Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Euis

Posted by BunDit on December 5, 2008

Ya, namanya Euis. Tapi waktu memperkenalkan diri dulu, ngakunya Iis. Alasannya karena menghormati lidah orang-orang yang bukan orang Sunda yang sulit melafalkan kata dengan huruf vokal berdampingan. Sudah dipermudah aja, masih ada juga yang manggil Ois🙂

Flash back sebentar. Dulu saat Dita umur 1 bulan, Bunda sudah mulai mencari yang akan momong Dita saat Ayah Bunda ngantor. Ternyata mencari Asisten Rumah Tangga (ART) tidak semudah yang dibayangkan. Nanya teman kantor, katanya juga lagi nyari karena ART lamanya keluar tanpa alasan yang jelas. Pas nanya sama ART tetangga, eh dijawab katanya susah nyari ART menjelang lebaran (waktu itu bulan Juli), mendingan habis lebaran aja. Lha wong Agustus Bunda sudah ngantor, gimana nunggu sampai lebaran? Yangtinya Dita yang selama sebulan nemenin juga sudah mau pulang ke Jogja. Meski sudah pensiun tapi Ibu punya rumah makan yang harus diurus jadi tidak mungkin dimintai tolong menjaga Dita. Bunda juga gak tega, masak kita dari kecil sudah ngrepotin orang tua, sudah punya anak pun masih saja ngrepotin. Bunda penginnya yangti nya Dita istirahat, menikmati masa tuanya di kampung halaman dengan tenang bersama YangKung. Lagian mana betah orang tua dari kampung berlama-lama di Jakarta yang penuh sesak seperti ini?. Sebelumnya ibu sudah berusaha mencarikan ART dari Jogja, ternyata rata2 mereka tidak mau bekerja di Jakarta. Sampai-sampai Ayah berencana mau mendatangkan ART dari kampung Ayah nun jauh disana. Wah Bunda sampai stress deh😦

Setelah nelpon dan sms sana sini buat mencari ART. Suatu malam, ART tetangga sebelah datang ke rumah dan bilang “Bu, ada tuh yang lagi nyari kerjaan”. Bunda bilang “Mana orangnya, suruh ke rumah aja”. Langsung deh orangnya ke rumah. Pas ketemu, Bunda agak ragu juga. Tenyata yang datang masih sangat muda, umurnya baru 17 th. Penampilannya ABG banget. Waktu itu Bunda mikir, wah bisa gak ya anak ini ngurus bayi? Setalah ditanya2 katanya dia punya pengalaman ngurus bayi. Ya OK lah, akhirnya Bunda terima, setidaknya akan Bunda lihat dulu bagaimana kerjanya.

Dan mulai saat itulah Mbak Euis kerja di rumah. Awalnya dia belum berani mandiin Dita yang baru 1 bulan. Makanya 1 minggu pertama, Mbak Euis melihat cara Bunda mengurus Dita. Ternyata dia orang yang cepat belajar sehingga Ayah Bunda berharap semoga dia adalah orang yang tepat untuk menjaga Dita selama Ayah Bunda bekerja.

Dan sekarang hampir 5 bulan Mbak Euis menjadi teman setia Dita kalau Ayah dan Bunda lagi ngantor. Yang nyiapin dan ngasih ASIP buat Dita. Yang ngais -meminjam istilah mbak Iis untuk maksud menimang2- Dita. Yang mandiin Dita. Yang nyuci baju kami pagi2 benar. Yang nyetrika baju kami. Yang kadang-kadang (kalau Dita pas tidur) masih sempat masak buat kami. Orangnya benar-benar bisa diandalkan🙂

Sebenarnya maunya kami, mbak Euis gak perlu masak. Konsens jaga Dita saja. Tapi apa jawabnya, “Kalau adik tidur, saya masak aja ya Bu. Daripada bengong”. Tapi Bunda bilang,”Kamu boleh masak tapi tetap awasi adik. Yang utama adalah jaga adik”. Dan dia sangat paham dengan rule ini. Kalau Dita seharian gak mau tidur, mbak Euis sms kalau dia gak sempat masak. Tapi selama ini, seringnya bisa masak daripada tidaknya🙂 . Bunda tinggal memberi uang belanja dan menentukan menu masakan yang simpel2 aja. Kalau mba Euis diberi kebebasan menentukan menu, gak pernah mau. Lagian kasihan juga sudah masak suruh mikir menu. Jadi kalau soal mikir, ya disitulah porsinya Bunda🙂 .

Walau pekerjaannya cukup padat, mbak Euis sempat bersyukur. Suatu hari dia bilang :

“Bu, mbak sebelah itu kasihan lho Bu. Tiap malem dia harus bangun beberapa kali buat nyiapin susu bayi. Soalnya katanya ASI mamanya gak keluar jadi minumnya susu formula. Kalau saya enak ya, malam bisa istirahat dengan tenang karena kalau malam kan ibu ngasih ASI langsung ke adik”

Bunda tersenyum mendengarnya. Ternyata ASI tidak hanya memberi kebaikan kepada Dita (karena manfaatnya), pada Ayah (karena murah meriahnya😀 ), pada Bunda (karena memberi kenikmatan sebagai ibu bisa memberikan yang terbaik), tapi juga pada Mbak Euis karena kepraktisannya. Thanks to ASI🙂 .

Mbak Euis ini orang nya care banget sama Dita. Bunda selalu bilang, kalau di rumah adik sering diajak ngobrol. Dan dengan senang hati dia melakukannya. Ngajak ngobrol, bercanda, menyanyikan lagu, juga aktif menstimulasi Dita dengan berbagai hal, seperti melihat gambar2, menerangkan hal-hal yang dilihat di seputar rumah dll. Selain itu mbak Euis ternyata sangat perhatian dengan semua hal yang menyangkut Dita. Kalau Dita sedang diimunisasi, dia mendengarkan dengan seksama apa jawaban dokter atas pertanyaan Bunda. Jadi tanpa dibilangin dia mengerti apa yang harus dilakukan berdasarkan apa kata dokter waktu itu😀 . Juga waktu diajak kursus pijat bayi, pertanyaannya cukup kritis, kenapa harus begini, kenapa harus begitu🙂 .

Satu lagi yang membuat Ayah dan Bunda begitu salut dengan mbak Euis. Dia begitu besar keinginan untuk bekerja supaya bisa mengumpulkan uang untuk membahagiakan orang tuanya. Supaya kelak bisa mengajak ortunya jalan-jalan karena ortunya yang petani hampir tidak pernah melihat dunia di luar dunia mereka karena sibuk berkutat dengan kehidupannya yang monoton di desa. Juga supaya bisa membelikan kambing buat ayahnya sebagai tabungan. Makanya selama ini gaji nya dipercayakan ke Bunda untuk disimpan. Katanya supaya tidak tergoda membelanjakannya untuk sesuatu yang tidak penting.

Karena dari senin sampai jumat, mbak Euis menjaga Dita selama Ayah dan Bunda ngantor. Maka Sabtu dan Minggu, Bunda memberi waktu kepada Mbak Euis untuk refreshing sejenak dengan mengijinkan jalan-jalan bersama ART tetangga. Atau menginap di rumah tetehnya.

Di saat tetangga-tetangga berkeluh kesah soal ARTnya. Alhamdulillah, sampai sekarang belum ada (semoga tidak ada) hal-hal yang mengganggu hubungan Ayah Bunda dengan Mbak Euis.

Ini tips Bunda (berdasarkan pengalaman) :

  • Beri gaji ART dengan layak plus uang saku (beli pulsa, jajan). Negoisasikan gaji dari awal dan apa-apa yang akan dia terima selain gaji. Ini penting karena berdasarkan informasi, banyak ART tetangga yang tidak tahu berapa gaji mereka sehingga pas gajian mereka kecewa karena gaji nya tidak sesuai yang diharapkan, akhirnya minta resign.
  • Setting mindset kita bahwa ART adalah membantu pekerjaan kita, bukan menggantikan pekerjaan kita.
  • Anggap ART sebagai anggota keluarga. Apa yang kita makan, dia juga makan.
  • Beri kebebebasan yang bertanggung jawab, seperti : Boleh telpon2 an, boleh tidur saat anak tidur, boleh nonton tv, boleh ngobrol sama ART tetangga TAPI tidak boleh melalaikan kewajiban utama yaitu menjaga anak dengan meyakinkan anak dalam kedaaan baik. Kalau rumah berantakan mah gak usah dipikirin.
  • Tahan emosi jika ART melakukan kesalahan yang tidak begitu prinsipil. Tegur dengan cara yang halus.
  • Berikan hari libur untuk melepaskan sejenak kepenatan dia setelah bekerja untuk kita.
  • Review gaji nya berdasarkan kinerjanya.

Ya…berdasarkan pengalaman dari temen-temen kantor yang sudah berkutat lama dengan per-ART-an, ART yang diperlakukan baik saja ada saja yang minta berhenti karena gak betah, apalagi yang diperlakukan dengan tidak baik.

Sekarang tinggal berdoa, semoga mbak Euis betah untuk bekerja di rumah kami. Jika minta berhenti pun bukan karena alasan gak betah tapi karena alasan yang membahagiakan, misalnya dia akan membangun sebuah keluarga🙂 .

Thanks mbak Euis telah membantu Ayah Bunda menjaga Dita selama ini…

13 Responses to “Euis”

  1. wah..beruntung banget ya? bunda dita dapet ART yang Smart,care,and hight motivation..mau dong satu!! buat dede bayinya (anakku).memang cari ART sangat susah,lebih mudah cari Caleg
    Tapi memang ART juga mungkin penginnya jadi ART yang keluarganya baik dan pengertian

    ,bukan yang jahat ,moga betah deh,apalagi masih muda,bisa diajak ke mall,atau tamasya. Ada yang pengin gaji besar,padahal kerjanya belum tentu bagus,baiknya sih standart dulu gajinya,setelah kerjanya bagus baru dinaikin gajinya

    yach masing-masing standart, gaji di daerah lain dengan di kota besar.tapi thanks buat tipnya..moga dedek dita tetap happy.

    salam

    Bundanya Dita :
    Kembali kasih pandawa lima. Moga2 nanti dedeknya segera dapat ART yang OK juga🙂

  2. sanggita said

    Salut dengan kehebatan mbak mengelola rumah tangga. Terimakasih banget untuk tipsnya. Jadi merasa diingatkan.
    Cukup banyak keluarga yang pengelolaan ARTnya kurang bijak. Saya sendiri suka sedih melihat nasib para ART yang tidak dimanusiakan (memberi jatah libur atau peningkatan gaji secara berkala seperti yang mbak bilang).
    Selain sosialisasi via teladan dalam mengelola ART seperti postingan ini, sepertinya juga perlu adanya peningkatan wawasan bagi ART itu sendiri supaya tidak mudah “dibodohi”.
    Mbak beruntung banget lho mendapat ART se-proaktif mbak Euis. Diapresiasi dengan nulis di blog lagi.
    Once again, two thumbs up deh!

    Bundanya Dita :
    Iya mbak, kalau ART gak betah karena perlakuan kita yang gak baik yang rugi juga kita mbak. Saya gak kebayang kalau tiba2 ART berhenti mendadak (ART tetangga ada yang kabur), anak dirumah mau dititipin ke siapa selama kerja? Ortu dan mertua udah sepuh, kasihan. Kerabat di jakarta juga punya kesibukan sendiri. Jadi ya harus ngeman sama ART🙂

  3. […] saya pernah menulis tentang Teh Euis. Disana saya menceritakan betapa beruntungnya saya mendapat partner seperti Teh Euis untuk menjaga […]

  4. […] by Bundanya Dita on September 14, 2009 Dulu Bunda pernah cerita mengenai ART yang pertama yaitu Teh Euis. Bagimana Bunda sangat terbantu dengan hadirnya Teh Euis. Malah Bunda belajar banyak dari dia. […]

  5. […] by Bundanya Dita on February 6, 2010 Teh Euis, ART yang dulu menjaga Dita dari Dita umur 1 bulan sampai 9 bulan, kini telah memiliki anak yang […]

  6. […] baju, salah satunya baju bergambar Upin-Ipin yang langsung dipakai Dita. Trus kado juga datang dari Teh Euis, ART sebelum teh Dela berupa jilbab lucu, Dita juga langsung minta dipakai-in. Kado dari Ayah […]

  7. […] teh Euis selalu bilang “Gak papa Bu, setelah ibu pergi, adik juga berhenti nangisnya kok”. Bunda […]

  8. […] kerja jangan mendadak dan kalau bisa Bunda minta usahakan cari penggantinya dulu. Seperti dulu teh Euis yang resign karena menikah, mengajak teh Dela buat menggantikannya, sampai ditraining dulu cara […]

  9. […] Dita sudah besar, kami tidak sepanik seperti dulu waktu teh Euis (ART pertama) mau resign karena menikah. Nyantai saja. Selama tidak ada ART itu berulang kali Dita […]

  10. […] dengan menghubungi siapa saja. Bunda kontak dengan teh Dela, siapa tahu adiknya mau. Bunda hubungi teh Euis, ART pertama Bunda, siapa tahu punya temen yang mau kerja. Bunda cerita ke temen kantor, siapa tahu […]

  11. […] ke rumah Iwan. Waktu itu Ayah dan Bunda pusing juga, siapa yang jagain Dita. Akhirnya Bunda inget teh Euis (ART 1, sebelum teh Dea). Bunda hubungi, ternyata karena hamil tua, teh Euis gak kerja. Tapi saat […]

  12. […] kemampuannya gak diragukan lagi kan ya.  Alhamdulillah, ART yang pernah bekerja di rumah dari teh Euis, teh Dela…sekarang mbak Atik, semuanya jago masak. Enaknya jadi Bunda . Tapi passion Bunda […]

  13. […] pernah punya 3 ART, yang semuanya pinter masak, malah bisa dikatakan cenderung hobi masak. Dari teh Euis (9 bulan), Teh Dela (3.5 tahun) dan sekarang mbak Atik (baru 1th-an), semuanya demen banget […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: