau maju, dada dan perut yang ditaruh hehehe. Iya nih, kapan ya ke pejaten? Insya Allah pasti ke sana deh, cuma belum bisa janji kapan waktunya🙂

  3. ika said

    bundit, anakku putri 5,5 bulan dah minta berdiri dan berjalan….serius..klo ga diturutin ngamuk, nangis kenceng, padahal takutnya tulang kaki blom siap, apa pengaruh dipijit bayi tiap hari ya? klo aku udah siap moonwalk, itu yang kayak tali trus diselipin diselangkangan..tapi tetep aja kepikiran, belum merangkak kok dah berdiri..kayaknya tips di atas bisa ditiru…

    BunDit :
    Dita dulu juga begitu mam, umur 5 atau 6 bulanan gitu, seneng banget kalau diberdiriin. Kalau pengaruh pijit bayi, gak tahu juga sih. Dita dulu juga saya pijit 2x sehari. Yang jelas kalau minta berdiri atau jalan, saya dulu dikasih tahu harus pegang ketiaknya, biar tumpuan di kakinya gak kuat. Saya malah dulu gak kenal yang namanya moonwalk hehehe. Kalau fase yang dilalui tiap bayi, setahu saya beda2 ya. Ada yang gak pakai merangkak langsung jalan lho mam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: