Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Ketika 2 Budaya Dipersatukan…

Posted by BunDit on February 9, 2009

Awalnya saya memanggil calon Ayahnya Dita dulu dengan sebutan “Mas”. Ternyata itu mengundang banyak “protes’ dari beberapa pihak, padahal mantan pacar saya itu malah gak protes :D . Sampai-sampai ibu kos saya yang orang Padang bilang “Gimana sih Rin, orang Sumatera kok dipanggil Mas,  panggil “Abang” dong…”. Akhirnya saya mulai memanggil calon Ayahnya Dita itu dengan sebutan “Abang”, awalnya kagok juga ternyata lama2 terbiasa dan tampaknya Abang lebih senang dengan panggilan itu🙂.

Setelah menikah, saya cuek aja memanggil ibunya abang dengan “mama” dan bapaknya abang dengan “bapak”. Jadi ngikut aja bagaimana Ayahnya Dita memanggil. Tapi suatu saat Mamanya Abang bilang “Maen (singkatan dari Parumaen)-menantu perempuan, nanti2 panggil mama dengan “Bou” dan bapak dengan “Amang  Boru”. Ya akhirnya  mulai saat itu saya memanggil kedua mertua saya dengan Bou dan Amang Boru. Memang panggilan di budaya Ayahnya Dita cukup membuat “gagap” bagi orang Jawa seperti saya. Hubungan apa saja ada sebutannya.

Apalagi kalau sudah ngumpul dengan Keluarga Besar Ayahnya Dita. Bunda speechless habis. Sering gak mudeng harus manggil apa untuk saudara yang ini, yang itu. Untung mereka maklum dengan kebingungan itu, jadi sering dikasih tahu. Kayak kemarin Minggu waktu ngelayat Kakaknya Abang di LA (Lenteng Agung) ketemu seorang nenek. Setelah menerangkan saya ini siapa, nenek itu bilang “Maen, aku ini kakak (jauh) dari amang borumu, jadi panggil aku Bou”. Saya tersenyum malu sambil manggu-manggut aja😀 . Bunda memang harus banyak belajar beradaptasi mengenai hal ini.

Nah, setelah Dita lahir saya mulai nanya ke Ayahnya Dita, sebagai anak JaMan alias Jawa Mandailing, bagaimana Dita harus memanggil saudara2 nya di Keluarga Besar Ayahnya. Kalau dari Bundanya sih gampang🙂

Jadi begini Dita memanggil …

Dari Keluarga Ayah :

“Opung” kepada mama dan bapaknya Ayah

“Bou ” kepada adik perempuan Ayah

“Amang Boru” kepada suami adik perempuan Ayah

“Uda” kepada adik laki-laki Ayah

“Nang Uda” kepada istri adik laki-laki Ayah

Dari Keluarga Bunda :

YangTi (Uti)” kepada ibunya Bunda

“YangKung” kepada bapaknya Bunda

“Pak De” kepada kakak laki-lakinya Bunda

“Mutti” kepada istri kakak laki-lakinya Bunda (habis yang bersangkutan tidak mau dipanggil Bu De sih, katanya sebutan Bu De itu identik dengan ibu-ibu pakai kebaya dan sanggulan  :D )

“Bu Lik” kepada adik perempuan Bunda

“Pak Lik” kepada suami adik perempuan Bunda

Kalau Dita manggil sepupunya :

  • Kak Thifa (anak dari Pak De & Muttinya Dita. Sebutan Kak menjadi tepat karena Kak Thifa sepupu dari kakaknya Bunda dan umur Kak Thifa lebih tua dari Dita)
  • Dik Tita (anak dari Pak Lik dan Buliknya Dita. Meskipun dik Tita umurnya lebih tua dari Dita tapi karena menrupakan anak dari adiknya Bunda, maka dalam budaya Jawa tetap dipanggil Dik)
  • Kak Owen dan Kak Rini (anak dari Bou & Amang Boru nya Dita. Meski pun mereka adalah anak dari adiknya Ayah, karena usianya lebih tua dari Dita tetap dipanggil Kak. Jadi sepertinya beda dengan budaya Jawa – ntar dikonfirmasi dengan ayahnya Dita dulu😀 , soalnya Opungnya Dita gak pernah mengoreksi panggilan Dita thd sepupunya di Padangsidempuan ini.

Sebagai tambahan, ada salah kaprah panggilan Bunda ke Muttinya Dita dan sebaliknya. Walaupun Muttinya Dita lebih muda dari Bunda, tapi karena merupakan istri dari Kakaknya Bunda harusnya Bunda manggil Muttinya Dita dengan sebutan “Mbak” dan Mutti ke Bunda dengan “Dik”. Tapi karena dari awal sudah kebalik ya sampai sekarang salah. Awalnya Yangti nya Dita suka mengingatkan tapi karena sudah terlanjur yaaa gak papa lah😀

Ya beginilah ketika 2 budaya dipersatukan, hidup kita menjadi semakin “berwarna”  dan menuntut kita untuk pintar-pintar beradaptasi🙂

4 Responses to “Ketika 2 Budaya Dipersatukan…”

  1. Mutti said

    Bun, gak diceritain juga soal -mbak & adik- yang salah kaprah itu?? huehehehehe,,, warna-warni Indonesia-ku yaaa,,,😀

    sekalian tanyain Tulang, kalo Thifa manggil Opung-nya Dita apa dong? Opung juga ato Oma-Opa? siap-siap kalo ketemu lagi,,,🙂

    Bundanya Dita :
    Hehehe yang salah kaprah sudah ditambahkan. Lupa aku nulis yang itu. Iya sudah ditanyakan ke Ayahnya Dita, katanya panggil aja kakek dan nenek🙂

  2. agoyyoga said

    Hebatnya Indonesia, bukan begitu Bundanya Dita?😀

    Bundanya Dita:
    Yoi mbak…😀

  3. tutinonka said

    Suami saya orang Melayu (aslinya sih Banjarmasin tetapi kemudian lama merantau ke Riau). Kalau memanggil ibu mertua ya ‘ibu’ saja, manggil ayah mertua ‘abah’. Kakak-kakak ipar cukup ‘mas’ dan ‘mbak’. Nggak ribet-ribet amat, wong budaya mereka sudah campur-campur, banyak yang menikah dengan orang di luar Melayu …

    Bundanya Dita :
    Sama Bu. Kalau ngumpul di keluarga besar suami saya, ya sudah “Bhinneka Tunggal Ika”. Semua suku ada di sana. Ya saya berusaha menghargai keluarga suami saya aja, dengan salah satunya memanggil mereka sesuai budaya mereka. Mereka seneng, saya juga seneng, lha wong bisa nambah ilmu🙂 .

  4. edratna said

    Hehehe…seru ya…dan nampaknya asyik. Perbedaan memang bukan untuk diributkan, malah kita menambah perbendaharaan.

    Bundanya Dita :
    Iya bu….dulu blas gak nyangka jodoh saya orang sebrang hehehe😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: