Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Imunisasi Non-PPI, Perlukah?

Posted by BunDit on February 13, 2009

Mulai Dita lahir sampai usia 6 bulan, Dita telah mendapatkan beberapa imunisasi. Imunisasi PPI (Program Pengembangan Imunisasi) yang WAJIB :

  • BCG
  • Hepatitis B (1,2,3)
  • Polio (0,1,2,3)
  • DPT (1,2,3)

Dan untuk Non PPI-gak wajib tapi dianjurkan :

  • Hib (1,2,3)

Imunisasi wajib yang belum dilakukan adalah Campak saat Dita usia 9 bulan nanti.

Seminggu terakhir kepala saya berkecamuk mengenai perlunya imunisasi yang lain untuk Dita. Akhirnya saya mencari tahu, dari tetangga, temen, internet, perlukah Imunisasi Non-PPI ini, yaitu imunisasi yang tidak diwajibkan tapi dianjurkan (rekomendasi IDAI) yang terdiri dari :

  • HiB : mencekal kuman Haemophyllus Influenzae type b) yang menyerang selaput otak penyebab meningitis (radang selaput otak).
  • Tifoid : aktif mencekal demam tifoid alias penyakit tifus
  • Hepatitis A : untuk mencegah penyakit Hepatitis A
  • Varisela : memberi kekebalan thd penyakit cacar air (chicken pox)
  • Influenza : untuk mencegah penyakit influenza
  • MMR : untuk mencegah Mumps (gondongan/parotitis), Measles (campak) dan Rubella (campak Jerman).
  • Pnemokokus (PVC) : untuk mencegah IPD (Invasive Peumococcal Disease) yakni meningitis (radang selaput otak), bakteremia (infeksi darah) dan pnemonia (radang paru).

Dan saya tercekat, ternyata pro-kontra mengenai Imunisasi ini begitu santernya. Ada yang bilang imunisasi sangat perlu, ada yang bilang itu hanya sekedar menggemukkan pemain bisnis vaksin. Ada yang meyakinkan imunisasi itu aman, tapi ada yang menyanggah dan bilang jika ada efek sampingnya. Dst…dst….

Dan jelas di website IDAI atau website yang pro imunisasi pasti merekomendasikan semua jenis imunisasi untuk bayi.

Seperti link ini :

Namun bagi yang kontra mereka menulis dengan sengit.

Coba simak link berikut :

Dan orang tua seperti saya jadi BINGUNG!!. Namun kami (saya dan suami) memutuskan hanya melakukan imunisasi yang WAJIB saja + HiB (karena ini dari awal selalu dilakukan berbarengan dengan DPT dan Polio). Kami hanya bisa berharap semoga dengan asupan ASI,  mengkonsumsi makanan sehat dan menjalani pola hidup sehat, tubuh Dita bisa membuat kekebalannya sendiri untuk menangkal berbagai penyakit yang menyerang. Amin.

*Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya kami “berubah pikiran” untuk melakukan imunisasi yang wajib plus yang dianjurkan untuk Dita. Salah satu alasannya adalah betapa pentingnya imunisasi untuk anak.

Bagaimana pendapat Bunda yang lain?

7 Responses to “Imunisasi Non-PPI, Perlukah?”

  1. Mutti said

    Bulik, kalo Thifa pake semua, kecuali varisela (belon, lagi mikir2), IPD (sampe sekarang belon kepikir), Influenza juga engak. MMR nya Thifa setelah usia 3 tahun lebih banyak. Demikian juga dengan Thypoid dan Hepatitis A. Waktu itu langsung dijadiin satu sama oma dokternya🙂

    kalo dipikirin emang bingung sih, Bulik,, jadi ikuti kata hatimu sajah,,😀

    Bundanya Dita :
    Iya dik. Semoga langkah yang aku dan Ayahnya Dita ambil, menjadi yang terbaik buat Dita. Selalu sehat ya nak🙂 .

  2. sanggita said

    Dipelajari dulu deh, Bun. Baru komen. Untuk Wima sendiri, saya juga hanya ngasih yang wajib. Tapi minggu depan pas imunisasi Willa, mau konsultasi dulu deh sama dokter anak, perlunya imunisasi2 anjuran tersebut.

    Orang kantor juga pada heboh imunisasi Hepatitis B untuk orang dewasa setelah MCU/medical check up tahunan. Tapi setelah saya konfirmasi ke dokter, ternyata untuk orang dewasa hanya memiliki profisiensi terjangkit 5%, kecuali kalo mau pergi ke luar negeri. Oleh karena itu, saya urungkan niat untuk imunisasi.

    Memang harus memiliki informasi berimbang ya, Bun. Jangan sampai karena ketakutan, akhirnya malah jadi tidak rasional.

    Bundanya Dita :
    Thanks mbak, aku tunggu komen selanjutnya. Namanya juga buat anak jadi apa-apa harus diputuskan dengan hati-hati tapi tetap rasional.

  3. dinanathalia said

    Kalau aku sm ayahnya Nayyara beda bun. Hampir semua imun baik yang wajib atau ga kita kasih ke Nayyara dengan pertimbangan lebih baik mencegah daripada mengobati.Karena kita ga pernah tau kapan datangnya penyakit. Daripada nanti menyesal belakangan. Apalagi Nayya perempuan, kita overprotective bgt,smpai imun cacar pun kita ksh, dengan harapan Nayyara insyallah ga terkena cacar suatu saat🙂 Aku pernah baca bun, ada juga orang tua yang sm sekali ga mau anaknya di imun, walaupun imunisasi yg wajib. Dengan alasan mereka ga tau kandungan obat yang masuk ketubuh anaknya, apakah halal atau tidak. Solusinya mereka selalu memberikan mau sebagai antibodi buat anaknya. Kalau dipikir-pikir bener juga sih ya bun, dan itu hak setiap orang tua. Tapi kalau saya dan suami stelah berkonsul dengan dokter, mendapat penjelasan yang masuk akal dan berpedoman “lebih baik mencegah daripada mengobati” dan kita berdua mantabplus yakin bahwa ini yang terbaik untuk nayya, akhirnya Nayyara kita ksh imunisasi yang disarankan dokter deh,dan juga tetap minum madu hehehe.
    Jangan lupa ditambah doa bun, doa minta agar anak kita selalu sehat dan terhindar dari segala macam penyakit.

    Bundanya Dita :
    Kalau tanya dokter ya pasti jawabannya itu mbak. DSA nya Dita pun berpendapat demikian. Kalau dokter perusahaan bilang imunisasi cacar pun tidak menjamin nanti anak kita tidak kena cacar air. Hehe bingung deh. Ya, apapun yang kita putuskan semoga itu yang terbaik buat anak kita dan anak kita selalu sehat. Amin.

  4. sanggita said

    Bun, pas imunisasi Willa kemarin, saya konsultasi sama dokternya. Untuk imunisasi non PPI cukup Hib dan IPD saja katanya. Yang penting kita menjaga lingkungan tetap higienis dan asupan nutrisi yang bergizi. Kita aja ngga dapet imunisasi macem2 kayak gitu kan? Don’t too worry-lah.

    Kalo imunisasi DPT plus Hib, biasanya habis berapa, Bun? Saya kok 400ribu ya? Untuk IPD katanya 800ribuan. Pas Wima saya tawarin kemarin, dia mengendap2 dari ruang dokter trus keluar! hehe, padahal ngga pernah ditakuti alat suntik lho. Willa aja pas disuntik ngga nangis kok.

    Bundanya Dita :
    Thanks banget infonya ya mbak🙂 . Dulu Dita imunisasi DPT + Hib juga habis segitu mbak, karena DPT nya milih yang gak panas. DPT gak panas : 293.000, DPT panas : 20.000 (jauh amat yak?), Hib : 224.000. Tapi kalau digabung jatuhnya lebih murah : 434.000. Ada yang bilang lebih baik DPT yang panas aja, karena panas itu menandakan “reaksi positif” thd imunisasi tsb. Tapi saya tetep aja pilih yang gak panas. Kasihan anaknya lah kalau pakai panas segala. Lagian sstt.. biayanya ditanggung kantor hehehe😉

    Dita kalau diimunisasi (disuntik) nangisnya beberapa saat setelah jarumnya dicabut hehehe. Sebelum disuntik malah ngoceh dan ketawa2😀

  5. sanggita said

    Jadi, Dita imunisasi non-PPInya mw apa aja? DPT non panas digabung Hib juga 400an ribu. Tapi ini Sukabumi lho, Bun. Harusnya kan di bawah biaya kalo di Jakarta.

    Perasaan zaman Wima dulu imunisasi ga pernah lebih dari 100ribu-lah. Ke puskesmas deket rumah Solo soalnya, hehe. Alhamdulillah sehat2 juga tuh.

    Bundanya Dita :
    Kalau untuk produk imunisasi infantrix-hib nya saya kira harganya gak jauh beda. Yang bikin beda antara Jakarta & Sukabumi paling biaya konsul dokternya. Sampai saat ini sih, saya dan suami memutuskan imunisasi Non-PPI untuk Dita ya Hib aja.

    Kalau saya juga berpendapat untuk imunisasi gak perlu harus ke rumah sakit. Ke klinik cukup lah. Cuma saya biasanya sekalian mau konsul yang lain ke DSA nya Dita.

    Alhamdulillah, semoga anak2 kita selalu diberi sehat ya🙂

  6. […] hanya memberikan imunisasi yang wajib plus 1 yang dianjurkan yaitu Hib saja untuk Dita. Ceritanya disini. Alasan Bunda waktu itu adalah hasil berdiskusi dengan Ayahnya Dita yaitu meminimalisasi masuknya […]

  7. bunda danish said

    menurut pendapat BunDit tentang artikel ne gmn?
    http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/

    BunDit :
    Bagi saya adalah wajar jika terjadi pro dan kontra untuk satu masalah (dalam hal ini mengenai imunisasi). Pihak yang pro dan kontra ini layaknya menghadap tembok, satunya tembok warna biru, satunya warna merah. Sampai kapanpun keduanya tidak akan menemukan titik temu. Saya pribadi sangat menghargai perbedaan, perbedaan itu indah kok. Tergantung dari diri kita aja,kita meyakini yang mana. Dalam hal imunisasi, saya tidak mau membantah apa yang diungkapkan artikel tsb. Kenapa? Saya tidak punya cukup ilmu untuk itu. Saya hanya bisa bilang bahwa saya pribadi meyakini bahwa imunisasi itu penting. Kalau ada yang bilang, orang2 dulu gak diimunisasi tetap sehat2 aja kok? Benar, tapi itu dulu. Dunia semakin berubah. Perilaku penghuninya pun berubah. Gak pelak lagi, tercipta penyakit baru yang aneh-aneh. Menurut saya, lama2 dunia itu “tidak bersih”. Makanya dengan pemikiran sederhana saya itu, saya meyakini imunisasi itu perlu. Saya tahu, imunisasi tidak menjamin 100% anak2 kita terhindar dari berbagai penyakit, tapi setidaknya jika terkena, Insya Allah tidak separah apabila tidak diimunisasi. Awalnya saya juga memutuskan hanya imunisasi yang wajib untuk Dita. Tapi selanjutnya saya berubah pikiran. Silakan lihat di https://alumongga.wordpress.com/2010/02/10/imunisasi-untuk-dita/. Insya Allah pilihan saya ini adalah yang terbaik buat anak saya. Itu saja Bun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: