Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Tes Pendengaran buat Dita

Posted by BunDit on January 30, 2009

Dulu waktu hendak membawa pulang Dita dari Rumah Sakit setelah lahir, susternya bilang, “Bu..nanti di kontrol pertama (seminggu kedepan), ibu bisa ambil hasil tes OAE”. Waktu itu saya dan suami tidak mengerti sama sekali apa itu OAE. Seminggu kemudian bersamaan dengan imunisasi BCG, saya mengambil hasil tes OAE (Oto Acoustic Emission). Di amplopnya tertulis “Dianjurkan tes BERA umur 3 bulan”. Wah ini apa lagi?

Setelah membaca isi dari tes OAE ini terlihat grafik-grafik hasil tes pendengaran untuk kedua telinga Dita. Untuk yang RIGHT, ada tulisan “PASS”. Sedangkan untuk LEFT, tertulis “REFER”. Saya mak deg! Wah, telinga Dita kenapa nih? Pas tanya susternya, dia bilang “Ibu jangan panik dulu, untuk pastinya ibu nanti ke dokter spesialis THT, belum tentu pendengaran anak ibu ada masalah. Bisa jadi pas uji OAE, di telinga kiri anak ibu ada kotoran/lemak, karena tes ini dilakukan setelah bayi lahir”.

Meski demikian saya dan suami tidak tenang. Lalu saya mencari2 informasi mengenai OAE dan BERA (Brainstem, Evoked, Response, Audimetry) ini. Salah satu hasil pencarian informasi bisa baca disini. Selama menunggu Dita umur 3 bulan, setiap saat saya, suami dan mbak Euis selalu merangsang pendengaran Dita. Dengan mengajak berkomunikasi, menyanyi bersama, memberi mainan yang berbunyi dsb. Dan selama 3 bulan itu respon Dita sangat bagus. Di ajak bercanda, ikut tersenyum/tertawa. Menoleh ke arah sumber suara. Jika ayahnya bersin (bersinnya kueras banget😀 ), Dita kaget. Melihat perkembangan Dita seperti ini, saya semakin yakin tidak ada masalah dengan pendengaran Dita. Apalagi Dita tidak memiliki faktor resiko seperti yang dipaparkan di artikel tsb.

Untuk meyakinkan, waktu Dita umur 3 bulan, atas rekomendasi DSA nya, Dita menjalani tes OAE ulangan sebelum tes BERA. Tes nya tidak menyakitkan, telinganya hanya dipasangi semacam kabel yang menghubungkan ke suatu alat. Namun tes ini bisa dilakukan jika bayi dalam keadaan tidur nyenyak. Makanya dokter yang memeriksa harus sabar menunggu pasien kecilnya tertidur dulu secara alami. Artinya bayi tidak boleh diberi obat tidur. Jadilah di ruangan itu banyak orang tua yang anaknya mau menjalani tes OAE/BERA, dengan berbagai cara membuat anaknya tidur.

Selama menunggu Dita tidur, saya sempat mengobrol dengan seorang ibu yang anaknya akan menjalani tes BERA juga. Saya lihat anaknya sudah cukup besar. Berdasarkan cerita sang ibu, dia baru sadar anaknya ada masalah dengan pendengarannya setelah berusia 1 tahun. Tidak menoleh saat dipanggil namanya dan tidak merespon suara2 di sekitarnya, sehingga di usia sekecil itu sudah harus memakai alat bantu dengar. Ada juga anak yang akan menjalani tes tsb karena waktu lahirnya prematur sehingga BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).

Setelah di tes, Alhamdulillah, hasil tes OAE Dita bagus. Kedua telinga Dita baik RIGHT maupun LEFT tertulis “PASS’. Ketika mau dilanjutkan dengan tes BERA, Dita terbangun dan gak tidur2 lagi. Akhirnya kata dokter, nanti aja tes BERA nya pas umur 6 bulan aja. Namun selama di rumah, dianjurkan untuk selalu merangsang pendengaran anak.

Setiap saat kami memantau Dita. Sampai umur 6 bulan, pendengaran Dita rasanya normal-normal saja. Dipanggil namanya pun menoleh. Tapi sekali lagi untuk meyakinkan, baru saja Dita menjalani tes BERA.  Alhamdulillah hasil nya bagus, normal. Dan dokter pun tetap berpesan, setiap hari terus lah menstimulasi anak agar semua panca inderanya berfungsi dengan baik. Siap dilaksanakan, Dok!

Ayah dan Bunda lega..:-)

Dita, buah hati Ayah dan Bunda. Selalu sehat ya nak….

4 Responses to “Tes Pendengaran buat Dita”

  1. Nice post….😀

    Bundanya Dita :
    Thanks mas Fahrisal🙂

  2. sanggita said

    Saya juga tertarik untuk melakukan serangkaian tes untuk memastikan bahwa perkembangan anak pada tataran normal. Tapi suka mikir dulu sebelum ke dokter,”Beneran perlu ga sih?” Jangan2 saya yang terlalu paranoid?

    *selain takut ngabisin plafon berobat dari kantor, hehe

    Bundanya Dita :
    Kalau tes OAE itu sepertinya sudah menjadi standard RSIA tempat Dita lahir utk dilakukan setelah bayi lahir (umur 2 hari). Saya juga melakukan tes OAE ulang dan BERA karena tes OAE pertama Dita, hasilnya telinga kirinya “REFER”. Kalau hasil keduanya “PASS” pasti juga tidak direkomendasikan oleh DSA nya untuk tes BERA. Kalau direkomen trus kita gak lakukan trus terjadi apa2 kan kita nyesal mbak. Kadang saya juga terlalu paranoid, maklum anak pertama. Kalau suami sih lebih tenang. Lebih baik memang melakukan tes buat Willa yang dirasa perlu aja. Apalagi mbak kan sudah pengalaman pada Wima. Soal plafon, benar mbak. Sekarang ngitung nya harus detail. biar gak nombok di akhir tahun😀

  3. Boryz said

    boleh tahu mbak … daftar RS yg menyediakan fasilitas test tersebut …

    Maaf saya kurang tahu detil daftar RS ang menyediakan fasilitas OAE dan BERA ini. Kalau dulu Dita ke RSIA Hermina Bekasi. Silakan hubungi saja RS yang paling dekat dengan tempat tinggal Bapak🙂

  4. Ella said

    Harga tes OAE dan BERA mahal ga? berapa yah? terima kasih

    Wah saya lupa persisnya, coba telpon kee RS mam untuk nanya harganya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: