Lumongga Anandita

Diary digital bundaku mengenai aku….

Cerita Mudik Lebaran 2009 #1 : Perjalanan Bekasi-Padang Sidempuan

Posted by BunDit on October 1, 2009

Setelah merubah rencana mudik yang awalnya ke Jogja kemudian diputuskan ke kampung Ayahnya Dita di Padangsidempuan, Bunda langsung membuat list kebutuhan Dita, Bunda dan Ayahnya Dita yang perlu di bawa. Yang selalu terpikir oleh Bunda adalah makanan Dita selama perjalanan dan selama di tepat tujuan. Naik pesawat 1.5 jam dilanjut perjalanan darat 8 jam dan di rumah mertua hampir 10 hari merupakan momen yang belum pernah Bunda alami, terutama berkaitan dengan penyediaan makan untuk Dita.

Sebagai gambaran, begini persiapan MPASI buat Dita untuk perjalanan pergi mudik :

#Karena dari rumah siang hari, kemudian perjalanan dengan pesawat sampai di Pekanbaru sore, maka Bunda bawa bekal nasi+soup ayam sayuran untuk 2x makan. Pertama makan siang sesampai di Bandara Soekarno Hatta, kedua makan sore sesampai di Pekanbaru (karena masaknya siang, sampai sore pun makanan belum basi).

#Untuk selama di PSP, Bunda membawa bekal tepung gasol (beras merah, kacang hijau, pisang) dan outmeal, serta membawa brokoli dan wortel untuk jaga-jaga sesampainya di sana belum sempat belanja.

Ok, Bunda mulai deh cerita perjalanan Bekasi-Padangsidempuan secara urut waktu, biar runtut, lengkap dan mudah berceritanya :-)

Selasa, 15 September 2009

Setelah packing siap, jam 12.00 kami melucur dari rumah di Bekasi ke Bandar Udara Soekarno Hatta dengan taksi. Sampai Bandara sekitar jam 14.00 kurang lah. Langsung check in. Tas yang berisi perlengkapan baju dan makan Dita saja yang kami bawa ke kabin. Trus menju ke ruang tunggu A1, menunggu pemberangkatan pesawat Lion Air jam 16.15. Lumayan lama juga nunggunya.

Selama di sana, Bunda nyuapin Dita untuk makan siang dan setelah itu Dita kerjaannya jalaaaaan mulu. Mungkin baru bisa jalan seminggu sebelumnya, jadi lagi seneng2 nya mengexplore kemampuan barunya itu. Lagian di ruang tunggu Bandara kan ruangannya lega, Dita kelihatan happy banget, kagak ada capeknya. Ayah dan Bunda yang ngikutin yang capek :D .

Dan ternyata, pesawatnya delay sekitar 1 jam. Sudah delay eh, boarding nya kudu pindah ke ruang tunggu A5 lagi. Dita yang lagi bobok, pas Bunda gendong jadinya terbangun. Untung delaynya cuma 1 jam, kalau lebih takutnya gak ngejar buat naik bus jam 20.30 dari Pekanbaru.

Jam 17.30 an akhirnya pesawat take off. Dita yang habis bangun tidur, langsung on. Mau take off agak berontak saat dipangku Bunda dan dipakein extention seat belt. Mungkin tempatnya sempit jadi dia gak nyaman. Tapi pas take off Bunda berusaha nenenin dan menutup telinga Dita dengan kapas. Alhamdulillah, selama perjalanan gak rewel, malah kalau kapas di telinganya jatuh, dia berusaha pasang sendiri. Jadi lucu deh :-)

Sekitar jam 19.00 pesawat landing di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Selama nunggu Ayahnya mengambil tas dari bagasi, Dita kerjaannya juga jalaaaan mulu. Pokoknya ini anak lagi seneng-senengnya jalan deh. Setelah barang bawaan lengkap, cari taksi ke pool bis. Saat di ruang tunggu Bandar Udara Soekarno Hatta, Ayahnya Dita dapat kenalan orang Padang Sidempuan juga, jadi naik taksinya share deh. Dan taksi di Pekanbaru seperti taksi di Jogja, tanpa argo!

Jam 19.30 sampai ke pool bus Sampagul. Bunda bayangin, poolnya bagus lah. Ternyata kayak warung gitu, agak kumuh. Pas mau ke toilet pun, toiletnya menggenang, gak ada lampu dan pintunya gak bisa ditutup. Agak bete juga karena saat itu pas lagi dapet. Untung di sebelahnya persis ada warung makan Padang yang cukup bersih, akhirnya mengelap Dita, mengganti diaper dan mengganti baju Dita di sana. Ayah dan Bunda pun bebersih diri di sana, sambil menunggu temen Ayahnya Dita yang stay di Pekanbaru yang sudah membelikan tiket bus.

Soal tiket bus ini Ayah dan Bunda emang harus bilang “Thanks to Facebook” :-) . Masalahnya beberapa bulan terakhir Ayahnya Dita aktif berinteraksi dengan mantan temen semasa SMP dan SMA di Padang Sidempuan. Nah sebenarnya temen Ayahnya Dita yang Pekanbaru gak punya account FB, tapi Ayahnya Dita diberitahu no HP nya oleh temen Ayahnya Dita yang lain yang ketemu di FB. Gak terbayang kalau tiket gak dibeli jauh-jauh hari di saat LEbaran begini, ditanggung pasti gak dapat. Mas-mas yang barengan naik taksi dari bandara aja gak dapat tiket, akhirnya ya harus cari2 mobil kecil, kalau gak dapat juga bisa jadi pakai acara nginap di Pekanbaru. Ah, gak terbayang deh kalau kami mengalaminya sambil bawa anak begini. Untuk harga tiket bis nya pun, karena lebaran, dari 90rb jadi 150rb. Ya maklum lah.

Di area pool Bunda menyempatkan diri menyuapi Dita yang agak ogah makan. Maunya jalaan mulu. Padahal lokasi pool lantainya kotor dan penuh dengan sampah. Dita menjumput apa saja yang ada, ya gelas plastik bekas air minum lah, plastik bekas pembungkus biskuit lah. Trus tangannya masuk mulut. Anak Bunda ini memang lagi seneng memasukkan semua barang ke mulut. Kalau di larang, malah makin menjadi. Ya namanya juga masih anak-anak :-)

Setelah Ayah dan Bunda mengisi perut di RM Padang itu, sekitar jam 21.00 bus Sampagul siap berangkat. Ternyata oh ternyataaa… bus nya gak pakai AC. Bunda gak pakai nanya Ayahnya Dita sebelumnya juga sih. Pas mau berangkat, baju Dita ketumpahan air minum yang dimainin sampai basah kuyup. Akhirnya di bis yang super sempit itu Bunda nggosokin minyak telon ke seluruh badan Dita, nggantiin diaper dan baju Dita plus kaos kaki lagi.

Alhamdulillah, karena tahu perjalanan darat dengan bis ini cukup lama. Bunda tidak lupa membawa bantal panjang dan bantal kepala serta kain. Karena jam nya memang waktu jam tidur Dita, saat ban bis menggelinding Dita langsung minta bobok. Bantal panjang untuk alas tidur dipasanglah ke pangkuan Ayah Bunda. Dan Dita tidur dengan selimut di seluruh badannya. Pokoknya brukut lah.

Di jalan sempat hujan. Dan ini yang buat Bunda agak stress, karena bisnya gak AC, jendela kaca gak bisa rapet ditutup, mungkin sudah dol karena sering dibuka2. JAdinya ada sedikit air yang sempet masuk. Aduuuh Bunda merasa sengsara deh. Trus di sepanjang jalan, bisnya masih mengangkut penumpang untuk ditempatkan di dalam bus dengan istilah bangku tempel. Yaitu disediakan bangku plastik di sepanjang aisle bus. Kebayang gak sih, perjalanan jauh di bus tanpa bersandar? Bunda kasihan saja sama mereka. Tapi ya gak ada pilihan bus sih, apalagi pas lebaran, jadi ya apa mau dikata. Kalau bus dari Medan katanya lebih bagus, namun jalan Medan-Padang Sidempuan jalannya banyak yang rusak, makanya orang Padang Sidempuan kebanyakan memilih lewat Pekanbaru. Seharusnya ada yang mikirin nih, transportasi yang lebih nyaman ya, hehehe ujung-unjungnya curhat :D

Rabu, 16 September 2009

Selama perjalanan, Dita tiduuur mulu. Cuma ya karena spacenya sempit sempet merasa nggak nyaman saja. Yang biasanya bisa gulang guling di kasur, sekarang tidur di pangkuan Ayah Bundanya. Bis berhenti sekali di daerah Sosa (perbatasan Riau dan Sumatera Utara) sekitar jam 3 dinihari, untuk memberi kesempatan penumpangnya makan sahur dan buang hajat. Di tempat pemberhentian itu pun, fasilitas toiletnya sangat memprihatinkan. Bunda sempat hoek-hoek menahan bau yang sangat tak sedap. Untung gak sampai keluar isi perut.

Dalam perjalanan ini, Ayah Dita sempat menunjukkan rumah nenek (ibunya mama mertua) di Sibuhuan yang kebetulan berada di pinggir jalan. Dari daerah inilah mama Ayahnya Dita berasal.

Alhamdulillah, setelah melewati perjalanan panjang yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di pool bis Sampagul di Padang Sidempuan sekitar pukul 08.00. Jadi total perjalanan darat 11 jam! . Kami dijemput Uda Andi, Udanya Dita ( adiknya Ayahnya Dita), dan beriringan naik Becak Vespa ke rumah Opungnya Dita :-)

Awal perjalanan memang cukup banyak ketidaknyamanan, tapi meski masih ada cerita menyedihkan disana, tetap ada keceriaan damainya berkumpul dengan keluarga saat lebaran :-) .Pelajaran buat Bunda, tidak semua keadaan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Yang penting bagaimana menghadapi keadaan yang mau tidak mau harus dihadapi. Jadi apapun keadaannya, try to enjoy it! :-)

PS. Maaf gak ada foto nih. Bunda cuma sempat merekam Dita jalan-jalan saat di Bandar Udara. Itupun belum diupload ke Youtube nih.

to be continued….

About these ads

13 Responses to “Cerita Mudik Lebaran 2009 #1 : Perjalanan Bekasi-Padang Sidempuan”

  1. Laily said

    Nah ini headline yang ditunggu…

    Seru juga..

    Tapi,,pascagempa, gimana kondisi keluarga di sana Bundit?

    BunDit :
    Alhamdulillah, walau gempa terasa sampai PSP, tapi keadaan keluarga dan rumah di sana aman. Semoga gak ada gempa2 lagi ya, eh tp namanya juga fenomena alam ya, sulit dihindari :-)

  2. Motik said

    Bund..perjalanannya panjang.. Aku sambil ikut ngrasain kalo jadi bundit, riweuh ya bund, mana pool dan pemberhentian bus keadaannya memprihatinkan. Aku juga pasti bakalan hoek kalo ke kamar mandi kaya gitu. Soalnya pernah kejadian waktu mudik ke yogya, salah pilih tempat pemberhentian. Berhubung udh kepepet ya udah nggak cari tempat lain lagi.

    Ditunggu kelanjutan ceritanya bund.. Jangan lupa foto2nya. Btw FBnya bundit apa sih.. :)

    BunDit :
    Ya sebagai pengalaman yang seru aja. Ayahnya Dita bilang cerita saya terlalu detil, ya kan biar seru aja nanti oneday Dita membacanya kan. Biar tergambar jelas gimana pertama kali mudik ke kampung Ayahnya :-)

  3. zee said

    Wah Bun, bener kata mama kyara, perjalanannya panjang sekali.
    Aku kmrn jg persiapan bekal utk vaya dibawa jg yg gampang2 kayak sup ayam sayuran hehee…
    Jadi taxi tanpa argo itu gimana bun? Tawar menawar dong ya, wah kayak naik bajaj aja tawar menawar.
    Bener sih bun, tdk semua bisa berjalan seperti yg kita harapkan, contohnya ya bus yg gak AC. Ya mau jengkel juga percuma kan ya, krn hrs sambil pegang anak lg, jd ya dinikmatin saja… mudah2an next trip bisa lebih OK… :)

    BunDit :
    Iya mbak, tawar menawar. Mungkin karena dekat jadi ya tanpa argo. Nanti di akhir cerita akan saya tulis deh impian saya untuk next trip hehehe :-)

  4. Waw, klo aku disituasi perjalanan kya gt, bisa dipastikan udh menekuk muka, hehe.. Btw, minal aidin wal faidzin ya bundit..

    BunDit :
    Yaa… anggap aja dinamika mudik mbak. Minal aizin wal faidzin juga ya Mom. :-)

  5. yetty said

    akhirnya..di aplot jg bun..thx yaa..aku mbayangin kok ya agak riweuh ya?untung aja semua nya lancar ya Bun…

    BunDit :
    Alhamdulillah mbak. Namanya juga dinamika mudik lebaran ;-)

  6. assalamualaikum wr.wb. Horas..
    salam Hormat bun… saya terharu sekali setelah baca ceritanya. apa kesanya Bunda setelah meihat kota Padangidimpuankapan ?oh ya,kapan rencananya ke sidimpun lagi bun ? klw boleh tau dimana alamat family nya bunda tu ?

    Ibenk Pujakesuma
    Jl. Sudirman, Kelurahan Timbangan, Padangsidimpuan Utara.
    Kota Padangasidimpuan.

    BunDit :
    Wa’alaikumsalam Mas Ibenk. Hmm…kesan ttg PSP? Kotanya sejuk. Jauh dari hiruk pikuk seperti di Jakarta , hehehe ya iya laah :D . Kalau rencana ke sana lagi, Insya Allah 3-4 th kayaknya. Setelah anak udh agak gedean. Kalau rumah mertua di sana di Jl. Tano Bato, Kelurahan Tano Bato. Btw, mas ibenk asli dari PSP atau org Jawa tapi lahir disana sesuai dengan namanya pujakesuma (putra jawa kelahiran sumatera) ;-)

    PS. Blog nya kok gak ada isinya?

  7. [...] gaung takbir di rumah Bekasi. Terakhir lebaran tahun 2009, kami bertiga menghabiskan waktu di Padangsidempuan, kampung halaman Ayahnya [...]

  8. [...] by Bundanya Dita on September 22, 2010 Seperti cerita mudik 2009 Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 dan Part 5 ke kampung halaman Ayahnya Dita di Padangsidempuan, cerita mudik [...]

  9. Hi bunda dita, aku buka arsip lama bunda soal perjalanan dita ke PSP, karena mudik ngajak kinan pulang ke jawa kemarin banyak banget cobaan…apa ya emang begitu…sering tidak sesuai dengan apa yang direncanakan…:) tapi overall emang membahagiakan bisa bertemu keluarga yang lama tak bersua..

    Kalau cobaannya anak rewel, nemplok kita terus, menurut saya masih wajar. Dita dulu waktu mudik ke PSP ya maunya sama sayaaa mulu, sampai mau ke pipis aja penginnya ikut. Ya kadang bisa enjoy dengan sepupunya. Ya namanya masih anak2 mam :-)

  10. [...] HP lama Bunda Sony Ericsson K530i, yang Bunda beli sekitar th 2008, sempat kena air waktu mudik lebaran ke Padangsidempuan th 2009 lalu. HP nya masih bisa digunakan sih, tapi kalau ditelpon, yang nelpon suka ngomel-ngomel karena [...]

  11. [...] : 2010, 2011,2012. Mudik ke Padangsidempuan, SumUt, kampung halaman AyDit, baru sekali yaitu tahun 2009. Tahun depan pengin banget mudik ke Sumatera lagi. Tapi lihat nanti saja [...]

  12. [...] Bunda akan upload video Dita waktu di ruang tunggu airport saat akan terbang ke Pekanbaru dalam rangka mudik lebaran 2009 ke kampung halaman Ayah, Padangsidempuan. Berangkatnya 4 hari setelah Dita bisa jalan sendiri. Jadi Dita lagi seneng-senengnya jalan, semua di kiterin [...]

  13. […] perlu bersusah payah naik pesawat ke Pekanbaru kemudian nyambung bus/mobil sampai 10 jam seperti mudik kami yang pertama tahun 2009 dulu. Uffff kebayang capeknya. Maklum, Padang Sidempuan itu letaknya di tengah. Jadi sebelum ada direct […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 198 other followers

%d bloggers like this: